Showing posts with label Politics. Show all posts
Showing posts with label Politics. Show all posts

Tuesday, January 5, 2010

Peneliti VS Politisi

Kayaknya ga ada abis-abisnya berita mengenai keadaan politik negeri ini, mulai dari cicak versus buaya, masalah Bank Century, dibanned-nya buku Gurita Cikeas, ini-itu, yang berkat digdayanya media di Indonesia untuk menyuarakan hal tersebut terus-menerus, sampai-sampai terngiang-ngiang terus semua keadaan negeri ini yang kayaknya penuh masalah yang nggak selesai-selesai.

Omong-omong soal politisi, siaran Live sidang-sidang di DPR secara nggak langsung makin ketauan deh kualitas para politisi di Senayan itu. Ngomong ini-itu yang kadang nggak nyambung, atau berapi-api dengan semangat 45 tapi tanpa esensi. Dulu mungkin orang-orang tau dari berita atau kabar dari mulut ke mulut betapa kadang nggak mutunya para wakil rakyat di Senayan. Ngomong kok suka ngawur????

Beberapa obrolan dengan kawan, pekerjaan sebagai peneliti ternyata berbanding terbalik dengan politisi, mengapa?

Peneliti:
Kalo peneliti, tidak masalah jika hasil penelitiannya, kajiannya, atau analisisnya untuk mengungkapkan atau memprediksi suatu keadaan ternyata salah. Selama mengikuti kaidah akademis dan runtut metode penelitian dengan baik, di ilmu sosial seperti ilmu ekonomi membenarkan kita untuk memiliki kesalahan, bahkan hingga 10 persen, yang berarti kita menggunakan tingkat kepercayaan sebesar 90 persen. Asalkan, kita tidak berbohong!

Politisi:
Kalo politisi, mana mungkin mau terlihat salah, bahkan dalam berbagai situasi harus mampu menampilkan diri sebagai pihak yang benar. Tetapi tentu saja, boleh berbohong! Mungkin secara statistik tingkat kesalahan dari statement yang dilontarkan bisa mencapai 90 persen, dan tingkat kepercayaannya bisa jadi hanya 10 persen.

Kasian yah Indonesia, setiap Pemilu terbuai dengan janji-janji, lalu kecewa, eh ketemu Pemilu lagi malah terbuai lagi....yah selanjutnya nggak lain dan nggak bukan kalo lagi-lagi KECEWA....

Jadi mau percaya siapa?

Thursday, January 22, 2009

Regenerasi Politik????

Suasana menjelang Pemilu 2009 ini mungkin tidak berbeda secara cukup signifikan dengan Pemilu 2004 lalu. Wajah-wajah lama masih menghiasi konstelasi politik negeri ini. Seakan tak menumbuhkan semangat baru di dunia politik, hanya figur-figur itu-itu saja yang masih tersedia dan juga cukup “gizi” untuk maju dalam pemilihan kepemimpinan negeri ini.

Entah mengapa, justru saya lebih terasa excited membayangkan Pemilu di tahun 2014, lima tahun lagi, menelusuri bayangan wajah-wajah yang akan menghiasi pergelaran politik di masa itu. Tentu saja kita tak akan melihat lagi wajah SBY, dengan asumsi jika terpilih lagi maka terbatasi oleh aturan yang membolehkan seseorang memimpin hanya maksimal dua periode berturut-turut. Tentu saja mungkin kita tak lagi melihat sosok Megawati, yang pada periode itu saya rasa sudah bukan momen tepat lagi untuknya. Atau mungkin tak pula melihat sosok Wiranto, yang mungkin telah mengikuti hati nuraninya untuk mengalah mempersilahkan figur yang baru untuk melangkah. Atau mungkin juga tak lagi melihat ambisinya Gus Dur yang tetap meluap untuk menjadi presiden kembali.

