Setelah itu dilanjutkan makan2 sambil beberapa ditembak langsung untuk sumbang suara diiringi solo organ. Setelah itu selsai deh. Mungkin gw aja kali ya yg beyond expectation. Komentar gw cuma 1: "Udah gitu aja? Terus?" hehehehe.....
Hanya sekedar catatan-catatan, pikiran-pikiran yang mengalir secara random, refleksi hidup, dan ide-ide yang sayang untuk hanya dimarjinalkan di dalam kepala.
Friday, July 15, 2011
Perayaan yang Minimalis
Setelah itu dilanjutkan makan2 sambil beberapa ditembak langsung untuk sumbang suara diiringi solo organ. Setelah itu selsai deh. Mungkin gw aja kali ya yg beyond expectation. Komentar gw cuma 1: "Udah gitu aja? Terus?" hehehehe.....
Friday, July 8, 2011
Nyoba ngeblog pake android
Tuesday, June 21, 2011
Jomblo-Jomblo Tersisa
Sunday, June 12, 2011
Conference Alerts
Tuesday, June 7, 2011
Tujuan dan Pencapaian
Well, saat itu gue cuma terdiam, hmmm...menjadi hanya terdiam saja bisa jadi karena gue dan dia sebetulnya sedang tidak dalam frekuensi dan persepsi yang sama. Mungkin saja apa yang sudah gue miliki dan raih saat ini adalah sebuah pencapaian, tapi dari sisi pikiran gue itu bukan pencapaian, tapi hanya sejengkal, selangkah atau sepelemparan tombak dari proses menuju sebuah pencapaian.
Simple-nya, layaknya sedang mengikuti kompetisi lari marathon. Ketika seorang pelari melewati garis putih menurut para penonton yang tidak tahu aturan kompetisi mengira itu adalah sebuah garis finish, which means saatnya pelari bisa berhenti. Namun sebetulnya garis putih tersebut hanyalah sebuah penanda bahwa estafet pertama sudah berhasil terlewati, dan ternyata masih ada 2, 3, 4, hingga beberapa estafet ke depan yang masih belum terlewati.
Jadi, tujuan, pencapaian dan titik akhir adalah persoalan persepsi. Beda persepsi, ya tentunya beda juga bagaimana cara memandang sebuah pencapaian.
Saturday, January 9, 2010
Apa Kita Kembali Seperti Zaman Orde Baru?
"Dengan buku, kau boleh memenjarakanku di mana saja.Karena dengan buku, aku bebas!"
Tuesday, January 5, 2010
Peneliti VS Politisi
Omong-omong soal politisi, siaran Live sidang-sidang di DPR secara nggak langsung makin ketauan deh kualitas para politisi di Senayan itu. Ngomong ini-itu yang kadang nggak nyambung, atau berapi-api dengan semangat 45 tapi tanpa esensi. Dulu mungkin orang-orang tau dari berita atau kabar dari mulut ke mulut betapa kadang nggak mutunya para wakil rakyat di Senayan. Ngomong kok suka ngawur????
Beberapa obrolan dengan kawan, pekerjaan sebagai peneliti ternyata berbanding terbalik dengan politisi, mengapa?
Peneliti:
Kalo peneliti, tidak masalah jika hasil penelitiannya, kajiannya, atau analisisnya untuk mengungkapkan atau memprediksi suatu keadaan ternyata salah. Selama mengikuti kaidah akademis dan runtut metode penelitian dengan baik, di ilmu sosial seperti ilmu ekonomi membenarkan kita untuk memiliki kesalahan, bahkan hingga 10 persen, yang berarti kita menggunakan tingkat kepercayaan sebesar 90 persen. Asalkan, kita tidak berbohong!
Politisi:
Kalo politisi, mana mungkin mau terlihat salah, bahkan dalam berbagai situasi harus mampu menampilkan diri sebagai pihak yang benar. Tetapi tentu saja, boleh berbohong! Mungkin secara statistik tingkat kesalahan dari statement yang dilontarkan bisa mencapai 90 persen, dan tingkat kepercayaannya bisa jadi hanya 10 persen.
Kasian yah Indonesia, setiap Pemilu terbuai dengan janji-janji, lalu kecewa, eh ketemu Pemilu lagi malah terbuai lagi....yah selanjutnya nggak lain dan nggak bukan kalo lagi-lagi KECEWA....
