Showing posts with label Notes. Show all posts
Showing posts with label Notes. Show all posts

Sunday, October 18, 2009

Apalah Artinya Agama, Bila Kehilangan Sisi Humanisme

Mungkin ini kejadian yang tak pernah terungkap, dan boleh gue sharing karena cukup mengganggu pikiran gue.

Ini kejadian saat-saat setelah Sumatera Barat diguncang gempa 7,6 skala richter, yang membuat Kota Padang dan Pariaman hancur. Apakah kejadian ini membuat mereka tersadar? Hmmm..kalo gue katakan ngga juga....

Kejadian gempa di Sumbar merupakan kejadian yang cukup hebat menimpa pulau Sumatera setelah bencana Tsunami Aceh beberapa tahun yang lalu. Kalo ditelisik, kedua daerah itu sama-sama men-state bahwa daerahnya mengusung religiusitas yang tinggi, yang satu sebagai Serambi Mekkah, yang satu lagi mengadaptasi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Bencana yang menimpa keduanya bisa jadi jalan Tuhan menguji keimanan penuduk di daerah tersebut, yang dengan sadar mengadaptasi nilai Ketuhanan (baca: Islam) dalam menjalankan kehidupannya.

Namun ada banyak kejadian yang mengganggu benak gue, dan ngga tau apa ini bisa ditangkap rasionalitas gue yang pemahaman agamanya mungkin ngga bagus-bagus amat. Namun sebagai manusia normal gue punya sisi humanis yang secara universal dianut semua umat manusia di dunia. Dan melihat beberapa kejadian, cukup bikin kernyit di dahi gue bertambah rasanya.

Kejadian 1:
Kejadian ini terjadi dalam perbincangan salah satu ketua Satkorlak dan lembaga keagamaan (sebut saja HT) dengan perawakan berjanggut, bercelana ngatung, dan berjidat hitam. Perbincangan terjadi di Gubernuran, yang menjadi media center bencana gempa di Sumbar, posisi gue di situ lagi mencatat sejumlah informasi untuk mensupply para jurnalis CNN yang kebetulan gue menjadi pemandunya.

Orang HT (HT) : Pak, kami datang kemari membawa sejumlah bantuan untuk para korban gempa, kami sekarang butuh tempat tinggal, dan moda transportasi untuk kebutuhan kami.
Kepala Satkorlak (KS) : Oh baik, tapi kami saat ini sedang mengalami keterbatasan, dan kami tidak dapat menyediakan penginapan ataupun kendaraan untuk saat ini.
HT : Bagaimana tidak bisa Pak? Kami di sini datang dengan maksud baik masak kami tidak difasilitasi?
KS : Bapak-Bapak, mohon maaf karena saat ini juga kami mengalami kesulitan, berbagai fasilitas juga ikut hancur, kami tidak bisa memenuhi keinginan Bapak-Bapak.
HT : Lho, bagaimana bisa? Bapak kan pejabat negara, ditugasi negara, bagaimana Bapak tidak bisa menyediakan fasilitas untuk kami tempat tinggal dan kendaraan?
KS : Bapak-Bapak, kalau memang ada, tentu akan kami sediakan, sekarang memang kondisinya tidak ada, dan kami pun sekarang juga mengalami kesulitan.
HT : (Dengan nada marah) Bapak itu digaji oleh negara! Sudah semestinya Bapak membantu kami!
KS : (Dengan masih berusaha sabar) Bapak-Bapak, kalau melihat tim lain, baik dari Swiss, Amerika, Australia, negara-negara lain, bahkan lembaga lain, mereka berusaha memenuhi kebutuhan tempat tinggal dan kendaraannya secara mandiri. Mereka mau membantu kami tanpa juga harus memberatkan kami di sini.
HT : Saya tidak mengerti dengan Bapak. Saat kami membantu bencana gempa di Jogja, kami difasilitasi penuh oleh pemerintah daerahnya. Kalo ini apa?
KS : Bapak-Bapak, apakah pernah mengalami gempa? Bencana seperti ini?
HT : Iya, kami pernah! Waktu tsunami di Aceh! (dengan nada kesal)
KS : Lha, kalau sudah mengalaminya, kenapa sikap Bapak-Bapak seperti ini?
HT : (Terdiam, dan tak berlangsung lagi bantahannya)

