Showing posts with label Government Failure. Show all posts
Showing posts with label Government Failure. Show all posts

Wednesday, August 5, 2009

Soal Kereta Api Yang Gak Jelas

Mungkin postingan ini diilhami oleh kejadian tabrakan antar kereta baru-baru ini (lihat di sini). Namun gue bukan mau komentar tentang gimana kecelakaan itu terjadi, cuma gue pernah menjadi korban betapa ketidakprofesionalannya PT KAI. Berikut ceritanya:

Suatu hari dari rumah gue di Bogor pagi-pagi sekitar jam 9an mau berangkat menuju kampus UI di Depok. Hari itu di rumah udah ga ada orang, duit gue di kantong tinggal 3 ribu perak. Bingung banget gimana cara berangkat ke kampus tapi ga ada ongkos. Teringat sama nyokap yang suka naruh duit receh di guci kecil dekat kamar mandi. Korek-korek dikit, akhirnya terkumpul duit cepe-an total 500 perak. Okeh, gue udah punya 3500 perak sekarang, 1500 cukup buat naek angkot ke stasiun, dan 2 ribu-nya buat beli tiket kereta ekonomi. Berencana gue mau ngambil duit di kampus, soalnya di fakultas teknik ada ATM BNI yang pecahan 20ribu, kalo ngga salah saldo duit gue tinggal 40ribu-an gitu. ATM BNI itu adalah ATM surga buat gue, karena gue bisa ambil duit gue sampe polllll...sisa saldo 20 ribu aja bisa gue tarik di ATM itu.

Okeh, sampailah gue di stasiun, beli tiket, dan masuk ke kereta ekonomi berdiri sambil clingak-clinguk nunggu kereta berangkat. Sekitar 15 menit kemudian kereta berangkat, semua berjalan seperti biasanya, kereta ekonomi yang bau, kotor, dan banyak orang jualan serta pengemis2 lalu-lalang itu melaju secara perlahan. Bagi gue, kereta ekonomi adalah pemandangan negeri gue yang sebenarnya, jauh dari centang-perenang kehidupan kota yang gemerlap. Sejumlah penyakit sosial tumplek di situ. Orang miskin, cacat, pengemis, pengamen, pencopet, sampe orang yang punya kelainan seks suka mencari kesempatan dalam kesempitan memuaskan seksual fisiknya dengan menempelkan bagian tubuhnya ke lawan jenis ada semua di situ. Naek kereta ekonomi sama aja kita masuk sejenak ke dalam fenomena masyarakat yang termarjinalisasi secara sosial dan ekonomi. (aih serius amat gue nulisnya)

Beberapa menit kemudian, tak disangka pas kereta melaju diantara bojong-citayam tiba2 berhenti. Gue pikir memang seperti biasa kereta ekonomi suka berhenti2 sesukanya, kadang tanpa pemberitahuan pula kenapa itu kereta berhenti, entah apa ada yg kebelet pipis kah, atau ada kerusakan teknis kah, kereta ekonomi bisa berhenti sesuka hatinya berasa penumpang mesti maklum2 aja dengan persoalan itu. Istilah: "Konsumen adalah Raja," hahaha ke laut aja lo, di fasilitas publik kayak begini kagak berlaku.

Tapi berhentinya kereta kali ini seperti lain dari biasanya. Tiba2 orang2 pada keluar, ga seperti biasanya org2 yang tetep di dalam kereta menunggu meskipun kereta berhenti cukuplama. Tiba2 ada yang bilang kalo kereta berentinya bakal lama, bisa 2-3 jam karena ada pemadaman listrik bergilir se-Jawa-Bali. Damn! semua orang pada keluar mutusin lanjut perjalanan dengan naek angkot. Dan gue baru inget kalo gue ga punya duit sama sekali, OMG mana di tengah sawah pula....bagaimana nasib gue ini....

Dalam hati gue, anjrit kalo tau ada pemadaman listrik bergilir kenapa sih ga dikasih tau sebelumnya gitu loh, dan juga kenapa tuh kereta tetep ngotot berangkat. Sial bener dah gue, mana hari itu jam 11 ada acara perkenalan organisasi2 di kampus buat Mahasiswa Baru (Maba). Dan gue mesti ngasih sambutan di acara itu.

Hampir 1 jam nunggu, gue mulai mati gaya. Akhirnya gue coba keliling2 gerbong dari depan sampe belakang, siapa tau ketemu temen senasib yang bisa diajak ngobrol. Sialnya ternyata ga ada satupun yang gue temuin. Bingung gue bener2 tambah mati gaya. Akhirnya gue nongkrong bareng tukang rokok, tukang koran, dan beberapa pengemis di salah satu gerbong. Duduk-duduk sambil dengerin orang2 itu ngobrol ga jelas, trus tidur2an di kursi kereta ekonomi yang keras itu.