Lima tahun lagi, mungkin saja mereka hanya menjadi sosok dibalik layar, menggantikan sosok-sosok yang ada sekarang berada dibalik layar mereka. Sosok yang selama ini hanya mampu membisikkan, mengatur langkah dan strategi bagi mereka agar tetap lekat dengan perubahan zaman. Sekali lagi, lima tahun lagi adalah sebuah misteri, dan juga mencoba apakah akan mengubah keadaan politik saat ini yang bagi saya hanya “garink-garink”saja.

Lima tahun lagi, apakah mungkin kita tak lagi hanya terhanyut akan kegembiraan terpilihnya Obama sebagai Presiden Amerika Serikat yang ke-44, sampai-sampai meluangkan waktu untuk menonton inagurasi kemenangann 20 Januari lalu yang dihadiri ratusan ribu-bahkan jutaan pendukungnya. Sebuah kemenangan politik yang fenomenal. Atau juga tidak cuma terhanyut akan pidatonya Obama yang inspiratif itu, jika tak dapat melihatnya di televisi namun mampu meluangkan waktu untuk mengunduhnya di website Youtube. Semoga saja ke depan, ada saatnya mengikuti konstelasi politik ini lebih menarik, atau bahkan segenap rakyat sampai meluangkan waktu untuk mendengarkan sebuah pidato politik menghadirkan sebuah renaissans, hingga menghadiri dan menyaksikan pelantikan presiden barunya. Larut akan pesta demokrasi yang “sebenarnya” di negeri ini.

Bagaimanapun regenerasi akan bergulir, waktu terus berjalan, dan harapan-harapan perlu diwujudkan.

Langkah SBY yang Terselamatkan

Hari-hari ke depan merupakan langkah yang terbuka lebar bagi SBY untuk terpilih kembali menjadi presiden di Pemilu 2009 ini. Bagaimana tidak, setelah di awal pemerintahannya dihadapi peningkatan harga minyak internasional yang memaksanya untuk mengambil tindakan tidak populis dalam meningkatkan harga BBM. Belum lagi, berbagai bencana alam yang besar menimpa negeri ini membuat energi awal pemerintahannya ini pun juga tersedot pada upaya penanganan bencana tersebut.

Efek peningkatan harga BBM baik di 2005 maupun di pertengahan 2008 cukup menjadi senjata ampuh bagi lawan politiknya yang menjadikan figur SBY sebagai pemimpin yang kurang pro terhadap rakyat miskin. Mau tidak mau, peningkatan harga BBM memicu peningkatan harga komoditas lainnya, terutama makanan pokok yang secara dominan menghabiskan pendapatan bagi kalangan menengah ke bawah.

Megawati yang sebelumnya giat bermanuver akan memperjuangkan terpenuhinya kebutuhan rakyat yang murah dan mencemooh kebijakan tidak populis SBY tentu saat ini sedang duduk termangu, sambil memikirkan kembali isu-isu apa saja yang masih menarik untuk dijual. Bagaimanapun, isu mengenai pemenuhan perut rakyat merupakan isu santer dan seksi untuk terus dibicarakan dan digaungkan, meski kadang hanya “hangat-hangat tahi ayam,”

Krisis keuangan global pun meski episentrumnya di Amerika Serikat, namun terasa pula dampaknya di negeri ini. Harga saham di bursa anjlok, rupiah terdepresiasi, dan laju pertumbuhan ekspor pun tertekan seiring penurunan permintaan dunia. Dibalik krisis ini, ternyata berdampak pula terhadap iklim politik di negeri ini. Sebelumnya, banyak sekali wacana bahwa saat ini adalah saatnya para pemimpin muda maju dalam kancah kepemimpinan negeri ini. Beberapa orang mulai ramai di berbagai media, sekali dua kali muncul menyambangi berbagai forum sambil asyik berdialektika bahwa kompetensi tidak bergantung pada usia.

