Showing posts with label Diary. Show all posts
Showing posts with label Diary. Show all posts

Friday, July 8, 2011

Nyoba ngeblog pake android

Ini nyoba ngeblog pake blogger-droid. Ngetiknya lumayan ribet ya. Tapi oke juga buat mengabadikan hal2 menarik melalui blog bs kapan aja. Ga mesti ribet2 buka laptop. Yukkkk mariiii....
Published with Blogger-droid v1.7.2

Tuesday, June 7, 2011

Tujuan dan Pencapaian

Orang punya beragam cara untuk menentukan tujuan hidupnya. Ada yang mengucapkan resolusi tahunan, melihat pencapaian diri pada setiap tahunnya. Ada yang menuliskannya dalam proposal hidup, membuat suatu list mengenai apa yang dicapai sepanjang hidupnya. Tapi ada yang sedikit menyentak pikirian gue, pertanyaan seorang teman saat itu, "Apa pencapaian hidup yang udah elu wujudkan Gaf?"

Well, saat itu gue cuma terdiam, hmmm...menjadi hanya terdiam saja bisa jadi karena gue dan dia sebetulnya sedang tidak dalam frekuensi dan persepsi yang sama. Mungkin saja apa yang sudah gue miliki dan raih saat ini adalah sebuah pencapaian, tapi dari sisi pikiran gue itu bukan pencapaian, tapi hanya sejengkal, selangkah atau sepelemparan tombak dari proses menuju sebuah pencapaian.

Simple-nya, layaknya sedang mengikuti kompetisi lari marathon. Ketika seorang pelari melewati garis putih menurut para penonton yang tidak tahu aturan kompetisi mengira itu adalah sebuah garis finish, which means saatnya pelari bisa berhenti. Namun sebetulnya garis putih tersebut hanyalah sebuah penanda bahwa estafet pertama sudah berhasil terlewati, dan ternyata masih ada 2, 3, 4, hingga beberapa estafet ke depan yang masih belum terlewati.

Jadi, tujuan, pencapaian dan titik akhir adalah persoalan persepsi. Beda persepsi, ya tentunya beda juga bagaimana cara memandang sebuah pencapaian.

Tuesday, January 5, 2010

Resolusi 2010..Hmmm..Apa ya?

Nggak terasa sekarang udah tahun 2010..thanks buat semua yang terjadi di 2009, baik yang manis maupun pahit, segala hal yang tak terduga, segala konspirasi kehidupan ini, segala hal yang seharusnya membuat gue lebih sabar, kuat dan menghadapi segalanya lebih optimis lagi.

Well, kalo tahun baru gini biasanya orang membuat resolusi sebagai target hidup yang akan dipenuhi, sekaligus merefleksikan kembali resolusi tahun sebelumnya apakah tercapai atau nggak.

Kalo gue kayaknya cenderung orang yang nggak pernah membuat resolusi, mungkin tipe yang membiarkan hidup ini mengalir begitu saja..Hmm, ngga bagus sih kayaknya, jadi hidup pasti tidak terencana dengan baik. Atau mungkin gue orangnya membuat target tanpa harus membuat resolusi, toh secara nggak sadar sudah terpatri secara otomatis mengenai bagaimana target hidup gue selanjutnya.

Daripada gue pusing-pusing mikirin soal resolusi tahun 2010, mending gue cuplik-cuplik aja dari lirik lagu yang kira-kira mewakili soal itu semua. Yang simple-simple aja....

Next Year Baby
by Jamie Cullum

Next Year,
Things are gonna change,
..........
And start all over again
Gonna pull up my socks
Gonna clean my shower
Not gonna live by the clock
But get up at a decent hour
Gonna read more books
Gonna keep up with the news
Gonna learn how to cook
And spend less money on shoes

Pay my bills on time
File my mail away, everyday
..........
..........

Resolutions
Well Baby they come and go
Will I do any of these things?
The answers probably no
But if there's one thing, I must do,
Despite my greatest fears
I'm gonna say to you
How I've felt all of these years

..........
..........

Well, mungkin itu aja..setidaknya ini jadi postingan blog gue pertama di tahun 2010.
Semoga bisa lebih produktif menulis lagi.

Selamat menjalani tahun 2010 ini guys....

Sunday, October 18, 2009

Apalah Artinya Agama, Bila Kehilangan Sisi Humanisme

Mungkin ini kejadian yang tak pernah terungkap, dan boleh gue sharing karena cukup mengganggu pikiran gue.

Ini kejadian saat-saat setelah Sumatera Barat diguncang gempa 7,6 skala richter, yang membuat Kota Padang dan Pariaman hancur. Apakah kejadian ini membuat mereka tersadar? Hmmm..kalo gue katakan ngga juga....

Kejadian gempa di Sumbar merupakan kejadian yang cukup hebat menimpa pulau Sumatera setelah bencana Tsunami Aceh beberapa tahun yang lalu. Kalo ditelisik, kedua daerah itu sama-sama men-state bahwa daerahnya mengusung religiusitas yang tinggi, yang satu sebagai Serambi Mekkah, yang satu lagi mengadaptasi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Bencana yang menimpa keduanya bisa jadi jalan Tuhan menguji keimanan penuduk di daerah tersebut, yang dengan sadar mengadaptasi nilai Ketuhanan (baca: Islam) dalam menjalankan kehidupannya.