Jadi mau percaya siapa?
Resolusi 2010..Hmmm..Apa ya?
Well, kalo tahun baru gini biasanya orang membuat resolusi sebagai target hidup yang akan dipenuhi, sekaligus merefleksikan kembali resolusi tahun sebelumnya apakah tercapai atau nggak.
Kalo gue kayaknya cenderung orang yang nggak pernah membuat resolusi, mungkin tipe yang membiarkan hidup ini mengalir begitu saja..Hmm, ngga bagus sih kayaknya, jadi hidup pasti tidak terencana dengan baik. Atau mungkin gue orangnya membuat target tanpa harus membuat resolusi, toh secara nggak sadar sudah terpatri secara otomatis mengenai bagaimana target hidup gue selanjutnya.
Daripada gue pusing-pusing mikirin soal resolusi tahun 2010, mending gue cuplik-cuplik aja dari lirik lagu yang kira-kira mewakili soal itu semua. Yang simple-simple aja....
Next Year Baby
by Jamie Cullum
Next Year,
Things are gonna change,
..........
And start all over again
Gonna pull up my socks
Gonna clean my shower
Not gonna live by the clock
But get up at a decent hour
Gonna read more books
Gonna keep up with the news
Gonna learn how to cook
And spend less money on shoes
Pay my bills on time
File my mail away, everyday
..........
..........
Resolutions
Well Baby they come and go
Will I do any of these things?
The answers probably no
But if there's one thing, I must do,
Despite my greatest fears
I'm gonna say to you
How I've felt all of these years
..........
..........
Well, mungkin itu aja..setidaknya ini jadi postingan blog gue pertama di tahun 2010.
Semoga bisa lebih produktif menulis lagi.
Selamat menjalani tahun 2010 ini guys....
Sunday, October 18, 2009
Apalah Artinya Agama, Bila Kehilangan Sisi Humanisme
Nada Minor Lagu Cinta
Wednesday, August 5, 2009
Soal Kereta Api Yang Gak Jelas
Suatu hari dari rumah gue di Bogor pagi-pagi sekitar jam 9an mau berangkat menuju kampus UI di Depok. Hari itu di rumah udah ga ada orang, duit gue di kantong tinggal 3 ribu perak. Bingung banget gimana cara berangkat ke kampus tapi ga ada ongkos. Teringat sama nyokap yang suka naruh duit receh di guci kecil dekat kamar mandi. Korek-korek dikit, akhirnya terkumpul duit cepe-an total 500 perak. Okeh, gue udah punya 3500 perak sekarang, 1500 cukup buat naek angkot ke stasiun, dan 2 ribu-nya buat beli tiket kereta ekonomi. Berencana gue mau ngambil duit di kampus, soalnya di fakultas teknik ada ATM BNI yang pecahan 20ribu, kalo ngga salah saldo duit gue tinggal 40ribu-an gitu. ATM BNI itu adalah ATM surga buat gue, karena gue bisa ambil duit gue sampe polllll...sisa saldo 20 ribu aja bisa gue tarik di ATM itu.
Okeh, sampailah gue di stasiun, beli tiket, dan masuk ke kereta ekonomi berdiri sambil clingak-clinguk nunggu kereta berangkat. Sekitar 15 menit kemudian kereta berangkat, semua berjalan seperti biasanya, kereta ekonomi yang bau, kotor, dan banyak orang jualan serta pengemis2 lalu-lalang itu melaju secara perlahan. Bagi gue, kereta ekonomi adalah pemandangan negeri gue yang sebenarnya, jauh dari centang-perenang kehidupan kota yang gemerlap. Sejumlah penyakit sosial tumplek di situ. Orang miskin, cacat, pengemis, pengamen, pencopet, sampe orang yang punya kelainan seks suka mencari kesempatan dalam kesempitan memuaskan seksual fisiknya dengan menempelkan bagian tubuhnya ke lawan jenis ada semua di situ. Naek kereta ekonomi sama aja kita masuk sejenak ke dalam fenomena masyarakat yang termarjinalisasi secara sosial dan ekonomi. (aih serius amat gue nulisnya)
Beberapa menit kemudian, tak disangka pas kereta melaju diantara bojong-citayam tiba2 berhenti. Gue pikir memang seperti biasa kereta ekonomi suka berhenti2 sesukanya, kadang tanpa pemberitahuan pula kenapa itu kereta berhenti, entah apa ada yg kebelet pipis kah, atau ada kerusakan teknis kah, kereta ekonomi bisa berhenti sesuka hatinya berasa penumpang mesti maklum2 aja dengan persoalan itu. Istilah: "Konsumen adalah Raja," hahaha ke laut aja lo, di fasilitas publik kayak begini kagak berlaku.