Krisis keuangan global tersebut juga ternyata menyontak hilangnya wacana pemimpin muda yang ramai itu. Hal ini bisa terlihat bahwa figur muda, belum tentu juga independen terhadap donor yang mendanainya. Terlihat mana yang memang independen baik dari pemikiran maupun dalam pendanaan politiknya. Sejumlah perusahaan banyak yang tergerus baik aset maupun modalnya seiring dengan anjlok harga sahamnya. Perusahaan-perusahaan yang ada tentu saja berfikir dua kali menggelontorkan sejumlah “dana” hanya untuk membiayai para penggiat politik itu, lebih baik memikirkan perusahaannya di tengah keterpurukan finansial. Alhasil, kembali sepi forum-forum dan centang perenang iklan di sejumalah media massa mengenai figur pemimpin muda, hanya tinggal satu-dua saja yang masih mampu bertahan sambil mengusung hak petani dan keunggulan produk pertanian Indonesia.

Kalau begitu, silahkan SBY, bola kembali di tangan anda, silahkan lanjutkan langkah-langkah politik anda yang sudah terbuka. Saya yang hanya rakyat jelata, hanya bisa menonton dan sesekali mengomentari saja.

Sunday, August 24, 2008

Gue Islam, tapi jangan paksa gue pilih partai lo!

Ada suatu hal yang menarik saat gw sedang makan nasi goreng di depan kosan gw.
Di gerobak tukang nasi goreng itu ada stiker besar terpampang di salah satu sudut kaca gerobak itu. Stikernya tentang salah satu partai politik, kayak di bawah ini stikernya:


Seolah-olah stiker tersebut ingin menyuarakan:

Orang Islam=Solat Menghadap Kiblat=Pilih Partai PPP.

Atau, Kalo Pilih PPP=Solatnya Menghadap Kiblat=Orang Islam.

Gw agak-agak nggak sepakat kalo agama digunakan sebagai kendaraan partai politik atau kepentingan tertentu, terutama lagi dilakukan dengan cara-cara promosi tidak elegan. Realitasnya, apa yang telah dilakukan PPP selama ini? Apakah mereka benar-benar mewakili orang Islam dan memperjuangkannya dengan sebenar-benarnya? Lalu, apa yang terjadi dengan anggotanya yang terlibat korupsi? Lalu apa jadinya konser dangdut dengan goyangan aduhai dalam kampanye-kampanye yang dilakukannya? Lalu apa jadinya dunia? Halah-halah....

Seolah-olah hari-hari menjelang Pemilu 2009 ini makin banyak saja cara untuk menunggangi suatu hal untuk mendulang suara, entah itu atas nama agama, rakyat miskin, demokrasi, kaum muda, anti korupsi, dan janji-janji surga lainnya. Semua layaknya hal yang saling intim dalam apa yang dijanjikan oleh partai-partai politik yang ada. Namun apa jadinya setelah Pemilu selesai? Toh semuanya seperti saling steril dan berjalan semaunya saja....

Come on, sudah cukuplah partai Islam ini yang sudah banyak ditinggalkan pemilihnya dengan pecah menjadi partai-partai lain dan hanya berharap dari "sisa" pemilih tradisionalnya....

Sunday, August 3, 2008

Siapa Dia?

Akhir-akhir ini iklan-iklan di televisi makin beragam, beragam bukan dalam artian para pembuat iklan semakin kreatif, namun semakin banyaknya iklan yang berisi pesan politik dan pencitraan yang ingin disampaikan kepada publik. Dalam proses pencitraan ini saya lihat beberapa hal. Pertama, iklan yang menampilkan kisah sukses yang telah dilakukan oleh seseorang dan iklan tersebut seolah-olah berfungsi me-refresh ingatan publik pada jasa-jasa positifnya. Kedua, ada juga iklan yang sifatnya lebih menonjol pada sisi marketing, atau dalam bahasa sederhananya berusaha untuk lebih pada meningkatkan popularitas.