Namun ada banyak kejadian yang mengganggu benak gue, dan ngga tau apa ini bisa ditangkap rasionalitas gue yang pemahaman agamanya mungkin ngga bagus-bagus amat. Namun sebagai manusia normal gue punya sisi humanis yang secara universal dianut semua umat manusia di dunia. Dan melihat beberapa kejadian, cukup bikin kernyit di dahi gue bertambah rasanya.

Kejadian 1:
Kejadian ini terjadi dalam perbincangan salah satu ketua Satkorlak dan lembaga keagamaan (sebut saja HT) dengan perawakan berjanggut, bercelana ngatung, dan berjidat hitam. Perbincangan terjadi di Gubernuran, yang menjadi media center bencana gempa di Sumbar, posisi gue di situ lagi mencatat sejumlah informasi untuk mensupply para jurnalis CNN yang kebetulan gue menjadi pemandunya.

Orang HT (HT) : Pak, kami datang kemari membawa sejumlah bantuan untuk para korban gempa, kami sekarang butuh tempat tinggal, dan moda transportasi untuk kebutuhan kami.
Kepala Satkorlak (KS) : Oh baik, tapi kami saat ini sedang mengalami keterbatasan, dan kami tidak dapat menyediakan penginapan ataupun kendaraan untuk saat ini.
HT : Bagaimana tidak bisa Pak? Kami di sini datang dengan maksud baik masak kami tidak difasilitasi?
KS : Bapak-Bapak, mohon maaf karena saat ini juga kami mengalami kesulitan, berbagai fasilitas juga ikut hancur, kami tidak bisa memenuhi keinginan Bapak-Bapak.
HT : Lho, bagaimana bisa? Bapak kan pejabat negara, ditugasi negara, bagaimana Bapak tidak bisa menyediakan fasilitas untuk kami tempat tinggal dan kendaraan?
KS : Bapak-Bapak, kalau memang ada, tentu akan kami sediakan, sekarang memang kondisinya tidak ada, dan kami pun sekarang juga mengalami kesulitan.
HT : (Dengan nada marah) Bapak itu digaji oleh negara! Sudah semestinya Bapak membantu kami!
KS : (Dengan masih berusaha sabar) Bapak-Bapak, kalau melihat tim lain, baik dari Swiss, Amerika, Australia, negara-negara lain, bahkan lembaga lain, mereka berusaha memenuhi kebutuhan tempat tinggal dan kendaraannya secara mandiri. Mereka mau membantu kami tanpa juga harus memberatkan kami di sini.
HT : Saya tidak mengerti dengan Bapak. Saat kami membantu bencana gempa di Jogja, kami difasilitasi penuh oleh pemerintah daerahnya. Kalo ini apa?
KS : Bapak-Bapak, apakah pernah mengalami gempa? Bencana seperti ini?
HT : Iya, kami pernah! Waktu tsunami di Aceh! (dengan nada kesal)
KS : Lha, kalau sudah mengalaminya, kenapa sikap Bapak-Bapak seperti ini?
HT : (Terdiam, dan tak berlangsung lagi bantahannya)

Jujur, pada kondisi itu semua juga sedang mengalami kesulitan, tidak hanya korban, namun juga para volunteer, wartawan, dan sejumlah orang yang datang membantu sama-sama bersusah payah untuk mencari tempat tinggal, supply makanan, listrik, dan kendaraan yang memadai. Gue terus terang mendengar pembicaraan antara HT dan KS itu agak sedikit panas, mungkin kuping gue memerah saat itu. Apalagi mereka menggunakan atribut, rompi, dan pakaian yang mengusung nama agama (Islam Bergerak dan Bersatu). Gue juga Islam, tapi apakah mesti tidak melihat kondisi dan situasi yang ada? Mencoba empati dengan siapapun di daerah bencana itu, meskipun dia pejabat negara atau siapapun....


Kejadian 2:
Kisah dari seorang teman yang tinggal di kontrakan di Kota Padang. Saat kejadian kebetulan berbagai ruko dan fasilitas umum di depan kontrakannya hancur, sebagian jalan terutup, dan mengharuskan para pengendara untuk mengalihkan jalannya ke jalan lain untuk mencapai tujuan. Teman gue iti dengan menggunakan motornya mencoba ke kontrakannya untuk menemui istrinya yang kebetulan tinggal sendirian di kontrakan saat kejadian gempa.

Namun saat menuju gang ke kontrakannya, tiba-tiba jalan tersebut diportal, sehingga dia tak bisa masuk ke jalan menuju kontrakannya. Dia pun terheran-heran, karena tak seperti biasanya jalan itu ditutup, dan dia pun bertanya pada warga yang dia kenal saat itu:

Teman : Ibu, kok jalannya diportal? Biasanya nggak?
Seorang Ibu : Iya soalnya banyak orang jadi lewat sini, takut nanti jalannya rusak.

Suerrrr, ini hal yang gila menurut gue, di saat-saat orang sedang sulit, semua panik, semua mencoba menempuh jalan barangkali menemui keluarganya, sodara-sodaranya, dan melihat rumahnya yang mungkin saja ikut terkena gempa, ini masih saja ada orang-orang yang dengan egois mementingkan dirinya sendiri. Satu kata: EDAN!