Tapi berhentinya kereta kali ini seperti lain dari biasanya. Tiba2 orang2 pada keluar, ga seperti biasanya org2 yang tetep di dalam kereta menunggu meskipun kereta berhenti cukuplama. Tiba2 ada yang bilang kalo kereta berentinya bakal lama, bisa 2-3 jam karena ada pemadaman listrik bergilir se-Jawa-Bali. Damn! semua orang pada keluar mutusin lanjut perjalanan dengan naek angkot. Dan gue baru inget kalo gue ga punya duit sama sekali, OMG mana di tengah sawah pula....bagaimana nasib gue ini....
Dalam hati gue, anjrit kalo tau ada pemadaman listrik bergilir kenapa sih ga dikasih tau sebelumnya gitu loh, dan juga kenapa tuh kereta tetep ngotot berangkat. Sial bener dah gue, mana hari itu jam 11 ada acara perkenalan organisasi2 di kampus buat Mahasiswa Baru (Maba). Dan gue mesti ngasih sambutan di acara itu.
Hampir 1 jam nunggu, gue mulai mati gaya. Akhirnya gue coba keliling2 gerbong dari depan sampe belakang, siapa tau ketemu temen senasib yang bisa diajak ngobrol. Sialnya ternyata ga ada satupun yang gue temuin. Bingung gue bener2 tambah mati gaya. Akhirnya gue nongkrong bareng tukang rokok, tukang koran, dan beberapa pengemis di salah satu gerbong. Duduk-duduk sambil dengerin orang2 itu ngobrol ga jelas, trus tidur2an di kursi kereta ekonomi yang keras itu.
Tiba2 hape gue geter, sebenernya gue paling males keluarin hape di kereta, maklumlah gudangnya copet di situ. Gue pindah ke gerbong sebelah yang agak sepi untuk keluarin hape. Pas gue liat yang telvon Barjo, Kadiv Hublu Senat FEUI, gue angkat dan langsung terdengar suara:
Barjo (B) : "Woy bozz, mana lu? Nanti jangan lupa acara jam 11 ya!"
Gue (G) : "Man gue masih di kereta nih, kejebak gue keretanya mogok"
B : "Memang posisi lo di mana?"
G : "Keretanya lagi ada di tengah sawah nih, pokoknya ga jelas gitu"
B : "Yaudah lo turun naek angkot aja!"
G : "Man, kalo gue ada duit sih gue dah naek angkot dari tadi, masalahnya gue ga ada duit sama sekali, 100 perak pun gue ga ada"
B : "Yaudah lo naek taksi aja nanti kalo dah nyampe kampus kita yang talangin dulu"
G : "Woy lo jangan over ekspektasi deh, di sini angkot lewat aja dah syukur, jangan ngarep bisa ada taksi lewat sini"
B : "Wuahahahaha...Yowes lah kita tunggu aja di sini, lo pikirin aja gimana caranya sampe sini"
G : "Okey2, lo tungguin gw aja, siapa tau keretanya bentar lagi jalan, nanti kalo ternyata gue blom datang2 juga, lo wakilin aje ye"
B : "Sipp bozz"
Okey, kembali lagi idup gue nelangsa di dalam gerbong kereta yang ga jelas kapan jalannya. Dah hampir 2 jam gue nunggu sampe abis 1 buku gue selesai baca (kebetulan bukunya tipis sih :)), dan akhirnya kereta jalan juga. Oh God Thanks! Selama kereta melaju, gue ga berhenti2nya sesekali melihat jam, panik takut ga sempat nyampe kampus jam 11. Bener aja, kereta akhirnya nyampe stasiun UI jam setengah 12. Begitu kereta berhenti, gue langsung buru2 turun. Udah ga kepikir naek ojek (karena ga ada duit), atau nunggu bis kuning yang jam segitu supirnya suka datang semaunya, biasanya masih pada asik ngopi2 sama maen gaple di pool depan asrama. Yaudah gue jalan cepet (kayaknya lebih keliatan lari sih) menembus jalan depan FISIP UI sampe menyusuri jalan ke FEUI. Dengan masih ngos2an dan keringetan akhirnya gue sampe juga di kampus, dan langsung menuju Auditorium. Dan bagus banget, pas gue nyampe pas acaranya udah selesai. Wuidihhhh gondok bener. Gara2 kereta sialan dan kebodohan gue yang ga bawa duit sama sekali. Akhirnya sia2 juga perjuangan menuju kampus, acara selesai tanpa gue kagak sempet nongol di acara itu (Ketua macam apa lo far????).
