Monday, August 22, 2011

Menyuburkan Harapan Dahulu, Mewujudkannya Kemudian


Akhir-akhir ini banyak novel hasil torehan tinta anak negeri yang kalau gue bisa katakan memiliki benang merah yang sama. Yaitu betapa pentingnya menyuburkan harapan, angan-angan dan cita-cita, dan kemudian bertanggung jawab atas semua harapan, angan-angan dan cita-cita tersebut. Artinya, tentu saja dengan usaha, ikhtiar, dan kerja keras untuk mewujudkannya, bukan hanya berakhir dalam sebuah perenungan di atas tempat tidur sambil memandang atap-atap langit rumah.

Tetralogi Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, Trilogi Negeri 5 Menara-nya A. Fuadi hingga yang terakhir gue baca 9 Summers 10 Autums-nya Iwan Setyawan, semua mengguratkan semangat yang sama, latar belakang yang sama, dan keberhasilan mengubah nasib menjadi lebih baik. Novel-novel tersebut menggambarkan bagaimana kondisi keterbelakangan ekonomi, hidup di tengah-tengah kaum udik, dan segala lika-liku kehidupan tak mampu membungkam seseorang mewujudkan harapannya. Meski bagi mereka awalnya adalah sebuah hal yang mustahil, namun dengan kondisi lingkungan yang terus mampu memelihara harapan tersebut terus melekat dalam diri mereka, apapun akan menjadi mungkin.

Pendidikan, dalam hal ini boleh dikatakan sebagai muara dari seseorang mampu mengeskalasi status sosial, menggapai mobilitas sosial secara vertikal. Selain itu adalah semangat juang yang tak pernah putus, keyakinan bahwa kesuksesan tidak bisa dibangun dalam satu malam. Ia butuh peluh keringat, air mata bahkan mungkin tetesan darah. Usaha dan semangat yang konsisten dan persisten.

Gue rasa Indonesia memang perlu bacaan-bacaan seperti novel-novel tersebut. Menjadi inspirasi bagi orang-orang yang nyaris putus asa untuk mampu mengecap pendidikan tinggi. Bahwa masih ada kesempatan untuk mengubah nasib, menaiki status sosial lebih tinggi. Dan novel-novel tersebut juga sekaligus sedikit "menyindir" bagi orang-orang yang secara ekonomi berlebihan namun hanya sibuk bermimpi dan tanpa usaha.

Ada sebuah Quote menarik dari Michelangelo:
"The greatest danger for most of us is not that our aim is too high and we miss it, but that it is too low and we reach it."

Konsumsi, Gairah Yang Tidak Ada Habisnya

Foto-foto di atas gue ambil pas lagi ikutan ngantri beli iPad 2 di Plaza Indonesia sekitar awal Juli 2011. Fenomena ini menjadi hal yang lumrah mengisi wajah kehidupan kaum urban, khususnya di kota-kota besar.

Indonesia seringkali saat ini dikatakan sedang kelimpahan bonus demografi. Ya, gemuknya jumlah penduduk di usia produktif, memiliki penghasilan lebih dari cukup, dan lebarnya piramida penduduk kelas menengah.

Kaum kelas menengah ini menjadi sasaran yang menggiurkan bagi penetrasi consumer goods hingga produk-produk elektronik. Konsumsi bagaikan keyakinan dalam sebuah agama baru yang tak memerlukan pemimpin umat. Semangat itu lahir dari gairah pemenuhan hasrat konsumsi yang mengalir dalam darah manusia dan seakan tak pernah terpuaskan.

Semangat itu pula yang mendorong seseorang rela tetap membelalakkan mata demi sebuah Mid-Nite Sale. Seakan-akan alam semesta memberikan energi untuk memilih dengan jeli segala produk diskon. Antri berjam-jam bukan persoalan berat, kalaupun perlu mereka bisa memburu barang-barang label diskon sambil merangkak dari mall satu ke mall lainnya.