Kejadian 3:
Ini juga kisah beberapa teman, dan agak miris mendengarnya.
Ada dua teman gue, satu tinggal di kosan berlantai 4, dan satu lagi tinggal dikontrakan yang sudah dia bayar DP-nya sebesar Rp2 juta. Akibat gempa, kosan teman gue lantai satunya hancur, dan membuat kosannya yang berlantai 4 agak sedikit miring, sedangkan kontrakan teman gue itu bangunan bagian belakang hancur, dan lantainya terbelah, tak mungkin rasanya memaksa tetap tinggal di bangunan yang sudah rapuh itu.

Akhirnya keduanya terpaksa mengungsi di kosan teman gue di belakang kantor yang kondisinya baik-baik saja.
Namun setelah beberapa hari Ibu pemilik kosan itu datang, mungkin perbincangannya seperti ini:
Ibu Kosan : Kayaknya dua orang ini udah terlalu lama menumpang di kosan ini!
Teman : Maaf Ibu, kosan dan kontrakan kami rusak dan tak mungkin ditinggali, kami tak tahu mau tinggal di mana.

Namun sepertinya Ibu Kosan itu tidak mau tahu kondisinya seperti apa, dan akhirnya dua teman gue itu terpaksa angkat kaki dari kosan itu. Hmmm...luar biasa. Apa takut rugi? Apa mesti nambah bayar listrik? Apa mesti nambah bayar air?


Kejadian 4:
Pas kejadian gempa, cari makan sulit, air sulit, listrik padam, Hape beberapa provider tak bisa diandalkan, tapi kok ada yang tega jual nasi goreng sepiring 20 rebu, aqua gelas 2500, bensin oplosan 15 rebu/liter. Okey, kalo dalam ekonomi mengatakan, ketika permintaan tinggi, tapi barang langka, maka harga akan terkerek naik, ini namanya demand-pull inflation. Tapi, mestikah ini terjadi di mana kondisi sedang sulit? Teganya..teganya....

Singkat kata, buat apa dengan bangga mengatasnamakan religiusitas di suatu daerah, membangga-banggakan prinsip agama dalam kehidupan, namun toh tak berbanding lurus dengan rasa kemanusiaan.


Wednesday, August 5, 2009

Soal Kereta Api Yang Gak Jelas

Mungkin postingan ini diilhami oleh kejadian tabrakan antar kereta baru-baru ini (lihat di sini). Namun gue bukan mau komentar tentang gimana kecelakaan itu terjadi, cuma gue pernah menjadi korban betapa ketidakprofesionalannya PT KAI. Berikut ceritanya:

Suatu hari dari rumah gue di Bogor pagi-pagi sekitar jam 9an mau berangkat menuju kampus UI di Depok. Hari itu di rumah udah ga ada orang, duit gue di kantong tinggal 3 ribu perak. Bingung banget gimana cara berangkat ke kampus tapi ga ada ongkos. Teringat sama nyokap yang suka naruh duit receh di guci kecil dekat kamar mandi. Korek-korek dikit, akhirnya terkumpul duit cepe-an total 500 perak. Okeh, gue udah punya 3500 perak sekarang, 1500 cukup buat naek angkot ke stasiun, dan 2 ribu-nya buat beli tiket kereta ekonomi. Berencana gue mau ngambil duit di kampus, soalnya di fakultas teknik ada ATM BNI yang pecahan 20ribu, kalo ngga salah saldo duit gue tinggal 40ribu-an gitu. ATM BNI itu adalah ATM surga buat gue, karena gue bisa ambil duit gue sampe polllll...sisa saldo 20 ribu aja bisa gue tarik di ATM itu.

Okeh, sampailah gue di stasiun, beli tiket, dan masuk ke kereta ekonomi berdiri sambil clingak-clinguk nunggu kereta berangkat. Sekitar 15 menit kemudian kereta berangkat, semua berjalan seperti biasanya, kereta ekonomi yang bau, kotor, dan banyak orang jualan serta pengemis2 lalu-lalang itu melaju secara perlahan. Bagi gue, kereta ekonomi adalah pemandangan negeri gue yang sebenarnya, jauh dari centang-perenang kehidupan kota yang gemerlap. Sejumlah penyakit sosial tumplek di situ. Orang miskin, cacat, pengemis, pengamen, pencopet, sampe orang yang punya kelainan seks suka mencari kesempatan dalam kesempitan memuaskan seksual fisiknya dengan menempelkan bagian tubuhnya ke lawan jenis ada semua di situ. Naek kereta ekonomi sama aja kita masuk sejenak ke dalam fenomena masyarakat yang termarjinalisasi secara sosial dan ekonomi. (aih serius amat gue nulisnya)

Beberapa menit kemudian, tak disangka pas kereta melaju diantara bojong-citayam tiba2 berhenti. Gue pikir memang seperti biasa kereta ekonomi suka berhenti2 sesukanya, kadang tanpa pemberitahuan pula kenapa itu kereta berhenti, entah apa ada yg kebelet pipis kah, atau ada kerusakan teknis kah, kereta ekonomi bisa berhenti sesuka hatinya berasa penumpang mesti maklum2 aja dengan persoalan itu. Istilah: "Konsumen adalah Raja," hahaha ke laut aja lo, di fasilitas publik kayak begini kagak berlaku.