Jujur, pada kondisi itu semua juga sedang mengalami kesulitan, tidak hanya korban, namun juga para volunteer, wartawan, dan sejumlah orang yang datang membantu sama-sama bersusah payah untuk mencari tempat tinggal, supply makanan, listrik, dan kendaraan yang memadai. Gue terus terang mendengar pembicaraan antara HT dan KS itu agak sedikit panas, mungkin kuping gue memerah saat itu. Apalagi mereka menggunakan atribut, rompi, dan pakaian yang mengusung nama agama (Islam Bergerak dan Bersatu). Gue juga Islam, tapi apakah mesti tidak melihat kondisi dan situasi yang ada? Mencoba empati dengan siapapun di daerah bencana itu, meskipun dia pejabat negara atau siapapun....


Kejadian 2:
Kisah dari seorang teman yang tinggal di kontrakan di Kota Padang. Saat kejadian kebetulan berbagai ruko dan fasilitas umum di depan kontrakannya hancur, sebagian jalan terutup, dan mengharuskan para pengendara untuk mengalihkan jalannya ke jalan lain untuk mencapai tujuan. Teman gue iti dengan menggunakan motornya mencoba ke kontrakannya untuk menemui istrinya yang kebetulan tinggal sendirian di kontrakan saat kejadian gempa.

Namun saat menuju gang ke kontrakannya, tiba-tiba jalan tersebut diportal, sehingga dia tak bisa masuk ke jalan menuju kontrakannya. Dia pun terheran-heran, karena tak seperti biasanya jalan itu ditutup, dan dia pun bertanya pada warga yang dia kenal saat itu:

Teman : Ibu, kok jalannya diportal? Biasanya nggak?
Seorang Ibu : Iya soalnya banyak orang jadi lewat sini, takut nanti jalannya rusak.

Suerrrr, ini hal yang gila menurut gue, di saat-saat orang sedang sulit, semua panik, semua mencoba menempuh jalan barangkali menemui keluarganya, sodara-sodaranya, dan melihat rumahnya yang mungkin saja ikut terkena gempa, ini masih saja ada orang-orang yang dengan egois mementingkan dirinya sendiri. Satu kata: EDAN!


Kejadian 3:
Ini juga kisah beberapa teman, dan agak miris mendengarnya.
Ada dua teman gue, satu tinggal di kosan berlantai 4, dan satu lagi tinggal dikontrakan yang sudah dia bayar DP-nya sebesar Rp2 juta. Akibat gempa, kosan teman gue lantai satunya hancur, dan membuat kosannya yang berlantai 4 agak sedikit miring, sedangkan kontrakan teman gue itu bangunan bagian belakang hancur, dan lantainya terbelah, tak mungkin rasanya memaksa tetap tinggal di bangunan yang sudah rapuh itu.

Akhirnya keduanya terpaksa mengungsi di kosan teman gue di belakang kantor yang kondisinya baik-baik saja.
Namun setelah beberapa hari Ibu pemilik kosan itu datang, mungkin perbincangannya seperti ini:
Ibu Kosan : Kayaknya dua orang ini udah terlalu lama menumpang di kosan ini!
Teman : Maaf Ibu, kosan dan kontrakan kami rusak dan tak mungkin ditinggali, kami tak tahu mau tinggal di mana.

Namun sepertinya Ibu Kosan itu tidak mau tahu kondisinya seperti apa, dan akhirnya dua teman gue itu terpaksa angkat kaki dari kosan itu. Hmmm...luar biasa. Apa takut rugi? Apa mesti nambah bayar listrik? Apa mesti nambah bayar air?


