Friday, January 23, 2009

Scene Eight: The Spirit Carries On (Dream Theater)

Entah terlalu melankolis atau nggak gue jadi suka lagu ini..liriknya apa lagi, postingnya aja sambil meler-meler, pusing-pusing, dan batuk-batuk gak jelas..berasa orang TBC..hufh….

Scene Eight: The Spirit Carries On (Dream Theater)

Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?

They say "Life is too short"
"The here and the now"
And "You`re only given one shot"
But could there be more
Have I lived before
Or could this be all that we`ve got?

If I die tomorrow
I`d be alright
Because I believe
That after we`re gone
The spirit carries on

I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before
I`m not scared anymore
I know that my soul will transcend

I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try

If I die tomorrow
I`d be alright
Because I believe
That after we`re gone
The spirit carries on


"Move on, be brave”
Don`t weep at my grave
Because I`m no longer here
But please never let
Your memories of me disappear"

Safe in the light that surrounds me
Free of the fear and the pain
My questioning mind
Has help me to find
The meaning in my life again
Victoria`s real
I finally feel
At peace with the girl in my dreams
And now that I`m here
It`s perfectly clear
I found out what all of this means

If I die tomorrow
I`d be alright
Because I believe
That after we`re gone
The spirit carries on

Okey, everything's gonna be alright Gaffari.....

Thursday, January 22, 2009

Regenerasi Politik????

Suasana menjelang Pemilu 2009 ini mungkin tidak berbeda secara cukup signifikan dengan Pemilu 2004 lalu. Wajah-wajah lama masih menghiasi konstelasi politik negeri ini. Seakan tak menumbuhkan semangat baru di dunia politik, hanya figur-figur itu-itu saja yang masih tersedia dan juga cukup “gizi” untuk maju dalam pemilihan kepemimpinan negeri ini.

Entah mengapa, justru saya lebih terasa excited membayangkan Pemilu di tahun 2014, lima tahun lagi, menelusuri bayangan wajah-wajah yang akan menghiasi pergelaran politik di masa itu. Tentu saja kita tak akan melihat lagi wajah SBY, dengan asumsi jika terpilih lagi maka terbatasi oleh aturan yang membolehkan seseorang memimpin hanya maksimal dua periode berturut-turut. Tentu saja mungkin kita tak lagi melihat sosok Megawati, yang pada periode itu saya rasa sudah bukan momen tepat lagi untuknya. Atau mungkin tak pula melihat sosok Wiranto, yang mungkin telah mengikuti hati nuraninya untuk mengalah mempersilahkan figur yang baru untuk melangkah. Atau mungkin juga tak lagi melihat ambisinya Gus Dur yang tetap meluap untuk menjadi presiden kembali.

Lima tahun lagi, mungkin saja mereka hanya menjadi sosok dibalik layar, menggantikan sosok-sosok yang ada sekarang berada dibalik layar mereka. Sosok yang selama ini hanya mampu membisikkan, mengatur langkah dan strategi bagi mereka agar tetap lekat dengan perubahan zaman. Sekali lagi, lima tahun lagi adalah sebuah misteri, dan juga mencoba apakah akan mengubah keadaan politik saat ini yang bagi saya hanya “garink-garink”saja.

Lima tahun lagi, apakah mungkin kita tak lagi hanya terhanyut akan kegembiraan terpilihnya Obama sebagai Presiden Amerika Serikat yang ke-44, sampai-sampai meluangkan waktu untuk menonton inagurasi kemenangann 20 Januari lalu yang dihadiri ratusan ribu-bahkan jutaan pendukungnya. Sebuah kemenangan politik yang fenomenal. Atau juga tidak cuma terhanyut akan pidatonya Obama yang inspiratif itu, jika tak dapat melihatnya di televisi namun mampu meluangkan waktu untuk mengunduhnya di website Youtube. Semoga saja ke depan, ada saatnya mengikuti konstelasi politik ini lebih menarik, atau bahkan segenap rakyat sampai meluangkan waktu untuk mendengarkan sebuah pidato politik menghadirkan sebuah renaissans, hingga menghadiri dan menyaksikan pelantikan presiden barunya. Larut akan pesta demokrasi yang “sebenarnya” di negeri ini.

Bagaimanapun regenerasi akan bergulir, waktu terus berjalan, dan harapan-harapan perlu diwujudkan.

Langkah SBY yang Terselamatkan

Hari-hari ke depan merupakan langkah yang terbuka lebar bagi SBY untuk terpilih kembali menjadi presiden di Pemilu 2009 ini. Bagaimana tidak, setelah di awal pemerintahannya dihadapi peningkatan harga minyak internasional yang memaksanya untuk mengambil tindakan tidak populis dalam meningkatkan harga BBM. Belum lagi, berbagai bencana alam yang besar menimpa negeri ini membuat energi awal pemerintahannya ini pun juga tersedot pada upaya penanganan bencana tersebut.

Efek peningkatan harga BBM baik di 2005 maupun di pertengahan 2008 cukup menjadi senjata ampuh bagi lawan politiknya yang menjadikan figur SBY sebagai pemimpin yang kurang pro terhadap rakyat miskin. Mau tidak mau, peningkatan harga BBM memicu peningkatan harga komoditas lainnya, terutama makanan pokok yang secara dominan menghabiskan pendapatan bagi kalangan menengah ke bawah.