Tapi berhentinya kereta kali ini seperti lain dari biasanya. Tiba2 orang2 pada keluar, ga seperti biasanya org2 yang tetep di dalam kereta menunggu meskipun kereta berhenti cukuplama. Tiba2 ada yang bilang kalo kereta berentinya bakal lama, bisa 2-3 jam karena ada pemadaman listrik bergilir se-Jawa-Bali. Damn! semua orang pada keluar mutusin lanjut perjalanan dengan naek angkot. Dan gue baru inget kalo gue ga punya duit sama sekali, OMG mana di tengah sawah pula....bagaimana nasib gue ini....

Dalam hati gue, anjrit kalo tau ada pemadaman listrik bergilir kenapa sih ga dikasih tau sebelumnya gitu loh, dan juga kenapa tuh kereta tetep ngotot berangkat. Sial bener dah gue, mana hari itu jam 11 ada acara perkenalan organisasi2 di kampus buat Mahasiswa Baru (Maba). Dan gue mesti ngasih sambutan di acara itu.

Hampir 1 jam nunggu, gue mulai mati gaya. Akhirnya gue coba keliling2 gerbong dari depan sampe belakang, siapa tau ketemu temen senasib yang bisa diajak ngobrol. Sialnya ternyata ga ada satupun yang gue temuin. Bingung gue bener2 tambah mati gaya. Akhirnya gue nongkrong bareng tukang rokok, tukang koran, dan beberapa pengemis di salah satu gerbong. Duduk-duduk sambil dengerin orang2 itu ngobrol ga jelas, trus tidur2an di kursi kereta ekonomi yang keras itu.

Tiba2 hape gue geter, sebenernya gue paling males keluarin hape di kereta, maklumlah gudangnya copet di situ. Gue pindah ke gerbong sebelah yang agak sepi untuk keluarin hape. Pas gue liat yang telvon Barjo, Kadiv Hublu Senat FEUI, gue angkat dan langsung terdengar suara:

Barjo (B) : "Woy bozz, mana lu? Nanti jangan lupa acara jam 11 ya!"
Gue (G) : "Man gue masih di kereta nih, kejebak gue keretanya mogok"
B : "Memang posisi lo di mana?"
G : "Keretanya lagi ada di tengah sawah nih, pokoknya ga jelas gitu"
B : "Yaudah lo turun naek angkot aja!"
G : "Man, kalo gue ada duit sih gue dah naek angkot dari tadi, masalahnya gue ga ada duit sama sekali, 100 perak pun gue ga ada"
B : "Yaudah lo naek taksi aja nanti kalo dah nyampe kampus kita yang talangin dulu"
G : "Woy lo jangan over ekspektasi deh, di sini angkot lewat aja dah syukur, jangan ngarep bisa ada taksi lewat sini"
B : "Wuahahahaha...Yowes lah kita tunggu aja di sini, lo pikirin aja gimana caranya sampe sini"
G : "Okey2, lo tungguin gw aja, siapa tau keretanya bentar lagi jalan, nanti kalo ternyata gue blom datang2 juga, lo wakilin aje ye"
B : "Sipp bozz"

Okey, kembali lagi idup gue nelangsa di dalam gerbong kereta yang ga jelas kapan jalannya. Dah hampir 2 jam gue nunggu sampe abis 1 buku gue selesai baca (kebetulan bukunya tipis sih :)), dan akhirnya kereta jalan juga. Oh God Thanks! Selama kereta melaju, gue ga berhenti2nya sesekali melihat jam, panik takut ga sempat nyampe kampus jam 11. Bener aja, kereta akhirnya nyampe stasiun UI jam setengah 12. Begitu kereta berhenti, gue langsung buru2 turun. Udah ga kepikir naek ojek (karena ga ada duit), atau nunggu bis kuning yang jam segitu supirnya suka datang semaunya, biasanya masih pada asik ngopi2 sama maen gaple di pool depan asrama. Yaudah gue jalan cepet (kayaknya lebih keliatan lari sih) menembus jalan depan FISIP UI sampe menyusuri jalan ke FEUI. Dengan masih ngos2an dan keringetan akhirnya gue sampe juga di kampus, dan langsung menuju Auditorium. Dan bagus banget, pas gue nyampe pas acaranya udah selesai. Wuidihhhh gondok bener. Gara2 kereta sialan dan kebodohan gue yang ga bawa duit sama sekali. Akhirnya sia2 juga perjuangan menuju kampus, acara selesai tanpa gue kagak sempet nongol di acara itu (Ketua macam apa lo far????).

Mungkin itu kejadian sekitar 4 tahun lalu, tapi sekarang gue liat profesionalisme PT KAI belum juga banyak berubah secara signifikan. Pertanyaannya, jadi mau sampe kapan kondisi transportasi di Indonesia kayak begini terus? Helloooo, jangan ngarep deh bangun monorail atau MRT segala. Ngatur kereta api yang masih konvensional sejagad raya ini aja masih belom bener. Malulah kalo begini terus.

Moral story: JANGAN PERNAH PERGI TAPI NGGA BAWA DUIT SEPESER PUN!

Thursday, December 18, 2008

Keanehan Pada Jam Gadang


Wah nggak tau gue doank yang nyadar atau gimana, kebetulan pas main-main ke Bukittinggi, trus liat jam gadang. Nah kalo melihat angka-angka di jam gadang itu dengan teliti, ada sebuah keanehan. Liat foto di bawah ini:






Aneh nggak sih sebenarnya? Apa jaman dulu angka 4 dalam romawi ditulis dengan IIII bukan IV????