Mungkin itu kejadian sekitar 4 tahun lalu, tapi sekarang gue liat profesionalisme PT KAI belum juga banyak berubah secara signifikan. Pertanyaannya, jadi mau sampe kapan kondisi transportasi di Indonesia kayak begini terus? Helloooo, jangan ngarep deh bangun monorail atau MRT segala. Ngatur kereta api yang masih konvensional sejagad raya ini aja masih belom bener. Malulah kalo begini terus.
Moral story: JANGAN PERNAH PERGI TAPI NGGA BAWA DUIT SEPESER PUN!
Monday, March 30, 2009
Lagi Mabok MSG
Selamat tinggal era kejayaan MOMOGI...
Karena penasaran, akhirnya gue makan semua..huaaaa langsung PUYEEEENG..gara-gara kebanyakan makan MSG alias kena sindrom rumah makan cina (chinese restaurant syndrome). Kata orang-orang kebanyakan makan ginian bikin bego, gue test 1+1 sama dengan berapa gue masih bisa jawab..Hahahaha..belom bego, jadi makan lagi ajahhhhh.....
Lagi Parno Rambut Rontok
Akibat keparnoan itu, akhirnya pergi ke supermarket, datang-datang langsung menuju bagian shampoo sama perawatan rambut. Langsung kalap, segala jenis pengobatan rambut rontok dibaca satu-satu. Akhirnya terbelilah tiga botol Neril paket dari shampoo, conditioner, plus hair tonic. Gue dah gak peduli berapa harganya, yang penting hajar lah. Masukin ke keranjang belanjaan.
Dengan bangga kami persembahkan:
Langsung dah malam itu juga gue mencoba ketiga produk itu. Untuk sementara bisa mengobati keparnoan gue..Oh no, jangan rontok lagi donk.....
Sunday, March 29, 2009
Lagi Anti-Sosial
Tak biasanya gue jadi orang anti-sosial yang malas bergaul. Bukan hanya itu, untuk sekedar say hai, ataupun berbasa-basi membuka pembicaraan pun enggan. Inginnya mencari sebuah pelarian, tapi tak pernah ketemu cara yang tepat. Tempat ini terlalu sepi buat gue, mencoba membiasakan namun kadang menyerah juga. Rasanya tak ada ruang untuk sekedar sharing, ngobrol hal-hal asik, sambil diselingi alunan musik yang akrab dengan telinga. Hufh, bagi gue kadang hari libur tak pernah berhasil menjadi sarana refreshing untuk kembali semangat saat mulai kerja. Alhasil, masuk kerja dengan bawaan diri yang kurang menyenangkan. Gue butuh interupsi hidup yang menyejukkan dari rutinitas yang membuat penat.
Kadang gue ngerasa mulai agak aneh, suka ketawa-tawa sendiri, bergurau dengan alam bawah sadar yang kadang membuat joke untuk diri gue sendiri. Bodohnya, gue suka begitu dengan ada satu-dua orang yang ngeliat dan menyadari keanehan gue ini. Membuat mereka bertanya-tanya, “Kenapa loe?” Gue Cuma bisa jawab: “Yah begitulah, gue lagi asik sama pikiran gue sendiri.”
Berusaha untuk membunuh waktu yang membosankan ini, tapi kayaknya terjadi sebaliknya, waktu ini malah perlahan-lahan seperti mencoba membunuh gue dengan kebosanan ini. Rasa sepi ini adalah hal yang berbahaya buat gue. Bikin gue suka teringat hal-hal bodoh yang pernah gue lakuin dulu. Kadang seperti menyesali diri, mengutuk-ngutuk diri sendiri kenapa dulu gue ngga berusaha menjalani hidup ini lebih baik lagi. Ya, hidup saat ini adalah konsekuensi dari hidup yang lalu-lalu. Kata orang sih, masih ada waktu buat berubah, tapi tetap aja, masa lalu itu selalu saja membawa pengaruh negatif dalam otak ini. Rasa gak percaya diri, malu, segan, rendah diri, dan hal-hal lain yang buat gue ngerasa nggak eksis di dunia ini (lebayyyy).