Untuk yang pertama, biasanya iklan untuk seseorang yang sudah jelas pada tujuan yang ingin dicapai dan eksplisit pada ritual politik yang diikuti, misalnya dalam rangka mengahadapi pilkada yang sudah di depan mata. Nah kemudian, bagian kedua yang saya bingung, bentuk iklan ini biasanya tentang seseorang yang kisah sukses dan jasa-jasa apa yang telah dilakukan untuk masyarakat saja belum jelas, dan bahkan ritual politik apa yang ingin diikuti juga tidak pernah eksplisit disebutkan. Memang iklan bisa meningkatkan popularitas, namun apakah populer di iklan akan ada jaminan menjadi pilihan publik? Apakah perilaku pemilih kita hanya memilih bedasarkan siapa yang populer dan tidak populer? Kalo iya, maaf-maaf saja, saya bukan salah satu bagian itu.

Herannya, iklan tipe yang kedua justru sedang mendominasi di televisi. Mungkin sedikit banyak saya tahu orang-orang tersebut, tapi sebagian besar orang yang saya kenal dan kebetulan melihat iklan tersebut justru malah bertanya-tanya, “Siapa Dia?”
Mungkin positif bila pada akhirnya men-trigger seseorang untuk mencari tahu lebih dalam siapa orang di dalam iklan tersebut, atau malah yang terjadi hanya membuat publik bergumam “Akh, buang-buang duit saja untuk iklan di TV.”

Terurai Satu Persatu....

Presiden SBY di awal pemerintahannya berjanji, bahwa dirinya akan memimpin langsung upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Sebuah janji tentu berimbas pada bagaimana membuktikannya. Dan kali ini, lagi-lagi SBY dihadapkan pada jajaran kabinetnya sendiri yang diduga terlibat kasus aliran dana Bank Indonesia. Baca selengkapnya di sini.

Saya rasa, kasus aliran dana BI ini menjadi kasus yang diantara pihak-pihak yang terlibat memerlukan strategi cukup kompleks. Bayangkan, pihak-pihak yang terkait cukup banyak, semua seolah saat ini berjalan sendiri-sendiri, tanpa satu komando utuh. Yang satu membuka rahasia yang lain, pihak yang lain menyudutkan yang satunya lagi, dan yang disudutkan seperti tidak ada yang membela. Bahkan saya pun tidak membayangkan, bentuk game theory seperti apakah yang mesti dijalankan, dan bagaimana equilibrium-nya tidak terbayang seperti apa yang memberikan pay-off terbesar. Prisoner’s dilemma dalam bagian game theory pun seperti sudah tidak sanggup lagi memetakan permainan yang terjadi sekarang ini.

Kondisi saat ini menurut saya, satu sisi merugikan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, karena masing-masing seperti ingin menyelamatkan diri sendiri, dan tidak bergerak pada koridor yang telah mereka “sepakati” bersama (maaf ini a priori saja). Dengan demikian akan sangat sulit dalam menentukan langkah apa yang mesti diambil dengan mempertimbangkan langkah atau manuver yang mungkin diambil pihak lain. Dari sisi penegak hukum, bisa jadi dengan kondisi seperti ini malah diuntungkan, yaitu semakin mudah untuk mengurai benang informasi secara satu persatu dari pihak-pihak yang terlibat. Bisa jadi informasi yang ada mungkin saling membentur, atau mungkin melengkapi informasi yang lain, hingga didapatlah informasi kolektif yang membuka semua informasi yang selama ini tidak terungkap ke permukaan. Dengan semakin jelasnya informasi yang ada, maka akan semakin jelaslah semuanya.

Saya hanya bisa mengucapkan, selamat berfikir, selamat berhitung dan mengkalkulasikan langkah-langkahnya. Dan hari-hari sekarang...langkah presiden SBY juga menjadi sangat berharga, terutama Pemilu 2009 yang semakin mendekat. Upaya dan komitmen pemberantasan korupsi tetap terus dipelihara, atau bahkan mungkin semakin dikuatkan, tanpa pandang bulu, meskipun pihak yang ada adalah bagian dari internal pemerintahan.