Saturday, August 2, 2008

Mengerti Random Sampling hanya dari kejadian sehari-hari

Seminggu ini gue dihabiskan untuk ikut pelatihan metode pelatihan dan belajar macam-macam pendekatan statistika (lagi) dan preketele-preketele lainnya...Hufh..kayaknya mulai terjerembab lagi sama istilah mean, standard deviasi, normalitas, R-square, parametrik, non-parametrik, etc.bla.bla.bla....Pelatihan ini memang layaknya kuliah beneran (baca: kuliah konvensional), dengan pengajar yang tipe peneliti murni, kadang keliatan autis, sibuk sama slide-nya sendiri, dengan penjelasan yang sering meloncat ke satu hal dan balik lagi ke bagian sebelumnya secara abstrak...Damn, bener-bener monoton dan bikin gue ngantuk berat....Saking bosennya kadang gue sempet tidur beberapa kali...atau mengumpat hal-hal penting...maki-maki gak jelas (sorry nih yang buat duduk di sebelah gue, jadi korban keanehan gue yang suka kambuh..Hihihihihi....).

Dari segala macam hal membosankan itu, ternyata ada hal yang okey menurut gue. Pengajarnya mampu menganalogikan bagaimana proses random sampling dengan hal yang menurut gue sederhana tapi cukup mengena di hati para peserta yang nyaris muntah-muntah dengan mata udah kayak lampu lima watt. Proses random sampling mampu diterangkan hanya melalui kejadian seorang koki untuk mengetahui apakah masakan yang dia buat sudah pas rasanya, atau sudah cukup masak. Bayangkan saja kuah dalam suatu kuali itu adalah populasi, proses pencicipan kuah tersebut sudah pas rasanya atau belum hanya melalui satu sendok cicipan, ini merupakan proses random sampling. Setiap kuah yang ada di kuali mempunyai probabilitas yang sama untuk terambil oleh sendok sang koki. Sample dari satu kuah sendok itu bisa digunakan untuk mengetahui kondisi populasi (dalam hal ini kuah dalam kuali tersebut). Secara tidak sadar sang koki telah menduga kondisi populasi melalui sample yang dia ambil. Jadi, ternyata hanya begitulah proses random sampling..Hahahahaha.....

Mungkin bagi sebagian orang contoh ini biasa-biasa aja, tapi menurut gue ini sebuah contoh yang sederhana dan brilian....Maklum, sebagai mantan asisten dosen untuk kuliah statistika ekonomi, gue gak sempet kepikiran untuk bisa kasih contoh kayak begitu, malah gue jelasin dengan segambreng penjelasan penuh istilah antah-berantah dengan alhasil mahasiswa-mahasiwa gue ngences-ngences dan kebingungan (akhh...lebay deh gue...).

Sunday, June 15, 2008

Gue ternyata orang yang telat bisa baca

Gara-gara untuk memenuhin syarat administrasi di BI kemarin, salah satunya legalisir ijazah SD mengharuskan gue untuk ke SD gue dulu, kebetulan gak punya lagi fotokopi ijazah SD yang masih dilegalisir.

Di SD itu gue ketemu guru olahraga gue yang ternyata masih inget sama gue. Ah terharu banget deh masih diinget, padahal muka kayaknya dah banyak berubah. Sebut saja namanya Pak Yadi, dia masih inget gue soalnya gue juga punya kakak cewek yang juga sekolah di situ. Jadi nyokap juga sering ke SD situ untuk ngurusin anak-anaknya.

Betapa malunya gue mengingat masa-masa di SD itu, masih inget ketika masih kelas 1, diantara teman-teman yang lain, cuma gue seorang yang masih belum bisa membaca dengan baik. Masih inget juga masa ulangan umum waktu itu. Gue cuma bisa pasrah dan nangis karena gue gak bisa mengerti soal ulangan seperti apa karena belum bisa membaca dengan lancar. Hal ini otomatis bikin gue juga gak bisa jawab soal-soal ujian itu. Untungnya guru kelas 1 baik-baik. Mereka tahu kalo gue punya kakak cewek di kelas 6. Akhirnya mereka membolehkan gue ujian dengan didampingi kakak gue untuk membantu menjelaskan isi soal ujian dan memberi sedikit petunjuk cara menjawabnya.

Masih inget salah satu soal saat itu..."Matahari itu warnanya?" Dan kakak gue dengan sigap mengambil penghapus gue yang kebetulan warna kuning. Kakak gue bilang “Coba ini penghapus warnanya apa?” gue jawab “Kuning ya...” trus kakak gue bilang “Yasudah tulis donk jawabannya di situ!” Akhirnya gue menulis kata kuning dengan bantuan ejaan kakak gue dan guru gue yang juga turut mendampingin “K-U-N-I-N-G.”

Akh...terharu rasanya inget masa-masa itu, mungkin tanpa kebaikan semua, gue bisa gak naik kelas dari kelas 1 ke kelas 2. Di kelas 2 kemampuan membaca gue udah mulai membaik, namun ranking kelas tetap saja masih buruk. Masih inget kalo rangking gue 44 dari 45 murid di kelas. Parah ya...sampe-sampe perut gue dipukul bokap liat rapotnya yang ancurrrr. Hiks..Hiks..

Mungkin masa-masa itu kadang masih membekas, hingga sekarang gue masih suka agak lama dalam membaca untuk memahami sesuatu. Maka wajarlah kalo ujian gue mesti begadang hingga besok hanya untuk mengerti apa yang gue pelajari, tentu gak seperti orang lain yang kalo gue perhatikan begitu cepat untuk mengerti apa yang mereka baca.