Begitulah sebagian wajah Indonesia saat ini, konsumsi, kegiatan ekonomi yang membuat negeri ini masih mampu tumbuh tinggi di tengah sengkarutnya ranah ekonomi global. Pertanyaan selanjutnya, kapan investasinya? Kok konsumsi terus?
Published with Blogger-droid v1.7.4

Friday, July 15, 2011

Perayaan yang Minimalis

Ini foto pas HUT BI yg ke-58. Kebetulan karena gw ditempatkan di BI Padang, gw nggak pernah tau perayaan di kantor pusat seperti apa. Yg pasti di BI Padang sangat sederhana banget. Diawali dengan senam pagi. Herannya instrukturnya bapak-bapak dari Brimob. Hampir 1 jam senam, gerakannya ngga berubah2. Goyang poco2 terus. Intinya mmg gw ga doyan senam juga sih :)

Setelah itu dilanjutkan makan2 sambil beberapa ditembak langsung untuk sumbang suara diiringi solo organ. Setelah itu selsai deh. Mungkin gw aja kali ya yg beyond expectation. Komentar gw cuma 1: "Udah gitu aja? Terus?" hehehehe.....
Published with Blogger-droid v1.7.2

Friday, July 8, 2011

Nyoba ngeblog pake android

Ini nyoba ngeblog pake blogger-droid. Ngetiknya lumayan ribet ya. Tapi oke juga buat mengabadikan hal2 menarik melalui blog bs kapan aja. Ga mesti ribet2 buka laptop. Yukkkk mariiii....
Published with Blogger-droid v1.7.2

Tuesday, June 21, 2011

Jomblo-Jomblo Tersisa

Ada aja yang sewot sama istilah gw di sebuah group BBM, terutama buat orang2 yang list BBM-nya penuh dengan foto-foto bayi or anak-anak. Ini bukan berarti kita pasukan pedhopil yang gemar menginvite anak-anak kecil yang ber-BB (ada ya?) untuk masuk friend list kita (kita? yah gw pake kata ganti "kita" aja biar lebih enak. Jadi nggak ngerasa sendirian..hehehehe..), tapi memang temen2 seusia gw rata-rata udah berkeluarga. Gw cuma sebut "Jomblo-Jomblo Tersisa" layaknya jomblo-jomblo yang terjebak di hutan belantara, yang masih berkutat oleh tiga hal. Ketiga hal itu semua terkait dengan kata "pilih" maksudnya: belum memilih, belum terpilih, dan belum menjadi pilihan..Hahahahaha...

Ibarat bentuk aliran barang dalam tata bahasa akuntansi, mungkin metode yang dipake bukan FIFO (First In, First Out) atau LIFO (Last In, First Out), malah bisa jadi perlu ada istilah baru, which is LILO (Last In, Last Out)..udah masuk gudangnya duluan, eh nggak dikeluar2in juga dari gudang..Hahahahaha...(kok gw kayak puas banget nih ketawa2 sendiri..LoL).

Sunday, June 12, 2011

Conference Alerts

I just found this site that contains various conferences worldwide, specifically for the topics related to economics. I put it to my blog for reminding me to be more productive. Just so you know that there are so many opportunities to submit your paper, and also to travel around the world (for free).

Tuesday, June 7, 2011

Tujuan dan Pencapaian

Orang punya beragam cara untuk menentukan tujuan hidupnya. Ada yang mengucapkan resolusi tahunan, melihat pencapaian diri pada setiap tahunnya. Ada yang menuliskannya dalam proposal hidup, membuat suatu list mengenai apa yang dicapai sepanjang hidupnya. Tapi ada yang sedikit menyentak pikirian gue, pertanyaan seorang teman saat itu, "Apa pencapaian hidup yang udah elu wujudkan Gaf?"

Well, saat itu gue cuma terdiam, hmmm...menjadi hanya terdiam saja bisa jadi karena gue dan dia sebetulnya sedang tidak dalam frekuensi dan persepsi yang sama. Mungkin saja apa yang sudah gue miliki dan raih saat ini adalah sebuah pencapaian, tapi dari sisi pikiran gue itu bukan pencapaian, tapi hanya sejengkal, selangkah atau sepelemparan tombak dari proses menuju sebuah pencapaian.

Simple-nya, layaknya sedang mengikuti kompetisi lari marathon. Ketika seorang pelari melewati garis putih menurut para penonton yang tidak tahu aturan kompetisi mengira itu adalah sebuah garis finish, which means saatnya pelari bisa berhenti. Namun sebetulnya garis putih tersebut hanyalah sebuah penanda bahwa estafet pertama sudah berhasil terlewati, dan ternyata masih ada 2, 3, 4, hingga beberapa estafet ke depan yang masih belum terlewati.

Jadi, tujuan, pencapaian dan titik akhir adalah persoalan persepsi. Beda persepsi, ya tentunya beda juga bagaimana cara memandang sebuah pencapaian.