Saturday, June 7, 2008

Fenomena Politik dalam Kacamata Sepak Bola

Pembukaan Piala Euro 2008 di station TV RCTI memang menjadi acara yang ditunggu-tunggu oleh para penggemar sepak bola. Namun yang bikin saya terkejut adalah kemunculan Jusuf Kalla Wakil Presiden RI menjadi salah satu komentator pertandingan perdana antara Swiss melawan Cekoslovakia. Lagi-lagi ada saja manuver politisi negeri kita untuk mendongkrak popularitasnya menjelang Pemilu 2009. Memanfaatkan persitiwa sepakbola yang ditunggu jutaan manusia di Indonesia yang ingin disuguhkan pertandingan sepakbola bermutu, bukan sepakbola versi Indonesia yang barbarian dengan tontonan pengeroyokan wasit atau tawuran antar supporter.

Komentar Jusuf Kalla mengenai pertandingan perdana Piala Euro 2008 ada yang menarik perhatian saya. Saat menjawab pertanyaan Ricky Jo presenter pertandingan tersebut mengenai bagaimana perkiraan pertandingan sepakbola di Piala Euro 2008 ini Jusuf Kalla menjawab, “Piala Euro ini menjadi menarik karena ini merupakan pertandingan antar negara, dan ada saatnya seorang pemain dari suatu negara menjadi lawan temannya sendiri dalam satu tim di klub sepakbolanya untuk membela negaranya masing-masing.” Pernyataan ini seperti menjadi sebuah isyarat, saat ini memang SBY dan Jusuf Kalla satu tim dalam Kabinet Indonesia Bersatu, tapi saat Pemilu 2009 bisa saja menjadi rivalnya untuk meraih kursi nomor satu di negeri ini dengan membawa bendera partainya masing-masing. Bukan begitu Pak Jusuf Kalla?

Nah kemudian, lagi-lagi Jusuf Kalla berkomentar seputar negara mana yang kemungkinan menjadi pemenang Piala Euro 2008 ini. Kalla berkomentar, “Pertandingan sepakbola ini seperti halnya Pilkada, pemenangnya bisa saja yang tidak disangka-sangka, yang diunggulkan dan diusung-usung berpeluang besar meraih kemenangan bisa saja pada akhirnya kalah.” Hmm mungkin Pak Jusuf Kalla saat itu sedang curhat colongan karena jagoan partainya kalah di Pilkada Jabar dan Sumatera Utara baru-baru ini, padahal di wilayah yang merupakan basis Partai Golkar yang sangat besar tersebut jagoannya justru malah mengalami kekalahan.

Ternyata fenomena politik di negeri ini banyak bisa ditafsirkan secara mudah melalui sepakbola….Bukan begitu Pak Jusuf Kalla?

Tuesday, May 27, 2008

Seputar Demonstrasi, Dialektika yang Kering, dan Elit Politik


Pada perayaan Hari Kebangkitan Nasional lalu tanggal 20 Mei 2008, terjadi demonstrasi besar-besaran, terutama di depan Istana Negara. Isunya tentu yang paling dikedepankan adalah menolak upaya pemerintahan SBY-JK meningkatkan harga BBM. Karena kebetulan saat itu juga libur nasional perayaan hari raya Waisak, sedikit penasaran untuk mengetahui bagaimana demonstrasi tersebut berlangsung, akhirnya memutuskan untuk menghabiskan waktu berjalan mengelilingi seputaran monas dan istana negara.

