


Akhir-akhir ini banyak novel hasil torehan tinta anak negeri yang kalau gue bisa katakan memiliki benang merah yang sama. Yaitu betapa pentingnya menyuburkan harapan, angan-angan dan cita-cita, dan kemudian bertanggung jawab atas semua harapan, angan-angan dan cita-cita tersebut. Artinya, tentu saja dengan usaha, ikhtiar, dan kerja keras untuk mewujudkannya, bukan hanya berakhir dalam sebuah perenungan di atas tempat tidur sambil memandang atap-atap langit rumah.
Tetralogi Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, Trilogi Negeri 5 Menara-nya A. Fuadi hingga yang terakhir gue baca 9 Summers 10 Autums-nya Iwan Setyawan, semua mengguratkan semangat yang sama, latar belakang yang sama, dan keberhasilan mengubah nasib menjadi lebih baik. Novel-novel tersebut menggambarkan bagaimana kondisi keterbelakangan ekonomi, hidup di tengah-tengah kaum udik, dan segala lika-liku kehidupan tak mampu membungkam seseorang mewujudkan harapannya. Meski bagi mereka awalnya adalah sebuah hal yang mustahil, namun dengan kondisi lingkungan yang terus mampu memelihara harapan tersebut terus melekat dalam diri mereka, apapun akan menjadi mungkin.
Pendidikan, dalam hal ini boleh dikatakan sebagai muara dari seseorang mampu mengeskalasi status sosial, menggapai mobilitas sosial secara vertikal. Selain itu adalah semangat juang yang tak pernah putus, keyakinan bahwa kesuksesan tidak bisa dibangun dalam satu malam. Ia butuh peluh keringat, air mata bahkan mungkin tetesan darah. Usaha dan semangat yang konsisten dan persisten.
Gue rasa Indonesia memang perlu bacaan-bacaan seperti novel-novel tersebut. Menjadi inspirasi bagi orang-orang yang nyaris putus asa untuk mampu mengecap pendidikan tinggi. Bahwa masih ada kesempatan untuk mengubah nasib, menaiki status sosial lebih tinggi. Dan novel-novel tersebut juga sekaligus sedikit "menyindir" bagi orang-orang yang secara ekonomi berlebihan namun hanya sibuk bermimpi dan tanpa usaha.
Ada sebuah Quote menarik dari Michelangelo:
"The greatest danger for most of us is not that our aim is too high and we miss it, but that it is too low and we reach it."