Kejadian 4:
Pas kejadian gempa, cari makan sulit, air sulit, listrik padam, Hape beberapa provider tak bisa diandalkan, tapi kok ada yang tega jual nasi goreng sepiring 20 rebu, aqua gelas 2500, bensin oplosan 15 rebu/liter. Okey, kalo dalam ekonomi mengatakan, ketika permintaan tinggi, tapi barang langka, maka harga akan terkerek naik, ini namanya demand-pull inflation. Tapi, mestikah ini terjadi di mana kondisi sedang sulit? Teganya..teganya....

Singkat kata, buat apa dengan bangga mengatasnamakan religiusitas di suatu daerah, membangga-banggakan prinsip agama dalam kehidupan, namun toh tak berbanding lurus dengan rasa kemanusiaan.


Monday, March 30, 2009

Lagi Mabok MSG

Kalo lagi di kosan kadang butuh cemilan bikin bibir gue gak manyun terus. Pasokan makanan gue kebetulan dah abis. Damn, cuma tersisa mie instan, sedangkan gue butuhnya cemilan. Masa gue makan mentah tuh mie. Oh tidak, masa dari dulu sampe sekarang masih aja suka makan mie mentah. Okey, akhirnya cabut ke supermarket, dan di bagian makanan kecil ketemu dengan produk-produk Richeese dan Nabati, dkk. Jenisnya macem-macem pula, jadi tergoda untuk nyobain semua. Akhirnya BOROOOONG!

Selamat tinggal era kejayaan MOMOGI...













Karena penasaran, akhirnya gue makan semua..huaaaa langsung PUYEEEENG..gara-gara kebanyakan makan MSG alias kena sindrom rumah makan cina (chinese restaurant syndrome). Kata orang-orang kebanyakan makan ginian bikin bego, gue test 1+1 sama dengan berapa gue masih bisa jawab..Hahahaha..belom bego, jadi makan lagi ajahhhhh.....

Lagi Parno Rambut Rontok

Aihhhh..akhir-akhir ini kalo garuk-garuk rambut pasti ada aja rambut yang rontok. Malah nggak sadar sambil ngetik di depan laptop, itu di atas keyboard dah banyak helaian rambut. Wuaahhhh..udah botak gini masa makin botak? Umur kepala 3 aja masih jauh, makin bermutu aja deh gue alias bermuka tua.

Akibat keparnoan itu, akhirnya pergi ke supermarket, datang-datang langsung menuju bagian shampoo sama perawatan rambut. Langsung kalap, segala jenis pengobatan rambut rontok dibaca satu-satu. Akhirnya terbelilah tiga botol Neril paket dari shampoo, conditioner, plus hair tonic. Gue dah gak peduli berapa harganya, yang penting hajar lah. Masukin ke keranjang belanjaan.

Dengan bangga kami persembahkan:


Langsung dah malam itu juga gue mencoba ketiga produk itu. Untuk sementara bisa mengobati keparnoan gue..Oh no, jangan rontok lagi donk.....

Sunday, March 29, 2009

Lagi Anti-Sosial

Tak pernah rasanya gue seapatis ini, bisa berhari-hari berada di kamar yang panas dan hanya memelototi laptop. Kehidupan di luar sana sepertinya ngga cukup untuk mendorong gue beranjak dari tempat duduk ini. Ada saja pikiran yang bergejolak di kepala ini, tapi tak tahu rasanya ingin dihempaskan ke mana, bahkan seperti ingin diledakkan saja di kepala gue.

Tak biasanya gue jadi orang anti-sosial yang malas bergaul. Bukan hanya itu, untuk sekedar say hai, ataupun berbasa-basi membuka pembicaraan pun enggan. Inginnya mencari sebuah pelarian, tapi tak pernah ketemu cara yang tepat. Tempat ini terlalu sepi buat gue, mencoba membiasakan namun kadang menyerah juga. Rasanya tak ada ruang untuk sekedar sharing, ngobrol hal-hal asik, sambil diselingi alunan musik yang akrab dengan telinga. Hufh, bagi gue kadang hari libur tak pernah berhasil menjadi sarana refreshing untuk kembali semangat saat mulai kerja. Alhasil, masuk kerja dengan bawaan diri yang kurang menyenangkan. Gue butuh interupsi hidup yang menyejukkan dari rutinitas yang membuat penat.