Megawati yang sebelumnya giat bermanuver akan memperjuangkan terpenuhinya kebutuhan rakyat yang murah dan mencemooh kebijakan tidak populis SBY tentu saat ini sedang duduk termangu, sambil memikirkan kembali isu-isu apa saja yang masih menarik untuk dijual. Bagaimanapun, isu mengenai pemenuhan perut rakyat merupakan isu santer dan seksi untuk terus dibicarakan dan digaungkan, meski kadang hanya “hangat-hangat tahi ayam,”

Krisis keuangan global pun meski episentrumnya di Amerika Serikat, namun terasa pula dampaknya di negeri ini. Harga saham di bursa anjlok, rupiah terdepresiasi, dan laju pertumbuhan ekspor pun tertekan seiring penurunan permintaan dunia. Dibalik krisis ini, ternyata berdampak pula terhadap iklim politik di negeri ini. Sebelumnya, banyak sekali wacana bahwa saat ini adalah saatnya para pemimpin muda maju dalam kancah kepemimpinan negeri ini. Beberapa orang mulai ramai di berbagai media, sekali dua kali muncul menyambangi berbagai forum sambil asyik berdialektika bahwa kompetensi tidak bergantung pada usia.

Krisis keuangan global tersebut juga ternyata menyontak hilangnya wacana pemimpin muda yang ramai itu. Hal ini bisa terlihat bahwa figur muda, belum tentu juga independen terhadap donor yang mendanainya. Terlihat mana yang memang independen baik dari pemikiran maupun dalam pendanaan politiknya. Sejumlah perusahaan banyak yang tergerus baik aset maupun modalnya seiring dengan anjlok harga sahamnya. Perusahaan-perusahaan yang ada tentu saja berfikir dua kali menggelontorkan sejumlah “dana” hanya untuk membiayai para penggiat politik itu, lebih baik memikirkan perusahaannya di tengah keterpurukan finansial. Alhasil, kembali sepi forum-forum dan centang perenang iklan di sejumalah media massa mengenai figur pemimpin muda, hanya tinggal satu-dua saja yang masih mampu bertahan sambil mengusung hak petani dan keunggulan produk pertanian Indonesia.

Kalau begitu, silahkan SBY, bola kembali di tangan anda, silahkan lanjutkan langkah-langkah politik anda yang sudah terbuka. Saya yang hanya rakyat jelata, hanya bisa menonton dan sesekali mengomentari saja.

Sosok Kepemimpinan

Memimpin suatu organisasi atau lembaga mungkin seperti yang diibaratkan oleh John C. Maxwell, layaknya menakhodai suatu kapal dalam mengarungi lautan samudera luas. Menurutnya, siapa saja dapat memegang kendali kemudinya, namun hanya benar-benar pemimpinlah yang mampu memetakan jalan, dan mengendalikan di tengah derasnya arus ombak samudra.

Terkadang kita seringkali melihat pemimpin yang ada layaknya hanya mampu memegang kemudi kapal, namun tak mampu menjelaskan secara jelas kemana arah yang akan dituju. Perangkat apa yang mesti digunakan dan bagaimana memetakan bahaya yang mungkin dihadapi. Bisa dibayangkan, di tengah samudera luas, mengenai arah dan tujuan adalah hal penting. Para awak kapal dengan tanpa mengetahui arah dan tujuannya, hanya akan hidup terombang-ambing oleh ombak dari berbagai arah dengan rasa ketidakpastian dan perasaan yang tak menentu. Ataupun pada akhirnya hidup hanya mengalir mengikuti arah angin dan deruan serta hantaman ombak. Labuhan pengharapan pun bukan berdasarkan apa yang sudah ditentukan di awal, namun hanya berdasarkan nasib saja.

Begitupula ketika badai, seorang yang memang pemimpin, tentu saja tidak akan larut akan kepanikan dengan situasi yang dihadapi. Namun tetap berdiri tegap, sambil memberikan komando, petunjuk, dan instruksi apa yang harus dilakukan awak kapalnya. Entah menarik atau menurukan layar, menarik atau menurunkan jangkar, menambah atau mengurangi kecepatan kapal, atau menginstruksikan para awaknya agar tetap tenang dan berlindung pada tempat yang aman dari badai. Andaikan saja seorang pemimpin itu ikut panik dalam kondisi tersebut, tentu saja para awak hanya akan melakukan penyelamatan tanpa koordinasi yang jelas. Ada yang berusaha menarik layar, namun sebagian lain malah berusaha menurunkan layar. Atau mungkin ada yang berusaha menurunkan kecepatan kapal, namun sebagian lainnya malah berfikir bahwa saat itulah waktu yang tepat untuk meningkatkan kecepatan untuk menghindar dari serangan badai. Lebih buruk lagi, jika ada sebagian awak yang berusaha mati-matian menjaga keseimbangan kapal, namun sebagian lainnya malah berusaha menurunkan sekoci kapal untuk menyelamatkan diri sambil berfikir bahwa biarkanlah kapal tersebut tenggelam.

Ibarat inilah menunjukkan bagaimana sosok sebuah kepemimpinan merupakan hal penting, bukan hanya sebagai ikon, namun sebagai figur yang visioner, mampu menyusun langkah strategis untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Selain itu, mampu berfikir cepat terhadap langkah-langkah apa yang harus diambil di tengah kegentingan, mampu hadir sebagai sosok yang mampu menyatukan para anak buahnya, dan mampu menyamakan persepsi dan frekuensi pemikiran.

Akankah hari-hari ini dan hari-hari ke depan kita akan menemukan sosok kepemimpinan yang tidak hanya berupa simbol, bukan pula pemimpin dalam hanya kegiatan ritual dan selebrasi, dan bukan pula hanya melakukan hal ini-itu yang tidak esensial. Namun kita dapat menemukan pemimpin yang mampu mengharu-birukan situasi, dan kita pun akan berada di belakangnya mendukung dengan penuh senyuman terhadap jejak-jekak langkah kita untuk mencapai tujuan dan harapan yang kita impikan. Semoga.