Hanya sekedar catatan-catatan, pikiran-pikiran yang mengalir secara random, refleksi hidup, dan ide-ide yang sayang untuk hanya dimarjinalkan di dalam kepala.
Sunday, October 18, 2009
Apalah Artinya Agama, Bila Kehilangan Sisi Humanisme
Nada Minor Lagu Cinta
Monday, March 30, 2009
Lagi Mabok MSG
Selamat tinggal era kejayaan MOMOGI...
Karena penasaran, akhirnya gue makan semua..huaaaa langsung PUYEEEENG..gara-gara kebanyakan makan MSG alias kena sindrom rumah makan cina (chinese restaurant syndrome). Kata orang-orang kebanyakan makan ginian bikin bego, gue test 1+1 sama dengan berapa gue masih bisa jawab..Hahahaha..belom bego, jadi makan lagi ajahhhhh.....
Lagi Parno Rambut Rontok
Akibat keparnoan itu, akhirnya pergi ke supermarket, datang-datang langsung menuju bagian shampoo sama perawatan rambut. Langsung kalap, segala jenis pengobatan rambut rontok dibaca satu-satu. Akhirnya terbelilah tiga botol Neril paket dari shampoo, conditioner, plus hair tonic. Gue dah gak peduli berapa harganya, yang penting hajar lah. Masukin ke keranjang belanjaan.
Dengan bangga kami persembahkan:
Langsung dah malam itu juga gue mencoba ketiga produk itu. Untuk sementara bisa mengobati keparnoan gue..Oh no, jangan rontok lagi donk.....
Sunday, March 29, 2009
Lagi Anti-Sosial
Tak biasanya gue jadi orang anti-sosial yang malas bergaul. Bukan hanya itu, untuk sekedar say hai, ataupun berbasa-basi membuka pembicaraan pun enggan. Inginnya mencari sebuah pelarian, tapi tak pernah ketemu cara yang tepat. Tempat ini terlalu sepi buat gue, mencoba membiasakan namun kadang menyerah juga. Rasanya tak ada ruang untuk sekedar sharing, ngobrol hal-hal asik, sambil diselingi alunan musik yang akrab dengan telinga. Hufh, bagi gue kadang hari libur tak pernah berhasil menjadi sarana refreshing untuk kembali semangat saat mulai kerja. Alhasil, masuk kerja dengan bawaan diri yang kurang menyenangkan. Gue butuh interupsi hidup yang menyejukkan dari rutinitas yang membuat penat.
Kadang gue ngerasa mulai agak aneh, suka ketawa-tawa sendiri, bergurau dengan alam bawah sadar yang kadang membuat joke untuk diri gue sendiri. Bodohnya, gue suka begitu dengan ada satu-dua orang yang ngeliat dan menyadari keanehan gue ini. Membuat mereka bertanya-tanya, “Kenapa loe?” Gue Cuma bisa jawab: “Yah begitulah, gue lagi asik sama pikiran gue sendiri.”
Berusaha untuk membunuh waktu yang membosankan ini, tapi kayaknya terjadi sebaliknya, waktu ini malah perlahan-lahan seperti mencoba membunuh gue dengan kebosanan ini. Rasa sepi ini adalah hal yang berbahaya buat gue. Bikin gue suka teringat hal-hal bodoh yang pernah gue lakuin dulu. Kadang seperti menyesali diri, mengutuk-ngutuk diri sendiri kenapa dulu gue ngga berusaha menjalani hidup ini lebih baik lagi. Ya, hidup saat ini adalah konsekuensi dari hidup yang lalu-lalu. Kata orang sih, masih ada waktu buat berubah, tapi tetap aja, masa lalu itu selalu saja membawa pengaruh negatif dalam otak ini. Rasa gak percaya diri, malu, segan, rendah diri, dan hal-hal lain yang buat gue ngerasa nggak eksis di dunia ini (lebayyyy).