Gue juga maunya kayak lo!

Kadangkala orang seringkali melihat seseorang dengan melihat apa yang terjadi sama orang itu sekarang, bukan bagaimana dahulu seperti apa orang itu dan usaha apa saja yang dia lakukan selama ini hingga menjadi apa dia sekarang.

Kadang gue juga agak sebel denger omongan orang kalo gue sekarang beginilah begitulah cuma ngeliat dari sudut pandang sempit seolah-olah apa yang gue dapatkan sekarang adalah sesuatu yang jatuh dari langit, cuma liat hasil, tapi tutup mata dengan proses apa aja yang gue lakuin untuk mendapatkan apa yang gue ada sekarang.

Kadang orang memandang gue dengan sinis melihat apa yang gue lakuin sekarang, padahal apa yang gue lakukan sekarang, gue harus melakukan dua kali lebih keras dari apa yang mereka lakukan. Mereka pikir gue ambisius, tapi mereka suka lupa bahwa mereka justru lebih beruntung dari gue. Mereka gak perlu memulai sesuatu dengan garis start lebih belakang dari gue.

Okey terus terang gue juga maunya gak seperti ini, tetapi gue mesti seperti ini justru supaya gue juga bisa seperti mereka, bisa mengimbangi mereka, bisa merasakan apa yang sudah mereka rasakan sekarang tanpa harus berbuat sekeras apa yang gue lakukan.

Okey, sudahlah, tak ada gunanya saling membuat stigma antara kita. Gue menghargai apa yang mereka punya, dan juga tolong hargai gue atas apa yang gue lakukan sekarang untuk turut juga merasakan apa yang mereka sudah punya dan juga sudah mereka rasakan.

Wednesday, May 14, 2008

Keajaiban, Bakal Kuliah Lagi..Ujian..etc bla..bla..bla..

Gue baru aja pindah kerja di sini...Mungkin bakal pemberhentian terakhir gue dalam mencari kerja (secara ijazah S1 gue juga ditahan..Lagian kayaknya gw juga dah mentok kerja di sini, syukur dah ada yang mau nerima gue kerja..Thanks God).

Well, tapi perjuangan itu sepertinya belom berakhir....
Masih harus berjuang lagi mengikuti pendidikan selama 1 tahun. Ini menentukan seberapa sanggup gue bersaing dengan yang lain, dan menentukan seberapa layak gue bakal masuk ke dunia kerja gue yang baru.

Pendidikannya seperti apa yang dijelasin selama briefing sepertinya gue gak bisa main-main.
Pendidikan di kelas, klasikal umum tentang budaya kerja, klasikal khusus tentang keilmuan sebagai peneliti ekonomi, on the job training di kantor pusat, on the job training di kantor cabang BI di Padang (huahahaha...bakal terdampar di luar Jakarta nih Hiks..Hiks..), dan terakhir pendidikan kemiliteran (Samapta).

Fiuhhh...akhirnya gue mungkin bakal ngerasain kayak kuliah lagi: masuk kelas, belajar, ujian, bikin makalah, presentasi, etc.

Jujur gue bisa diterima BI ini mungkin ada keajaiban yang bisa memuluskan jalan gue sampai sekarang. Mungkin bagian mengharukan adalah saat gue dikatakan lulus tes kesehatan. Bagian ini adalah test yang bikin gue gak tenang pas malam harinya, justru gue malah lebih rileks ketika menghadapi wawancara. Tau kenapa? Apa yang terjadi saat tes kesehatan gue banyak mengalami hal tidak bagus:

1. Tes analogi tubuh gue dikatakan underwight sama dokternya, dan ini bikin gue bete, dan gue bilang ke dokternya kalo memang sekeluarga gue badannya kayak begini (kurus dan jangkung). Gue dah minum susu, makan makanan berlemak, junk food, steak apalah gitu, tetep aja gue KURUS dan malah kantong gue jadi jebol....

2. Tes rontgen. Ini test yang bikin gue panik setengah mampus, secara paru-paru gue pernah jebol gara-gara gaya hidup gue yang gak karuan selama kuliah.

3. Tes jantung. Ada kejadian di mana alat pendeteksi detak jantung gue yang nempel di tetek, perut, dada dan kabel-kabelnya yang bikin gue geli gak bisa ngedeteksi detak jantung gue, sampe-sampe dokternya mesti pake stetoskop buat bantu ngedenger detak jantung gue. Dan kejadian ini cuma terjadi sama gue..Damn! Why? Why?

4. Tes Buta Warna. Gak tau kenapa gue gak bisa ngebaca semua angka di buku tes buta warna itu, bahkan gue gak bisa nunjukin jalur dari sebuah titik di sebelah kiri dengan lancar ke sebuah titik di sebelah kanan. Alhasil gue dinyatakan gue buta warna parsial. Oh God, sumpah gue masih bisa bedain kok mana warna merah-jingga-kuning-hijau-biru-ungu!

5. Tes Baca. Kacamata gue dilepas, dan gue pake alat bantu baca dari dokternya. Gue memang punya silinder di mata gue yang bikin gue melihat garis lurus menjadi bengkok dan berbayang. Ketika gue disuruh membaca huruf Y, gue dengan lantang membaca dengan keras: "V" . Terang aja semua peserta lain yang ngantri untuk tes baca di belakang gue spontan ketawa semua. Anjrit, malu banget gue....