Demonstrasi mengenai penolakan kenaikan harga BBM tersebut kembali mengingatkan saya mengenai isu yang sama pada tahun 2005. Kebetulan saat itu saya di Senat Mahasiswa FEUI punya peran untuk memberikan “pencerdasan” terhadap fakultas lainnya (fakultas non-ekonomi) di UI dalam menjelaskan latar belakang kebijakan kenaikan harga BBM tersebut. Entah apa yang saya pikirkan saat itu, sepertinya sangat sulit rasanya menjelaskan suatu fenomena ekonomi dengan menggunakan rasional ekonomi, bahkan dengan rasional ekonomi sederhana sekalipun. Jadi, harapan saya, diskusi yang ada merupakan diskusi cerdas, bukan hanya sekedar luapan emosional saja. Diskusi yang ada pun seperti tidak konstruktif. Hanya diskusi-diskusi yang sifatnya deduktif, kesimpulan dibuat di awal, dan diskusi menjadi hanya sebuah dialektika yang sifatnya formalitas, toh kesimpulannya sudah dibuat duluan di depan. Bahkan ada selentingan yang terdengar hingga ke telinga saya, “Kalau nanti Senat Mahasiswa FEUI mau ngomong apa tentang alasan kenaikan harga BBM, pokoknya yang penting kita tolak saja.” Mendengar berita tersebut, rasanya sangat miris. Okelah kita bicara nasib rakyat miskin yang akan terkena dampak akibat kenaikan harga BBM. Tapi kalau kita menolak sesuatu dengan berangkat melalui argumen yang tidak kuat, ujung-ujungnya malah akan mempermalukan diri sendiri.

Okelah, cukup untuk romantisme masa lalu. Di sore 20 Mei 2008 itu sepertinya ada yang ganjil dalam benak saya. Terutama mengenai para demonstran saat itu, kalau boleh saya katakan mungkin “ditunggangi” oleh elit politik tertentu. Beberapa demonstran mengenakan baju dengan gambar tokoh seorang mantan menteri, dengan bertuliskan “RR tokoh masa depan Indonesia” (maaf saya kasih inisial saja di blog ini). Atau di beberapa diskusi di blog lain yang mendiskusikan tentang isu kenaikan harga BBM ini, tiba-tiba dihujani komentar bertubi-tubi dengan embel-embel “Hati Nurani” dan “W si presiden Indonesia masa mendatang.” Dalam hal ini saya tak masalah, setiap orang bebas menudukng siapa pun. Tapi alangkah sedihnya, suara penderitaan rakyat yang ingin disuarakan menjadi tidak tulus akibat ada tujuan terselubung demi keuntungan elit politik tertentu.

Adapun tokoh “KKG” (maaf saya kasih inisial lagi saja) yang juga mantan menteri. Tokoh ini berkoar-koar di berbagai media seputar perhitungannya yang “ajaib” bahwa pemerintah sebenarnya tidak perlu meningkatkan harga BBM. Menurutnya, pemerintah sebenarnya selalu untung melalui penjualan BBM, dan biaya eksplorasi sangatlah kecil, dan rakyat berhak mendapatkan BBM yang digali dari tanah milik rakyat itu sendiri.

Akkkhhh...memang tak ada habisnya perdebatan ini. Tapi sangat lucu mengenai tokoh-tokoh yang merupakan mantan menteri atau pejabat di pemerintahan sebelumnya di mana saat ini berkoar-koar mengkritik kebijakan pemerintahan saat ini dengan argumen ini dan itu. Pertanyaan simpel dari saya, “Dulu ketika Bapak-Bapak ini menjabat, apakah dulu berhasil?” Lalu, “Bukankah apa yang terjadi sekarang juga tidak terlepas dari kontribusi Bapak-Bapak ini di masa lalu?”

Memang lebih mudah untuk mengkritik, tapi kok sulit untuk bertindak kongkrit....

Saya rasa, sangatlah lucu bagi masyarakat dengan percaya diri tinggi mengusung seorang tokoh sebagai pemimpin masa depan bangsa namun berasal dari tokoh masa lalu yang gagal membawa bangsa ini lepas dari keterpurukan. Hahaha..seperti tak ada tokoh lain saja....

Sunday, May 18, 2008

Pemborosan Hanya untuk Sebuah Ritual Demokrasi

Akhir-akhir ini semakin banyaknya iklan-iklan bernuansa politik bermunculan di berbagai media, baik media cetak, televisi hingga spanduk, baliho dan billboard di berbagai sudut kota. Tentunya dalam iklan tersebut bukan menampilkan model berparas cantik atau seorang aktor yang ganteng, tapi para politisi yang mencoba menjaga popularitasnya untuk menuju kompetisi politik yang akan diikutinya.

