Sunday, August 24, 2008

Gue Islam, tapi jangan paksa gue pilih partai lo!

Ada suatu hal yang menarik saat gw sedang makan nasi goreng di depan kosan gw.
Di gerobak tukang nasi goreng itu ada stiker besar terpampang di salah satu sudut kaca gerobak itu. Stikernya tentang salah satu partai politik, kayak di bawah ini stikernya:


Seolah-olah stiker tersebut ingin menyuarakan:

Orang Islam=Solat Menghadap Kiblat=Pilih Partai PPP.

Atau, Kalo Pilih PPP=Solatnya Menghadap Kiblat=Orang Islam.

Gw agak-agak nggak sepakat kalo agama digunakan sebagai kendaraan partai politik atau kepentingan tertentu, terutama lagi dilakukan dengan cara-cara promosi tidak elegan. Realitasnya, apa yang telah dilakukan PPP selama ini? Apakah mereka benar-benar mewakili orang Islam dan memperjuangkannya dengan sebenar-benarnya? Lalu, apa yang terjadi dengan anggotanya yang terlibat korupsi? Lalu apa jadinya konser dangdut dengan goyangan aduhai dalam kampanye-kampanye yang dilakukannya? Lalu apa jadinya dunia? Halah-halah....

Seolah-olah hari-hari menjelang Pemilu 2009 ini makin banyak saja cara untuk menunggangi suatu hal untuk mendulang suara, entah itu atas nama agama, rakyat miskin, demokrasi, kaum muda, anti korupsi, dan janji-janji surga lainnya. Semua layaknya hal yang saling intim dalam apa yang dijanjikan oleh partai-partai politik yang ada. Namun apa jadinya setelah Pemilu selesai? Toh semuanya seperti saling steril dan berjalan semaunya saja....

Come on, sudah cukuplah partai Islam ini yang sudah banyak ditinggalkan pemilihnya dengan pecah menjadi partai-partai lain dan hanya berharap dari "sisa" pemilih tradisionalnya....

Sunday, August 3, 2008

Siapa Dia?

Akhir-akhir ini iklan-iklan di televisi makin beragam, beragam bukan dalam artian para pembuat iklan semakin kreatif, namun semakin banyaknya iklan yang berisi pesan politik dan pencitraan yang ingin disampaikan kepada publik. Dalam proses pencitraan ini saya lihat beberapa hal. Pertama, iklan yang menampilkan kisah sukses yang telah dilakukan oleh seseorang dan iklan tersebut seolah-olah berfungsi me-refresh ingatan publik pada jasa-jasa positifnya. Kedua, ada juga iklan yang sifatnya lebih menonjol pada sisi marketing, atau dalam bahasa sederhananya berusaha untuk lebih pada meningkatkan popularitas.

Untuk yang pertama, biasanya iklan untuk seseorang yang sudah jelas pada tujuan yang ingin dicapai dan eksplisit pada ritual politik yang diikuti, misalnya dalam rangka mengahadapi pilkada yang sudah di depan mata. Nah kemudian, bagian kedua yang saya bingung, bentuk iklan ini biasanya tentang seseorang yang kisah sukses dan jasa-jasa apa yang telah dilakukan untuk masyarakat saja belum jelas, dan bahkan ritual politik apa yang ingin diikuti juga tidak pernah eksplisit disebutkan. Memang iklan bisa meningkatkan popularitas, namun apakah populer di iklan akan ada jaminan menjadi pilihan publik? Apakah perilaku pemilih kita hanya memilih bedasarkan siapa yang populer dan tidak populer? Kalo iya, maaf-maaf saja, saya bukan salah satu bagian itu.

Herannya, iklan tipe yang kedua justru sedang mendominasi di televisi. Mungkin sedikit banyak saya tahu orang-orang tersebut, tapi sebagian besar orang yang saya kenal dan kebetulan melihat iklan tersebut justru malah bertanya-tanya, “Siapa Dia?”
Mungkin positif bila pada akhirnya men-trigger seseorang untuk mencari tahu lebih dalam siapa orang di dalam iklan tersebut, atau malah yang terjadi hanya membuat publik bergumam “Akh, buang-buang duit saja untuk iklan di TV.”

Terurai Satu Persatu....

Presiden SBY di awal pemerintahannya berjanji, bahwa dirinya akan memimpin langsung upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Sebuah janji tentu berimbas pada bagaimana membuktikannya. Dan kali ini, lagi-lagi SBY dihadapkan pada jajaran kabinetnya sendiri yang diduga terlibat kasus aliran dana Bank Indonesia. Baca selengkapnya di sini.