Kadang gue ngerasa mulai agak aneh, suka ketawa-tawa sendiri, bergurau dengan alam bawah sadar yang kadang membuat joke untuk diri gue sendiri. Bodohnya, gue suka begitu dengan ada satu-dua orang yang ngeliat dan menyadari keanehan gue ini. Membuat mereka bertanya-tanya, “Kenapa loe?” Gue Cuma bisa jawab: “Yah begitulah, gue lagi asik sama pikiran gue sendiri.”

Berusaha untuk membunuh waktu yang membosankan ini, tapi kayaknya terjadi sebaliknya, waktu ini malah perlahan-lahan seperti mencoba membunuh gue dengan kebosanan ini. Rasa sepi ini adalah hal yang berbahaya buat gue. Bikin gue suka teringat hal-hal bodoh yang pernah gue lakuin dulu. Kadang seperti menyesali diri, mengutuk-ngutuk diri sendiri kenapa dulu gue ngga berusaha menjalani hidup ini lebih baik lagi. Ya, hidup saat ini adalah konsekuensi dari hidup yang lalu-lalu. Kata orang sih, masih ada waktu buat berubah, tapi tetap aja, masa lalu itu selalu saja membawa pengaruh negatif dalam otak ini. Rasa gak percaya diri, malu, segan, rendah diri, dan hal-hal lain yang buat gue ngerasa nggak eksis di dunia ini (lebayyyy).

Suatu hari orang bilang gue, “Far, loe itu orangnya kok low-profile abis?” Gue cuma tersentak, dan menjawab, “Lha gimana ngga low-profile, emang profile gue udah low kok.” Mungkin apa kadang gue kurang bisa mensyukuri hidup, atau terlalu dibayang-bayangi target hidup. Atau mungkin kelamaan hidup di lingkungan yang kurang bertoleransi dengan kegagalan. Hidup itu seperti tak boleh gagal, layaknya bayi yang tak boleh jatuh saat belajar berjalan. Padahal hidup itu adalah proses. Sayangnya gue seringkali bertemu saja saat-saat di mana seseorang seolah berkepentingan di saat gue gagal, tapi sebelumnya tak pernah berurusan dengan proses yang gue jalani, atau setidaknya menunjukkan jalan mana yang benar dan harus dilalui. Hmm, setidaknya waktu terus berjalan, tak tahu kapan itu berujung, mencoba aja jalani diri sendiri, setidaknya mengoptimalkan diri untuk menemukan jalan itu. Itupun kalo memang terbuka buat gue. Kalo kata orang, berusaha aja dulu, seterusnya gimana nasib. Btw, nasib itu siapa sih? Kok bisa-bisanya nentuin hidup orang?

Thursday, April 24, 2008

Hidup Sederhana atau Lupa?

Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair seperti diberitakan di sini, kedapatan naik kereta tanpa tiket, dan bahkan juga tidak membawa uang cash untuk membayar tiketnya. Padahal Tony Blair sendiri setelah lepas dari jabatan Perdana Menteri, sekarang memiliki posisi yang terbilang penting juga, yaitu sebagai utusan Timur Tengah untuk 4 negara berbeda, dan juga penasehat investment bank besar, JP Morgan.

Kok bisa-bisanya sih naik kereta nggak beli tiket dan nggak punya uang cash buat bayarnya?
Hmm..Bisa banyak kemungkinan tentang hal ini:
Pertama, Blair bisa jadi walaupun sebagai mantan orang penting, tetap menjalankan hidup sederhana dengan bepergian menggunakan kereta. Kedua, atau bisa saja Blair lupa kalo dirinya bukan lagi Perdana Menteri, jadi dia pikir dirinya punya akses bebas kemana pun seperti tanpa harus beli tiket untuk naik kereta.

