Saturday, June 21, 2008

Dirgahayu DKI Jakarta Ke-481


Semoga gak makin macet....
Semoga gak banjir melulu....
Semoga semakin aman dan damai....
Semoga penduduknya makin berisi otaknya....
Semoga penduduknya makin terdidik moralnya....
Semoga tidak lagi banyak penduduk miskin di jalanan....
Semoga pada tobat dan gak banyak tindakan kriminal....
Semoga cepet jadi monorail-nya (niat gak sih????)....
Semoga bus transjakarta-nya makin banyak dan bagus pelayanannya (terutama turnover-nya, gila kali nunggu kelamaan melulu)....
Semoga makin tertib para pengendara kendaraan bermotornya (terutama motor tuh, dah kayak laron..sinting!)....

Yah terlalu banyak lah semoga dan semoganya...Semoga Bang Kumis serius menangani kota Jakarta dan membawa Jakarta ke arah yang lebih baik....

Bagaimanapun kota Jakarta, kite tetep cinteeee baaangggg.....

Sunday, June 15, 2008

Gue ternyata orang yang telat bisa baca

Gara-gara untuk memenuhin syarat administrasi di BI kemarin, salah satunya legalisir ijazah SD mengharuskan gue untuk ke SD gue dulu, kebetulan gak punya lagi fotokopi ijazah SD yang masih dilegalisir.

Di SD itu gue ketemu guru olahraga gue yang ternyata masih inget sama gue. Ah terharu banget deh masih diinget, padahal muka kayaknya dah banyak berubah. Sebut saja namanya Pak Yadi, dia masih inget gue soalnya gue juga punya kakak cewek yang juga sekolah di situ. Jadi nyokap juga sering ke SD situ untuk ngurusin anak-anaknya.

Betapa malunya gue mengingat masa-masa di SD itu, masih inget ketika masih kelas 1, diantara teman-teman yang lain, cuma gue seorang yang masih belum bisa membaca dengan baik. Masih inget juga masa ulangan umum waktu itu. Gue cuma bisa pasrah dan nangis karena gue gak bisa mengerti soal ulangan seperti apa karena belum bisa membaca dengan lancar. Hal ini otomatis bikin gue juga gak bisa jawab soal-soal ujian itu. Untungnya guru kelas 1 baik-baik. Mereka tahu kalo gue punya kakak cewek di kelas 6. Akhirnya mereka membolehkan gue ujian dengan didampingi kakak gue untuk membantu menjelaskan isi soal ujian dan memberi sedikit petunjuk cara menjawabnya.

Masih inget salah satu soal saat itu..."Matahari itu warnanya?" Dan kakak gue dengan sigap mengambil penghapus gue yang kebetulan warna kuning. Kakak gue bilang “Coba ini penghapus warnanya apa?” gue jawab “Kuning ya...” trus kakak gue bilang “Yasudah tulis donk jawabannya di situ!” Akhirnya gue menulis kata kuning dengan bantuan ejaan kakak gue dan guru gue yang juga turut mendampingin “K-U-N-I-N-G.”

Akh...terharu rasanya inget masa-masa itu, mungkin tanpa kebaikan semua, gue bisa gak naik kelas dari kelas 1 ke kelas 2. Di kelas 2 kemampuan membaca gue udah mulai membaik, namun ranking kelas tetap saja masih buruk. Masih inget kalo rangking gue 44 dari 45 murid di kelas. Parah ya...sampe-sampe perut gue dipukul bokap liat rapotnya yang ancurrrr. Hiks..Hiks..

Mungkin masa-masa itu kadang masih membekas, hingga sekarang gue masih suka agak lama dalam membaca untuk memahami sesuatu. Maka wajarlah kalo ujian gue mesti begadang hingga besok hanya untuk mengerti apa yang gue pelajari, tentu gak seperti orang lain yang kalo gue perhatikan begitu cepat untuk mengerti apa yang mereka baca.

Gue juga maunya kayak lo!

Kadangkala orang seringkali melihat seseorang dengan melihat apa yang terjadi sama orang itu sekarang, bukan bagaimana dahulu seperti apa orang itu dan usaha apa saja yang dia lakukan selama ini hingga menjadi apa dia sekarang.