Misalkan saja Sutrisno Bachir, Ketua Umum PAN, yang wajahnya banyak menghiasi berbagai media. Dengan slogan “Hidup adalah Perbuatan” seperti mengutip Chairil Anwar. Sutrisno hingga saat ini memang belum menunjukkan perbuatan riil dalam kebangsaan ini seperti apa. Tapi, seperti yang diberitakan majalah Tempo, Ia sudah menghabiskan Rp 20 miliar untuk mendongkrak popularitasnya tersebut. Hal itu sungguh merupakan sebuah "Perbuatan" dengan pengeluaran yang sangat besar. Adalah wajar apabila majalah Tempo memplesetkan slogan yang diusungnya itu menjadi “Hidup adalah Beriklan.”

Ada pun Wiranto, dengan partai barunya Partai Hanura juga mulai melakukan usaha menjaga popularitasnya dengan embel-embel sebagai himbauan dari seorang tokoh nasional dengan mengedepankan usaha memberantas kemiskinan di Indonesia. Namun, mungkin dari sekian dana yang terhabiskan, saya tidak tahu persis apakah porsi untuk benar-benar membantu masyarakat miskin lebih besar dari sekedar untuk mendongkrak popularitasnya. Tidak hanya beriklan di media massa, Wiranto pun mengadakan sayembara dengan imbalan hadiah hingga puluhan juta rupiah.

Satu lagi adalah Prabowo, sebagai Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sering muncul di Televisi untuk sekedar menghimbau kita untuk membeli produk-produk pertanian hasil dalam negeri. Hitung saja berapa dana yang mesti dikeluarkan untuk beriklan di televisi bila tarif iklan pada waktu tayang pukul 17.00-20.00 WIB harus mengeluarkan biaya Rp 40 juta hingga Rp 60 juta per menit. Bayangkan saja apabila dana tersebut digunakan untuk membantu petani dalam penyediaan bibit, benih, ketersediaan pupuk, dan perbaikan sarana pendukung petani lainnya. Saya rasa, dana yang dihabiskan beriklan untuk sekedar menghimbau kita untuk membeli produk pertanian dalam negeri akan terasa ironis melihat sektor pertanian kita yang semakin kalah kualitasnya dengan produk-produk pertanian impor. Apalagi negara-negara maju memberikan subsidi yang sangat besar pada sektor pertaniannya dibandingkan kita.

Demokrasi memang mahal dan juga boros secara material dan bahkan sosial. Apabila diakumulasi dari berbagai ritual demokrasi mulai dari Pilkada yang telah berlangsung di Indonesia dan juga kegiatan-kegiatan persiapan menuju Pemilu 2009 saya tidak bisa membayangkan seberapa besar dana yang telah dihabiskan. Mungkin tak masalah apabila dana yang dipakai adalah dana halal. Tapi akan sangat tidak dibenarkan dan alangkah tidak bermoralnya apabila dana yang digunakan untuk mendanai kegiatan politik berasal dari uang rakyat melalui cara-cara "tak sepantasnya." Dan alangkah ironisnya, dana yang besar tersebut hanya dihabiskan untuk sebuah ritual politik dan upaya menggebrak popularitas, namun sedikit efek multiplier-nya terhadap kesejahteraan rakyat.

Monday, April 14, 2008

Pemetaan Partai Politik tidak Menjamin Menang dalam Pemilihan Langsung

Kekalahan pasangan Dani-Iwan yang diusung Partai Golkar dalam Pilkada Jabar menunjukkan bahwa pemetaan partai politik tidak menjamin akan memenangkan pasangan yang di-back-up oleh partai mayoritas. Seperti kita ketahui, Propinsi Jabar merupakan tempat massa terbesar untuk Partai Golkar.

Lagi-lagi kita diberi pelajaran, bahwa dalam pemilihan langsung, rakyat lebih melihat figur, bukan partai politik di belakangnya. Dengan ini, pemilihan figur yang dimajukan partai politik menjadi sangat penting. Pemilu 2004 lalu saja sudah memberi pelajaran, SBY yang didukung oleh Partai Demokrat yang merupakan partai gurem masa itu ternyata berhasil mengalahkan calon-calon lain yang didukung oleh partai bersuara besar seperti Megawati dengan PDI-P-nya, dan Wiranto dengan Partai Golkar-nya.