Thursday, April 10, 2008

Komposisi Antara Penumpang dan Jenis Kendaraan yang Timpang

Berdasarkan Pusat Analisa dan Data Tempo, menunjukkan bahwa jumlah kendaraan pribadi yang lebih banyak dibanding kendaraan umum menjadi penyebab parahnya keruwetan transportasi di Jakarta. Perbandingan jumlah kendaraan pribadi dan kendaraan umum adalah 98% kendaraan pribadi dan 2% kendaraan umum. Padahal jumlah orang yang diangkut 2% kendaraan umum lebih banyak dari pada jumlah orang yang diangkut oleh 98% kendaraan pribadi. Dari total 17 juta orang yang melakukan perjalanan setiap hari, kendaraan pribadi hanya mengangkut sekitar 49,7% penumpang. Sedangkan 2% kendaraan umum harus mengangkut sekitar 50,3% penumpang.

Pada jam sibuk pagi dan sore, lalu lintas di jalan-jalan utama Kota Jakarta hanya bergerak 12 km/jam. Penelitian Japan International Corporation Agency (JICA) dan The Institute for Transportaion and Development Policy (ITDP) menunjukkan bahwa jika tidak ada pembenahan sistem transportasi umum, maka lalu lintas Jakarta akan mati pada tahun 2014. Perkiraan kematian lalu lintas Jakarta pada tahun 2014 itu didasarkan pada pertumbuhan kendaraan di Jakarta yang rata-rata per tahun mencapai 11% sedangkan pertumbuhan panjang jalan tak mencapai 1%. Tercatat, setiap hari ada 138 pengajuan STNK baru yang berarti di setiap harinya Jakarta membutuhkan penambahan jalan sepanjang 800 meter. Lengkapnya baca di sini.

Sepertinya, penduduk yang mencari nafkah di Jakarta bisa-bisa masa hidupnya banyak habis di jalan. Untuk tinggal di pusat perkotaan tentu memiliki kendala sangat mahalnya harga sewa maupun kepemilikan rumah. Jadi, bagaimana nih solusinya Bang Kumis?

Wednesday, April 9, 2008

Pidato Presiden Mungkin Layaknya Kuliah yang Membosankan

Pembekalan Forum Konsolidasi Pimpinan Pemerintah Daerah di Lemhanas 8 April 2008 yang lalu mungkin seperti layaknya suasana perkuliahan yang membosankan. Acara yang dibuka oleh Prseiden SBY itu berbuntut pada suasana tegang di mana Presiden SBY memarahi salah satu orang kepala daerah yang asyik tertidur. Baca berita lengkapnya di sini.

Suasana ini mirip dengan suasana perkuliahan di kampus. Dosen atau asisten dosen asyik menerangkan, mahasiswa malah tertidur. Kalau di kampus mungkin lebih parah terkadang, ada yang baca koran, sms-smsan, berfoto-foto ria di handphone, keluar masuk kelas, atau asyik bikin forum obrolan sendiri.

Yang jadi pertanyaan, apa sepenuhnya kesalahan mahasiswa yang malas dan kurang ajar atau materi dan cara mengajar dosen atau asisten dosen yang membosankan?

Pengalaman saya kuliah, seringkali saya memasuki kelas yang sangat membosankan, gaya mengajar yang sangat konvensional, satu arah, tidak kaya akan materi, dan sangat tidak menarik. Terkadang saya lebih asyik pinjam catatan teman atau membaca bukunya sendiri. Saya sering merasa membuang-buang waktu untuk sekedar masuk kelas yang membosankan dan kurang mencerahkan. Beruntung saja, jurusan Ilmu Ekonomi di FEUI, jarang sekali dosen yang memperhitungkan absen. Mungkin mereka juga sadar, bahwa kuliahnya bisa jadi sering membosankan dengan materi yang tidak dipersiapkan dengan baik, atau juga mereka malu karena seringkali “mangkir” mengajar.

Nah, Pak SBY, mungkin Bapak juga perlu evaluasi diri, apakah pidato Bapak sudah cukup menarik atau ternyata sangat membosankan? Kok bisa-bisanya pidato seorang Presiden ada audience yang berani tidur. Atau memang ternyata kepala daerah itu saja yang kurang ajar, sudah duduk di deretan bangku depan, tertidur pulas pula. Ha3....