Tiba2 hape gue geter, sebenernya gue paling males keluarin hape di kereta, maklumlah gudangnya copet di situ. Gue pindah ke gerbong sebelah yang agak sepi untuk keluarin hape. Pas gue liat yang telvon Barjo, Kadiv Hublu Senat FEUI, gue angkat dan langsung terdengar suara:

Barjo (B) : "Woy bozz, mana lu? Nanti jangan lupa acara jam 11 ya!"
Gue (G) : "Man gue masih di kereta nih, kejebak gue keretanya mogok"
B : "Memang posisi lo di mana?"
G : "Keretanya lagi ada di tengah sawah nih, pokoknya ga jelas gitu"
B : "Yaudah lo turun naek angkot aja!"
G : "Man, kalo gue ada duit sih gue dah naek angkot dari tadi, masalahnya gue ga ada duit sama sekali, 100 perak pun gue ga ada"
B : "Yaudah lo naek taksi aja nanti kalo dah nyampe kampus kita yang talangin dulu"
G : "Woy lo jangan over ekspektasi deh, di sini angkot lewat aja dah syukur, jangan ngarep bisa ada taksi lewat sini"
B : "Wuahahahaha...Yowes lah kita tunggu aja di sini, lo pikirin aja gimana caranya sampe sini"
G : "Okey2, lo tungguin gw aja, siapa tau keretanya bentar lagi jalan, nanti kalo ternyata gue blom datang2 juga, lo wakilin aje ye"
B : "Sipp bozz"

Okey, kembali lagi idup gue nelangsa di dalam gerbong kereta yang ga jelas kapan jalannya. Dah hampir 2 jam gue nunggu sampe abis 1 buku gue selesai baca (kebetulan bukunya tipis sih :)), dan akhirnya kereta jalan juga. Oh God Thanks! Selama kereta melaju, gue ga berhenti2nya sesekali melihat jam, panik takut ga sempat nyampe kampus jam 11. Bener aja, kereta akhirnya nyampe stasiun UI jam setengah 12. Begitu kereta berhenti, gue langsung buru2 turun. Udah ga kepikir naek ojek (karena ga ada duit), atau nunggu bis kuning yang jam segitu supirnya suka datang semaunya, biasanya masih pada asik ngopi2 sama maen gaple di pool depan asrama. Yaudah gue jalan cepet (kayaknya lebih keliatan lari sih) menembus jalan depan FISIP UI sampe menyusuri jalan ke FEUI. Dengan masih ngos2an dan keringetan akhirnya gue sampe juga di kampus, dan langsung menuju Auditorium. Dan bagus banget, pas gue nyampe pas acaranya udah selesai. Wuidihhhh gondok bener. Gara2 kereta sialan dan kebodohan gue yang ga bawa duit sama sekali. Akhirnya sia2 juga perjuangan menuju kampus, acara selesai tanpa gue kagak sempet nongol di acara itu (Ketua macam apa lo far????).

Mungkin itu kejadian sekitar 4 tahun lalu, tapi sekarang gue liat profesionalisme PT KAI belum juga banyak berubah secara signifikan. Pertanyaannya, jadi mau sampe kapan kondisi transportasi di Indonesia kayak begini terus? Helloooo, jangan ngarep deh bangun monorail atau MRT segala. Ngatur kereta api yang masih konvensional sejagad raya ini aja masih belom bener. Malulah kalo begini terus.

Moral story: JANGAN PERNAH PERGI TAPI NGGA BAWA DUIT SEPESER PUN!

Tuesday, May 27, 2008

Petronas VS Pertamina


Gambar di atas adalah gedung Petronas di Malaysia, dan Gedung Pertamina di Lapangan Banteng Jakarta Pusat. Dari melihat bentuk gedungnya saja, sepertinya sudah cukup berbicara banyak bagaimana kiprah kedua perusahaan minyak itu saat ini.

Malaysia memang dahulu banyak belajar dari Indonesia bagaimana mengelola perusahaan minyak dengan baik. Dan pelajaran itu sepertinya sungguh-sungguh dijalankan Malaysia dengan baik. Petronas kini menjadi perusahaan minyak kelas dunia dengan keuntungan USD 51 miliar atau Rp 459 triliun pada 2007. Porsi 65 persen keuntungan digunakan untuk membayar pajak dan dividen, sisanya tentu untuk diinvestasikan kembali.

Lalu, bagaimana dengan Pertamina? Rasanya saya bingung dengan kondisi industri perminyakan dan gas di negeri ini. Dengan berbagai masalah yang terjadi, sepertinya persoalan menyangkut sektor ini bagaikan benang kusut yang sulit untuk diuraikan kembali. Kondisi di mana Indonesia yang kini menjadi net-importir minyak, lifting produksi minyak yang terus menurun, konversi minyak tanah ke gas yang dihadapkan justru kelangkaan tabung gas di mana-mana, dan berbagai hal lainnya.

Mohd. Hassan Marican, Kepala Eksekutif Syarikat Petronas dalam wawancara oleh Tempo mengenai bagaimana Petronas bisa menjadi perusahaan kelas dunia menjawab dengan singkat, “Kami didirikan sebagai entitas komersial. Karena itu kami harus berkompetisi.” Mungkin jawabannya singkat, tapi itu berarti sangat dalam melihat kondisi yang terjadi di negeri kita. Yaitu, sudahkah perusahaan minyak kita mengedepankan profesionalisme dan berdiri sebagai entitas komersil dengan baik? Apakah benar tidak ada aktivitas rente ekonomi di dalamnya? Apakah benar tidak ada pengaruh politik dalam kebijakan perusahaannya?