Saya rasa, kasus aliran dana BI ini menjadi kasus yang diantara pihak-pihak yang terlibat memerlukan strategi cukup kompleks. Bayangkan, pihak-pihak yang terkait cukup banyak, semua seolah saat ini berjalan sendiri-sendiri, tanpa satu komando utuh. Yang satu membuka rahasia yang lain, pihak yang lain menyudutkan yang satunya lagi, dan yang disudutkan seperti tidak ada yang membela. Bahkan saya pun tidak membayangkan, bentuk game theory seperti apakah yang mesti dijalankan, dan bagaimana equilibrium-nya tidak terbayang seperti apa yang memberikan pay-off terbesar. Prisoner’s dilemma dalam bagian game theory pun seperti sudah tidak sanggup lagi memetakan permainan yang terjadi sekarang ini.

Kondisi saat ini menurut saya, satu sisi merugikan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, karena masing-masing seperti ingin menyelamatkan diri sendiri, dan tidak bergerak pada koridor yang telah mereka “sepakati” bersama (maaf ini a priori saja). Dengan demikian akan sangat sulit dalam menentukan langkah apa yang mesti diambil dengan mempertimbangkan langkah atau manuver yang mungkin diambil pihak lain. Dari sisi penegak hukum, bisa jadi dengan kondisi seperti ini malah diuntungkan, yaitu semakin mudah untuk mengurai benang informasi secara satu persatu dari pihak-pihak yang terlibat. Bisa jadi informasi yang ada mungkin saling membentur, atau mungkin melengkapi informasi yang lain, hingga didapatlah informasi kolektif yang membuka semua informasi yang selama ini tidak terungkap ke permukaan. Dengan semakin jelasnya informasi yang ada, maka akan semakin jelaslah semuanya.

Saya hanya bisa mengucapkan, selamat berfikir, selamat berhitung dan mengkalkulasikan langkah-langkahnya. Dan hari-hari sekarang...langkah presiden SBY juga menjadi sangat berharga, terutama Pemilu 2009 yang semakin mendekat. Upaya dan komitmen pemberantasan korupsi tetap terus dipelihara, atau bahkan mungkin semakin dikuatkan, tanpa pandang bulu, meskipun pihak yang ada adalah bagian dari internal pemerintahan.

Saturday, August 2, 2008

Mengerti Random Sampling hanya dari kejadian sehari-hari

Seminggu ini gue dihabiskan untuk ikut pelatihan metode pelatihan dan belajar macam-macam pendekatan statistika (lagi) dan preketele-preketele lainnya...Hufh..kayaknya mulai terjerembab lagi sama istilah mean, standard deviasi, normalitas, R-square, parametrik, non-parametrik, etc.bla.bla.bla....Pelatihan ini memang layaknya kuliah beneran (baca: kuliah konvensional), dengan pengajar yang tipe peneliti murni, kadang keliatan autis, sibuk sama slide-nya sendiri, dengan penjelasan yang sering meloncat ke satu hal dan balik lagi ke bagian sebelumnya secara abstrak...Damn, bener-bener monoton dan bikin gue ngantuk berat....Saking bosennya kadang gue sempet tidur beberapa kali...atau mengumpat hal-hal penting...maki-maki gak jelas (sorry nih yang buat duduk di sebelah gue, jadi korban keanehan gue yang suka kambuh..Hihihihihi....).

Dari segala macam hal membosankan itu, ternyata ada hal yang okey menurut gue. Pengajarnya mampu menganalogikan bagaimana proses random sampling dengan hal yang menurut gue sederhana tapi cukup mengena di hati para peserta yang nyaris muntah-muntah dengan mata udah kayak lampu lima watt. Proses random sampling mampu diterangkan hanya melalui kejadian seorang koki untuk mengetahui apakah masakan yang dia buat sudah pas rasanya, atau sudah cukup masak. Bayangkan saja kuah dalam suatu kuali itu adalah populasi, proses pencicipan kuah tersebut sudah pas rasanya atau belum hanya melalui satu sendok cicipan, ini merupakan proses random sampling. Setiap kuah yang ada di kuali mempunyai probabilitas yang sama untuk terambil oleh sendok sang koki. Sample dari satu kuah sendok itu bisa digunakan untuk mengetahui kondisi populasi (dalam hal ini kuah dalam kuali tersebut). Secara tidak sadar sang koki telah menduga kondisi populasi melalui sample yang dia ambil. Jadi, ternyata hanya begitulah proses random sampling..Hahahahaha.....

Mungkin bagi sebagian orang contoh ini biasa-biasa aja, tapi menurut gue ini sebuah contoh yang sederhana dan brilian....Maklum, sebagai mantan asisten dosen untuk kuliah statistika ekonomi, gue gak sempet kepikiran untuk bisa kasih contoh kayak begitu, malah gue jelasin dengan segambreng penjelasan penuh istilah antah-berantah dengan alhasil mahasiswa-mahasiwa gue ngences-ngences dan kebingungan (akhh...lebay deh gue...).