Suatu hari orang bilang gue, “Far, loe itu orangnya kok low-profile abis?” Gue cuma tersentak, dan menjawab, “Lha gimana ngga low-profile, emang profile gue udah low kok.” Mungkin apa kadang gue kurang bisa mensyukuri hidup, atau terlalu dibayang-bayangi target hidup. Atau mungkin kelamaan hidup di lingkungan yang kurang bertoleransi dengan kegagalan. Hidup itu seperti tak boleh gagal, layaknya bayi yang tak boleh jatuh saat belajar berjalan. Padahal hidup itu adalah proses. Sayangnya gue seringkali bertemu saja saat-saat di mana seseorang seolah berkepentingan di saat gue gagal, tapi sebelumnya tak pernah berurusan dengan proses yang gue jalani, atau setidaknya menunjukkan jalan mana yang benar dan harus dilalui. Hmm, setidaknya waktu terus berjalan, tak tahu kapan itu berujung, mencoba aja jalani diri sendiri, setidaknya mengoptimalkan diri untuk menemukan jalan itu. Itupun kalo memang terbuka buat gue. Kalo kata orang, berusaha aja dulu, seterusnya gimana nasib. Btw, nasib itu siapa sih? Kok bisa-bisanya nentuin hidup orang?
Tuesday, March 10, 2009
Segala Macam Irasionalitas dan lainnya….
Mungkin irasionalitas kadang begitu relatif. Kasus Ponari dengan batu ajaibnya dengan mengundang sejumlah massa untuk mengantri berobat dan bahkan mengundang korban tewas karena berebutan bagi kita adala sebuah realitas yang ganjil. Tapi ini juga menjadi sebuah indikasi, bahwa banyak sejumlah kalangan, terutama masyarakat tidak mampu, mengharap sebuah pengobatan yang instan dan murah. Akses kesehatan masih belum mampu menjangkau mereka, dan tidak semua rumah sakit memperlakukan dengan baik bagi mereka yang tidak mampu. Kadang kita pun gusar, mengantri di rumah sakit umum, dengan antrian yang panjang, hiruk pikuk yang memusingkan, dan juga pelayanan seadanya. Belum tentu juga mendapat kesembuhan, bahkan terlalu lama mengantri dan campur aduk berbagai orang sakit di ruang yang sama, kadang kita semakin merasa lebih sakit dibanding sebelumnya. Uang yang keluar pun tidak sedikit.
Pengobatan alternatif ini, dengan segala macam pembenarannya, bisa jadi adalah sebuah pelarian. Pelarian dari segala frustasi dari usaha menyembuhkan penyakit. Kalangan medis seharusnya juga tergerak hatinya melihat fenomena ini. Betapa upaya medis yang ada masih belum mendapat tempat dalam ruang pikiran masyarakat untuk mendapatkan kesembuhan. Bagi sebagian masyarakat, pengobatan alternatif adalah jawaban, sedangkan sebagian lainnya tetap memandang sebuah irasionalitas. Siklus ini akan berlangsung terus-menerus.
Irasionalitas bisa jadi terjadi juga pada dunia ini, dunia maya. Mungkin sebagian orang akan memandang irasional bagi orang-orang yang asik masyuk menghabiskan waktu di depan laptop, atau senyum-senyum sendiri sambil memandangi Blackberry-nya. Sekedar chatting, fesbuking, membalas-balas email, atau seperti blogging ini. Sebagian orang akan memandang, bagaimana orang bisa larut akan sebuah dunia virtual, dan terkadang melupakan untuk menyelami dunia non-virtual yang lebih nyata. Di sini sudut pandang irasionalitas pun terjadi. Bisa rasional, bisa tidak….
Pada akhirnya, rasional atau tidak, seperti layaknya kondisi pemilahan suka atau tidak suka, kejadian sukses (p) atau tidak sukses (q). Jadi selalu ada deviasinya, seperti standar deviasi adalah akar p dikali q…kok jadi ngomongin statistik….He3….Malah ikutan mulai gak rasional nih gue....