Ke depan, adalah kalkulasi yang sangat kritikal dalam menentukan pasangan calon dalam pemilihan langsung. Popularitas calon juga perlu dipoles sedemikian rupa agar tidak asing di mata para pemilih. Mesin partai politik, sekali lagi, tidak akan berjalan secara otomatis, dan peran marketing figur dan membaca preferensi rakyat jangan coba untuk diabaikan.

Kejadian Pilkada Jabar ini membuat masyarakat berfikir bahwa pemetaan politik di Jabar sudah berubah seperti diberitakan di sini. Sebaiknya kita melihat dari sisi lain, ini pemilihan langsung yang dihadapkan pada figur-figur, bukan partai. Bisa jadi pemetaan politik ternyata tidak berubah, namun karena ada deviasi pilihan akibat preferensi masyarakat terhadap figur yang berkompetisi membuat pemetaan partai politik menjadi meleset. Jangan juga partai yang pasangan calonnya berhasil memenangkan Pilkada Jabar ini terburu-buru percaya diri. Mestinya dijadikan alat pacu untuk bekerja lebih giat di ranah kompetisi politik yang semakin ketat. Siapa tahu di saat berleha-leha, ada kekuatan lain yang sedang mempersiapkan diri lebih matang yang tinggal hanya menunggu waktu saja untuk muncul di kompetisi politik yang lain.

Pilkada Jabar: Agum, Sudahlah!

Pilkada untuk Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat dimenangkan oleh pasangan Heryawan dan Dede Yusuf (Hade). Kekalahan terjadi pada pasangan dukungan Golkar, Dani-Iwan, dan menunjukkan berkali-kali Agum Gumelar gagal dalam berbagai ranah kompetisi politik di berbagai level seperti yang diberitakan di sini.

Agum yang sebelumnya pernah mencalonkan sebagai wakil presiden dipasangkan bersama Hamzah Haz pada Pemilu 2004 mengalami kegagalan. Selanjutnya, pengusungan Agum untuk Gubernur DKI Jakarta pun mengalami kegagalan pula, bahkan sebagai calon yang running dalam Pilkada DKI Jakarta pun tidak. Dan sekarang, ketika berhasil dinobatkan sebagai calon Gubernur Jabar ternyata berujung pada tidak ketidaksuksesan mendulang suara, dengan bercokol pada urutan nomor dua di mata rakyat Jabar.

Okey Pak Agum, selanjutnya wilayah kompetisi politik mana lagi yang Anda coba lagi? Walikota atau mungkin Bupati? Atau kejadian ini menyiratkan, sudahlah cukup Pak Agum, kompetisi politik ini kita akhiri saja, masih banyak ruang aktualisasi lain untuk mengabdi pada rakyat. Tidak usah berdebat lagi seperti di sini dan di sini.

Friday, April 4, 2008

Zimbabwe Elections: Kapan yang Muda Bicara?

President Zimbabwe Mugabe masih saja bertekad untuk memenangkan pemilihan umum untuk menduduki jabatan presiden kembali. Padahal sudah hampir dua dekade kepemimpinannya dia tidak mampu membawa Zimbabwe ke arah yang lebih baik, bahkan kini negara itu diterpa hiperinflasi hingga lebih dari 100.000 persen.

Seperti yang diberitakan BBC News di sini, “...President Mugabe is going to fight to the last, and he's not giving up, he's not going anywhere, he hasn't lost the election..."

Saya rasa, generasi yang lebih muda di Zimbabwe perlu memiliki semangat dan tekad melebihi Mugabe apabila ingin merebut dominasinya dan mencapai perubahan kondisi di negeri itu. Ibaratnya, yang tua saja bisa, tentu yang muda juga bisa! Atau kita bisa bilang, "Pak Tua, sudahlah!"