Kadang gue juga agak sebel denger omongan orang kalo gue sekarang beginilah begitulah cuma ngeliat dari sudut pandang sempit seolah-olah apa yang gue dapatkan sekarang adalah sesuatu yang jatuh dari langit, cuma liat hasil, tapi tutup mata dengan proses apa aja yang gue lakuin untuk mendapatkan apa yang gue ada sekarang.

Kadang orang memandang gue dengan sinis melihat apa yang gue lakuin sekarang, padahal apa yang gue lakukan sekarang, gue harus melakukan dua kali lebih keras dari apa yang mereka lakukan. Mereka pikir gue ambisius, tapi mereka suka lupa bahwa mereka justru lebih beruntung dari gue. Mereka gak perlu memulai sesuatu dengan garis start lebih belakang dari gue.

Okey terus terang gue juga maunya gak seperti ini, tetapi gue mesti seperti ini justru supaya gue juga bisa seperti mereka, bisa mengimbangi mereka, bisa merasakan apa yang sudah mereka rasakan sekarang tanpa harus berbuat sekeras apa yang gue lakukan.

Okey, sudahlah, tak ada gunanya saling membuat stigma antara kita. Gue menghargai apa yang mereka punya, dan juga tolong hargai gue atas apa yang gue lakukan sekarang untuk turut juga merasakan apa yang mereka sudah punya dan juga sudah mereka rasakan.

Saturday, June 7, 2008

Fenomena Politik dalam Kacamata Sepak Bola

Pembukaan Piala Euro 2008 di station TV RCTI memang menjadi acara yang ditunggu-tunggu oleh para penggemar sepak bola. Namun yang bikin saya terkejut adalah kemunculan Jusuf Kalla Wakil Presiden RI menjadi salah satu komentator pertandingan perdana antara Swiss melawan Cekoslovakia. Lagi-lagi ada saja manuver politisi negeri kita untuk mendongkrak popularitasnya menjelang Pemilu 2009. Memanfaatkan persitiwa sepakbola yang ditunggu jutaan manusia di Indonesia yang ingin disuguhkan pertandingan sepakbola bermutu, bukan sepakbola versi Indonesia yang barbarian dengan tontonan pengeroyokan wasit atau tawuran antar supporter.

Komentar Jusuf Kalla mengenai pertandingan perdana Piala Euro 2008 ada yang menarik perhatian saya. Saat menjawab pertanyaan Ricky Jo presenter pertandingan tersebut mengenai bagaimana perkiraan pertandingan sepakbola di Piala Euro 2008 ini Jusuf Kalla menjawab, “Piala Euro ini menjadi menarik karena ini merupakan pertandingan antar negara, dan ada saatnya seorang pemain dari suatu negara menjadi lawan temannya sendiri dalam satu tim di klub sepakbolanya untuk membela negaranya masing-masing.” Pernyataan ini seperti menjadi sebuah isyarat, saat ini memang SBY dan Jusuf Kalla satu tim dalam Kabinet Indonesia Bersatu, tapi saat Pemilu 2009 bisa saja menjadi rivalnya untuk meraih kursi nomor satu di negeri ini dengan membawa bendera partainya masing-masing. Bukan begitu Pak Jusuf Kalla?

Nah kemudian, lagi-lagi Jusuf Kalla berkomentar seputar negara mana yang kemungkinan menjadi pemenang Piala Euro 2008 ini. Kalla berkomentar, “Pertandingan sepakbola ini seperti halnya Pilkada, pemenangnya bisa saja yang tidak disangka-sangka, yang diunggulkan dan diusung-usung berpeluang besar meraih kemenangan bisa saja pada akhirnya kalah.” Hmm mungkin Pak Jusuf Kalla saat itu sedang curhat colongan karena jagoan partainya kalah di Pilkada Jabar dan Sumatera Utara baru-baru ini, padahal di wilayah yang merupakan basis Partai Golkar yang sangat besar tersebut jagoannya justru malah mengalami kekalahan.

Ternyata fenomena politik di negeri ini banyak bisa ditafsirkan secara mudah melalui sepakbola….Bukan begitu Pak Jusuf Kalla?