Tuesday, April 8, 2008

Film Fitna: Pemerintah Tidak Perlu Se-Reaktif Itu

Mengomentari tulisan di blog sebelah mengenai seputar pemblokiran situs-situs yang memberikan link akses Film FITNA diblokir oleh pemerintah.

Note: Apalah artinya maksud hati mengeliminasi penyebaran film yang menyiratkan fitnah atau hal menyinggung agama, kalau pada akhirnya pemerintah, terutama depkominfo, sibuk memikirkan hal kurang substansial. Lebih baik memikirkan bagaimana semakin banyak orang di Indonesia melek teknologi, bisa akses internet dengan murah, tersedianya pendukung koneksi internet yang bagus, jaringan hot spot gratis, dan lain sebagainya.

Sayang juga kalo anggaran Depkominfo dipakai untuk sekedar tindakan yang bersifat reaktif.

Lihat diskusi Menkominfo dengan para blogger di sini. Sepertinya masih banyak jalan atau solusi yang bisa diambil, bukan melalui pemblokiran secara membabi-buta.

Saya rasa Youtube, Multiply, Myspace, dll tidak selamanya berdampak negatif, banyak juga sisi positifnya. Bahan-bahan materi kuliah ekonomi dari dosen-dosen ekonomi ternama di universitas luar negeri juga banyak yang bisa diakses dari sana.

Lagu Paling Pas Buat Saat Ini

GOSSIP JALANAN
Lagu Slank dari album PLUR
Rilis tahun 2004
Produksi Slank Record

Pernah kah lo denger mafia judi
Katanya banyak uang suap polisi
tentara jadi pengawal pribadi

Apa lo tau mafia narkoba
keluar masuk jadi bandar di penjara
terhukum mati tapi bisa ditunda

Siapa yang tau mafia selangkangan
Tempatnya lendir2 berceceran
Uang jutaan bisa dapat perawan

Kacau balau ... 2x negaraku ini ...

Ada yang tau mafia peradilan
tangan kanan hukum di kiri pidana
dikasih uang habis perkara

Apa bener ada mafia pemilu
entah gaptek apa manipulasi data
ujungnya beli suara rakyat

Mau tau gak mafia di senayan
kerjanya tukang buat peraturan
bikin UUD ujung2nya duit

Pernahkah gak denger triakan Allahu Akbar
pake peci tapi kelakuan bar bar
ngerusakin bar orang ditampat2

Note: Saya 100 persen SETUJU sama lirik lagunya……

Monday, April 7, 2008

Ada Apa dengan Bappenas Sekarang?

Tajuk rencana Kompas, Senin, 7 April 2007, ”Perlu Pembangunan Berlanjut,” sangatlah bernada tendensius menuju satu institusi, yakni Bappenas.
”...Di antaranya pelajaran tentang posisi, peran dan arti hadirnya lembaga perencanaan nasional yang independen, kompeten, dan berjangka panjang...”
Tulisan tersebut bisa jadi menandakan bahwa saat ini Bappenas belum menjadi lembaga yang mendukung perencanaan nasional dalam jangka panjang yang kompeten dan independen.

Baiklah, tak masalah mengkritik dengan mengacu pada satu institusi tertentu.
Namun, pernyataan, ”.... Bappenas macam itu bisa tetap dipimpin seorang menteri. Kualifikasi sosok menterinya bukan lagi anggota partai, tetapi integritas, keahlian, kompetensi, dan kredibilitas...”
Sepertinya jelas pernyataan tersebut mengacu ke siapa. Jujur saja, saya memang tidak merasakan Bappenas yang sekarang sebagai lembaga yang punya taring kuat dalam mempengaruhi kebijakan ekonomi. Jauh dari masa dalam cerita-cerita almuni FEUI semasa Widjojo Nitisastro dkk ketika mereka menjadi aristektur ekonomi Orde Baru dan menggerakan Bappenas.