6. Tes urine. Gara-gara disuruh puasa semalemnya sebelum tes, terang aja gue juga jadi gak minum. Alhasil, terang aja gue susah payah keluarin urine gue ke sebuah toples kecil. Malah dokternya bilang, "Mas kurang banyak minum nih, air kencingnya terlalu pekat!" (Yeah siapa suruh puasa????).

Setelah tes kesehatan, gue pulang ke kosan dengan tampang kusut dan bete berat. Dan menyadari, betapa banyak ketidakberesan dalam tubuh gue. "Oh tidak, tidak, tidak, mengapa semua terjadi???" (anjrit, memang hari itu berasa dramatis bagi gue....)

Suatu saat pas pengumuman tentang siapa aja yang lulus tes kesehatan, dan gue dinyatakan lulus terus terang gue sangat terharu membacanya. Mungkin gue jadi sangat melankolik saat itu. Dan juga membuat gue sadar, ternyata dalam hidup ini tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan dan kemampuan kita sebagai manusia. Tapi ada hal yang di luar kemampuan kita dalam menentukan kemana jalan kita ke depan.

Thanks God! Thanks God!

Wednesday, April 23, 2008

Ngeband untuk Ngirit Karokean???

Hmm..ada-ada aja memang ulah orang-orang kerja kalo dah stress kelamaan ngantor. Senin yang lalu, akhirnya tiba-tiba ada ide untuk karokean, memang sih tinggal nyebrang dari kantor dah langsung ketemu Inul Vizta. Tapi, berhubung gue anak ekonomi, mikir juga donk duit yang mesti keluar kalo mau karokean. Akhirnya, tercetus ide untuk ngeband aja di rumah Dodo (teman sekantor) yang rumahnya punya lengkap alat-alat band. Lagipula rumahnya nggak jauh dari kantor, naik taksi cuma abis Rp10 ribu, dah gitu patungan pula...Ha3...

Maka, akhirnya, jadilah rombongan kantor (6 orang) nangkring di rumah Dodo, dengan satu tujuan mulia, yaitu “ngeband” Wuahahahaha....Semua dengan formasi lengkap, dengan segambreng buku-buku lagu “jadul.” Dan gue, kebagian ngegebuk drum, yang kalo dihitung-hitung gue terakhir ngeband serius tahun 2001. Mulai berhenti sejak masuk kuliah, gak tau kenapa, selera gue ngeband pas dah kuliah bener-bener gak ada sama sekali. Mungkin dah terlalu kenyang ngeband pas SMA, sampe-sampe nilai-nilai gue pada jeblok, ada nilai raport merah, bahkan ada nilai yang ditulis pake pensil, Damn! Bego banget gue masa itu. Alhasil nyokap marah-marah kalo abis bagi raport. Guru-gurunya juga sih pada bawel, bilang nilai gue jeblok gara-gara kebanyakan ngeband. Damn! Lagian dulu bego juga sih gue, manggung di pensi sekolah sendiri bikin kejadian heboh, manggung gak pake baju, modal celana pendek doank yang bahkan lebih menyerupai cangcut. Gak sadar kalo pas belakang panggung persis adalah kantor guru, dan guru-guru persis nangkring sambil geleng-geleng kepala di belakang gue yang lagi asyik ngedrum. Huahahahaha.....Malu dah, disindir-sindir setelah itu, apalagi kakak-kakak gue banyak yang jadi aktivis mushola..kok adiknya??? Oh tidak...Oh No...saya janji akan main band pake baju lengkap Bapak dan Ibu Guru....

Well, mungkin itu cuma satu cerita dari masa-masa konyol gue di SMA. Soal ngeband, jadi inget alat-alat drum gue di rumah yang udah lama nganggur, cymbal yang udah karatan malah ada yang pecah ketindih koper-koper gede di gudang, stick-stick yang warnanya dah kecoklatan (vater, regal tip, promark, vic firth, dll), blom lagi aksesoris kayak cowbell, jamblock, clamp, boomstand, dan hardware lainnya yang gak tau gue simpen dimana. Padahal dulu nabung sampe nangis darah belinya..Huahahaha....Walaupun dah lama gak ngeband lagi, tapi masih gue sempetin datang ke acara-acara drum clinic, liat konser musik, atau latihan sendiri pake drumpad di kosan.

Inilah ngeband abis pulang kantor yang gak jelas itu Huhahahahaaaa:

Monday, April 21, 2008

Kalau Mau Solat tuh Identik dengan….

Jujur deh, akhir-akhir ini kenapa setiap gue mau solat selalu identik dengan keadaan seperti ini:

- Tempat Parkir
- Basement
- Pengap
- Panas
- Tempat Blower Pembuangan AC
- Kotor
- WC Bau
- Kadang Kumuh
- Perasaan was-was sepatu ilang
- Perasaan khawatir tas digondol orang
- Uang receh buat bayar toilet

Gak tau kenapa orang-orang tuh fine-fine aja solat di tempat kayak gitu. Dan heran juga banyak pusat perbelanjaan gak memperhatikan fasilitas ibadah itu dengan baik. Makanya salah satu penilaian saya untuk menghabiskan waktu di salah satu pusat perbelanjaan adalah fasilitas tempat solatnya.