Suatu hari orang bilang gue, “Far, loe itu orangnya kok low-profile abis?” Gue cuma tersentak, dan menjawab, “Lha gimana ngga low-profile, emang profile gue udah low kok.” Mungkin apa kadang gue kurang bisa mensyukuri hidup, atau terlalu dibayang-bayangi target hidup. Atau mungkin kelamaan hidup di lingkungan yang kurang bertoleransi dengan kegagalan. Hidup itu seperti tak boleh gagal, layaknya bayi yang tak boleh jatuh saat belajar berjalan. Padahal hidup itu adalah proses. Sayangnya gue seringkali bertemu saja saat-saat di mana seseorang seolah berkepentingan di saat gue gagal, tapi sebelumnya tak pernah berurusan dengan proses yang gue jalani, atau setidaknya menunjukkan jalan mana yang benar dan harus dilalui. Hmm, setidaknya waktu terus berjalan, tak tahu kapan itu berujung, mencoba aja jalani diri sendiri, setidaknya mengoptimalkan diri untuk menemukan jalan itu. Itupun kalo memang terbuka buat gue. Kalo kata orang, berusaha aja dulu, seterusnya gimana nasib. Btw, nasib itu siapa sih? Kok bisa-bisanya nentuin hidup orang?
Tuesday, March 10, 2009
Segala Macam Irasionalitas dan lainnya….
Mungkin irasionalitas kadang begitu relatif. Kasus Ponari dengan batu ajaibnya dengan mengundang sejumlah massa untuk mengantri berobat dan bahkan mengundang korban tewas karena berebutan bagi kita adala sebuah realitas yang ganjil. Tapi ini juga menjadi sebuah indikasi, bahwa banyak sejumlah kalangan, terutama masyarakat tidak mampu, mengharap sebuah pengobatan yang instan dan murah. Akses kesehatan masih belum mampu menjangkau mereka, dan tidak semua rumah sakit memperlakukan dengan baik bagi mereka yang tidak mampu. Kadang kita pun gusar, mengantri di rumah sakit umum, dengan antrian yang panjang, hiruk pikuk yang memusingkan, dan juga pelayanan seadanya. Belum tentu juga mendapat kesembuhan, bahkan terlalu lama mengantri dan campur aduk berbagai orang sakit di ruang yang sama, kadang kita semakin merasa lebih sakit dibanding sebelumnya. Uang yang keluar pun tidak sedikit.
Pengobatan alternatif ini, dengan segala macam pembenarannya, bisa jadi adalah sebuah pelarian. Pelarian dari segala frustasi dari usaha menyembuhkan penyakit. Kalangan medis seharusnya juga tergerak hatinya melihat fenomena ini. Betapa upaya medis yang ada masih belum mendapat tempat dalam ruang pikiran masyarakat untuk mendapatkan kesembuhan. Bagi sebagian masyarakat, pengobatan alternatif adalah jawaban, sedangkan sebagian lainnya tetap memandang sebuah irasionalitas. Siklus ini akan berlangsung terus-menerus.
Irasionalitas bisa jadi terjadi juga pada dunia ini, dunia maya. Mungkin sebagian orang akan memandang irasional bagi orang-orang yang asik masyuk menghabiskan waktu di depan laptop, atau senyum-senyum sendiri sambil memandangi Blackberry-nya. Sekedar chatting, fesbuking, membalas-balas email, atau seperti blogging ini. Sebagian orang akan memandang, bagaimana orang bisa larut akan sebuah dunia virtual, dan terkadang melupakan untuk menyelami dunia non-virtual yang lebih nyata. Di sini sudut pandang irasionalitas pun terjadi. Bisa rasional, bisa tidak….
Pada akhirnya, rasional atau tidak, seperti layaknya kondisi pemilahan suka atau tidak suka, kejadian sukses (p) atau tidak sukses (q). Jadi selalu ada deviasinya, seperti standar deviasi adalah akar p dikali q…kok jadi ngomongin statistik….He3….Malah ikutan mulai gak rasional nih gue....