Memang banyak pertanyaan belum atau mungkin tidak akan pernah terjawab mengenai hal ini. Mungkin sambil merenungkan jawabannya, bolehlah bermimpi di suatu saat nanti, kita punya gedung semegah gedung Petronas di Malaysia.

Friday, April 4, 2008

Peluang Kecurangan Tender yang Semakin Tinggi

Seperti diberitakan Kompas di sini, menyatakan bahwa pengadaan barang dan jasa oleh BUMN tidak perlu melalui tender seperti yang disyaratkan dalam Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003. Setiap BUMN dapat membuat sendiri aturan tentang pengadaan. Untuk itu akan segera dikeluarkan surat keputusan soal sistem pengadaan barang dan jasa.

Alasan yang mendasarinya menurut Meneg BUMN Sofyan Djajil adalah seringkali pengadaan barang dan jasa dibutuhkan secara mendesak untuk memenuhi kinerja BUMN. Menurut saya, ini seperti dua belah mata pisau, satu sisi bisa menjadi solusi akan sering lamanya proses pengadaan barang dan jasa pemerintahan melalui birokrasi yang berbelit-belit. Namun di sisi lain, hal ini pula semakin terbukanya peluang penyelewengan, ketidakobjektifan, kegiatan rent-seeking serta proses KKN dalam pengadaan barang dan jasa tersebut.

Saat ini saja, sepertinya praktek kecurangan dan penyelewengan dalam pengadaan barang dan jasa pemerintahan seperti hal yang sudah lumrah. Misalkan saja, peserta tender yang ikut serta seringkali merupakan bagian dari lembaga pemerintahan yang mengadakan tender itu sendiri, dengan cara bernaung di bawah institusi fiktif; pemenang tender seringkali sudah ditentukan di awal, sehingga peserta tender lainnya adalah hasil undangan kandidat yang sudah pasti menang dengan iming-iming imbalan tertentu; kualitas barang dan jasa yang ada seringkali di bawah standar yang dibutuhkan, hal ini terjadi karena dana yang dianggarkan mesti dipotong dan diambil oleh oknum tertentu, namun pengeluaran yang mesti dilaporkan adalah dana keseluruhan sebelum dipotong. Maka dari itu, kualitas barang dan jasa mesti diturunkan.

Saya rasa masih banyak lagi kecurangan-kecurangan yang selama ini terus berlangsung dan tidak pernah terkuak. Semua bernaung atas nama pemenuhan kebutuhan hidup PNS yang berpenghasilan rendah, kebutuhan tender yang mendesak, ataupun tekanan politik dari pihak yang memiliki bargainning power tinggi.

Saya kira, himbauan Meneg BUMN agar BUMN tidak perlu mentaati Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah akan semakin membuka peluang kecurangan dan penyelewengan dalam proses tender tersebut. Lalu, mau sampai kapan hal seperti ini terus terjadi?

Kelangkaan Elpiji: Pertamina Punya Siapa?

Soal kelangkaan pasokan Elpiji yang terjadi saat ini memang meresahkan masyarakat. Semestinya, bahan bakar gas ini menjadi andalan penyediaan kebutuhan energi rumah tangga seiring harga minyak tanah terus meningkat serta pasokannya yang menjadi terbatas. Konversi minyak tanah ke gas juga sedang gencar-gencarnya dilaksanakan oleh pemerintah.

Namun, kelangkaan pasokan gas saat ini mengibaratkan bahwa buruknya distribusi dan kemampuan Pertamina dalam membaca kebutuhan konsumen terhadap Elpiji. Penyediaan Elpiji pun semestinya dapat dipikirkan melalui berbagai skenario antisipasi resiko kemungkinan tidak match-nya antara kebutuhan dan penyediaan Elpiji di masyarakat. Lucunya, kejadian ini seperti banyak pihak yang tidak mau disalahkan. Seperti yang dikutip dari detikcom di sini sebagai berikut:
“...Untuk elpiji, kami sudah cek ke beberapa tempat. Memang sejak Pertamina menyesuaikan harga yang 50 kg, pada bergeser ke 12 kg. Tapi itu korporat, bukan penanganan pemerintah. Karena pemerintah menangani yang 3 kg...
...Menurut Purnomo, pemerintah saat ini fokus menjaga agar subsidi elpiji 3 kg berjalan sesuai yang direncanakan di APBN...”

Menurut saya ini suatu statement yang sangat aneh dari seorang Menteri ESDM, seolah-olah ada situasi di mana Pertamina adalah Pemerintah, dan situasi lain di mana Pertamina adalah korporat yang bukan bagian dari Pemerintah. Sebenarnya bagaimana sih status dan tanggung jawab Pertamina dalam penyediaan Elpiji?