Selama keliling-keliling pusat perbelanjaan menurut gue sih yang bagus tuh di PIM 2, di sini hampir tiap lantai ada tempat solatnya, jadi untuk jam-jam peak gak terlalu penuh untuk ngantri solatnya. Di Senayan City juga lumayan oke, karena ada musholla eksekutifnya, sedangkan untuk pekerja-pekerjanya solat di Musholla lantai paling atas.

Mungkin yang paling parah tuh di Citos, gila kali, tempat solat cuma dikasih ukuran seuprit, di basement, sempit, karpet lembab plus bau, tempat wudhu desek-desekan, mau pake sepatu juga ribet saking kecilnya ruangan tunggunya. Dan herannya gak ada dikasih ruangan alternatif lain, ada juga sama aja, di pojokan deket kantin pegawai, tetep aja ukurannya kecil dan panas.

Hmm...sebenarnya masih banyak tempat lain yang menurut gue bener-bener gak layak buat solat. Heran tapi gak ada yang protes, atau akhirnya lama-lama tempat solat tuh identik dengan hal-hal yang tidak mengenakan, dan semua jadi biasa saja. Dasar gila!

Monday, April 7, 2008

Boediono Jadi Gubernur BI: Semoga “Semua” Menjadi Jelas

Baru saja Menko Perekonomian Boediono terpilih menjadi Gubernur BI. Seolah sudah tidak ada yang meragukan kemampuannya, terbukti terpilih secara aklamasi di DPR, dengan 45 anggota menyatakan setuju, dan hanya 1 orang menolak.

Semoga saja, tidak hanya menjawab ketidakpastian selama ini mengenai siapa yang menjadi pucuk pimpinan bank sentral itu, namun juga pengumuman para calon pegawai BI pun cepat segera diumumkan. Bagaimanapun, segala ketidakpastian harus dituntaskan menuju kepastian, alhasil “semua” menjadi lebih jelas.

Makan Enak Dikala Banyak Orang Hidup Susah

Memang tak pantas untuk bercerita hal ini di saat banyak masyarakat yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Naiknya harga beras, minyak goreng, minyak tanah, langkanya persediaan elpiji, belum lagi gula pasir, dan juga menurunnya harga jual beras dan gabah akibat gagal panen yang terjadi.

Saya mau bercerita, betapa lebarnya jarak standar hidup kelompok masyarakat satu dengan kelompok masyarakat lainnya. Kelompok yang satu, harus rela makan nasi aking ataupun bahkan ada yang mati akibat kelaparan.

Hari minggu lalu saya seperti ada di belahan dunia yang lain, bisa makan makanan yang bisa dikatakan sangatlah mewah. Padahal saya hidup di tanah, bumi, dan tempat pijakan yang sama bagi rakyat yang lapar itu, Indonesia, sebuah negeri yang menyisakan banyak kontradiksi kehidupan.
Pagi jam 11.00, hari-hari yang kontradiktif dengan keadaan bangsa ini dimulai. Saya bisa sarapan dengan roti bakar plus secangkir kopi panas di Food Central, lantai P1, Pacific Place Sudirman. Saya pun baru tahu kalau ada tempat makan yang murah di tempat itu, konsepnya mirip Red Pepper di Plaza Indonesia, yang menyuguhkan makanan jajanan yang biasa kita jumpai namun tentu dengan harga yang lebih mahal dari biasanya, namun jauh lebih murah dari berbagai tempat makan di Pacific Place.

Setelah itu, pukul 12.00, saya ke Ballroom Ritz-Carlton Hotel, memenuhi undangan pameran pendidikan Inggris, dan talkshow seputar dunia blogger. Beruntung sebagai bagian 100 undangan pertama, jadi bisa dapet akses untuk menikmati makan siang di situ.
Makanan kali ini cukup mewah, 2 potong sirloin, kentang rebus, pasta, dan lamb. Hebatnya lamb-nya dimasak istimewa, lebih enak dibanding lamb yang pernah saya makan di Novotel, Mangga Dua Square. Sesekali, tenggorokan pun disegarkan dengan jus jambu merah. Makan siang itu saya tutup dengan penutup sepotong strawberry cheese cake, apple pie, dan brownies....

Hmmm...Disela-sela selesai makan itu, sempat saya tercenung sejenak, "God thanks, gue masih bisa makan-makan kayak gini...betapa tidak beruntungnya sodara-sodara saya di luar sana." Sedangkan petinggi-petingginya malah lebih asyik nonton Ayat-Ayat Cinta, Bikin Album Kumpulan Lagu, maklum Pemilu tinggal setahun lagi, mereka asyik tebar pesona, tapi lupa tebar pesona dengan rakyat yang lapar. Mungkin mereka berfikir, meyakinkan rakyat yang lapar lebih mudah dari pada orang perkotaan yang lebih maju. Cukup serangan fajar dengan beberapa bungkus mie instan pun cukup untuk mendulang suara di hari pemilihan nanti.

Masih ingat akan nasihat-nasihat dalam ingatan:
Berhentilah makan sebelum kenyang (Well, saya makan memang jarang kenyang, punya selera makan pun susah, sejak kecil saya memang susah makan, prinsip saya: makan supaya tidak sakit..itu saja).

Tidak berkah bagi kamu makan makanan secara berlebihan di kala tetanggamu meringis karena kelaparan (Ini riwayat aslinya saya lupa..mungkin kata nyokap katanya lupa semua apa yang diajarin guru ngaji karena makin lama saya makin sekuler aja...He3...)