Sunday, March 29, 2009

Lagi Anti-Sosial

Tak pernah rasanya gue seapatis ini, bisa berhari-hari berada di kamar yang panas dan hanya memelototi laptop. Kehidupan di luar sana sepertinya ngga cukup untuk mendorong gue beranjak dari tempat duduk ini. Ada saja pikiran yang bergejolak di kepala ini, tapi tak tahu rasanya ingin dihempaskan ke mana, bahkan seperti ingin diledakkan saja di kepala gue.

Tak biasanya gue jadi orang anti-sosial yang malas bergaul. Bukan hanya itu, untuk sekedar say hai, ataupun berbasa-basi membuka pembicaraan pun enggan. Inginnya mencari sebuah pelarian, tapi tak pernah ketemu cara yang tepat. Tempat ini terlalu sepi buat gue, mencoba membiasakan namun kadang menyerah juga. Rasanya tak ada ruang untuk sekedar sharing, ngobrol hal-hal asik, sambil diselingi alunan musik yang akrab dengan telinga. Hufh, bagi gue kadang hari libur tak pernah berhasil menjadi sarana refreshing untuk kembali semangat saat mulai kerja. Alhasil, masuk kerja dengan bawaan diri yang kurang menyenangkan. Gue butuh interupsi hidup yang menyejukkan dari rutinitas yang membuat penat.

Kadang gue ngerasa mulai agak aneh, suka ketawa-tawa sendiri, bergurau dengan alam bawah sadar yang kadang membuat joke untuk diri gue sendiri. Bodohnya, gue suka begitu dengan ada satu-dua orang yang ngeliat dan menyadari keanehan gue ini. Membuat mereka bertanya-tanya, “Kenapa loe?” Gue Cuma bisa jawab: “Yah begitulah, gue lagi asik sama pikiran gue sendiri.”

Berusaha untuk membunuh waktu yang membosankan ini, tapi kayaknya terjadi sebaliknya, waktu ini malah perlahan-lahan seperti mencoba membunuh gue dengan kebosanan ini. Rasa sepi ini adalah hal yang berbahaya buat gue. Bikin gue suka teringat hal-hal bodoh yang pernah gue lakuin dulu. Kadang seperti menyesali diri, mengutuk-ngutuk diri sendiri kenapa dulu gue ngga berusaha menjalani hidup ini lebih baik lagi. Ya, hidup saat ini adalah konsekuensi dari hidup yang lalu-lalu. Kata orang sih, masih ada waktu buat berubah, tapi tetap aja, masa lalu itu selalu saja membawa pengaruh negatif dalam otak ini. Rasa gak percaya diri, malu, segan, rendah diri, dan hal-hal lain yang buat gue ngerasa nggak eksis di dunia ini (lebayyyy).

Suatu hari orang bilang gue, “Far, loe itu orangnya kok low-profile abis?” Gue cuma tersentak, dan menjawab, “Lha gimana ngga low-profile, emang profile gue udah low kok.” Mungkin apa kadang gue kurang bisa mensyukuri hidup, atau terlalu dibayang-bayangi target hidup. Atau mungkin kelamaan hidup di lingkungan yang kurang bertoleransi dengan kegagalan. Hidup itu seperti tak boleh gagal, layaknya bayi yang tak boleh jatuh saat belajar berjalan. Padahal hidup itu adalah proses. Sayangnya gue seringkali bertemu saja saat-saat di mana seseorang seolah berkepentingan di saat gue gagal, tapi sebelumnya tak pernah berurusan dengan proses yang gue jalani, atau setidaknya menunjukkan jalan mana yang benar dan harus dilalui. Hmm, setidaknya waktu terus berjalan, tak tahu kapan itu berujung, mencoba aja jalani diri sendiri, setidaknya mengoptimalkan diri untuk menemukan jalan itu. Itupun kalo memang terbuka buat gue. Kalo kata orang, berusaha aja dulu, seterusnya gimana nasib. Btw, nasib itu siapa sih? Kok bisa-bisanya nentuin hidup orang?

Tuesday, March 10, 2009

Segala Macam Irasionalitas dan lainnya….

Mungkin irasionalitas kadang begitu relatif. Kasus Ponari dengan batu ajaibnya dengan mengundang sejumlah massa untuk mengantri berobat dan bahkan mengundang korban tewas karena berebutan bagi kita adala sebuah realitas yang ganjil. Tapi ini juga menjadi sebuah indikasi, bahwa banyak sejumlah kalangan, terutama masyarakat tidak mampu, mengharap sebuah pengobatan yang instan dan murah. Akses kesehatan masih belum mampu menjangkau mereka, dan tidak semua rumah sakit memperlakukan dengan baik bagi mereka yang tidak mampu. Kadang kita pun gusar, mengantri di rumah sakit umum, dengan antrian yang panjang, hiruk pikuk yang memusingkan, dan juga pelayanan seadanya. Belum tentu juga mendapat kesembuhan, bahkan terlalu lama mengantri dan campur aduk berbagai orang sakit di ruang yang sama, kadang kita semakin merasa lebih sakit dibanding sebelumnya. Uang yang keluar pun tidak sedikit.

Pengobatan alternatif ini, dengan segala macam pembenarannya, bisa jadi adalah sebuah pelarian. Pelarian dari segala frustasi dari usaha menyembuhkan penyakit. Kalangan medis seharusnya juga tergerak hatinya melihat fenomena ini. Betapa upaya medis yang ada masih belum mendapat tempat dalam ruang pikiran masyarakat untuk mendapatkan kesembuhan. Bagi sebagian masyarakat, pengobatan alternatif adalah jawaban, sedangkan sebagian lainnya tetap memandang sebuah irasionalitas. Siklus ini akan berlangsung terus-menerus.

Irasionalitas bisa jadi terjadi juga pada dunia ini, dunia maya. Mungkin sebagian orang akan memandang irasional bagi orang-orang yang asik masyuk menghabiskan waktu di depan laptop, atau senyum-senyum sendiri sambil memandangi Blackberry-nya. Sekedar chatting, fesbuking, membalas-balas email, atau seperti blogging ini. Sebagian orang akan memandang, bagaimana orang bisa larut akan sebuah dunia virtual, dan terkadang melupakan untuk menyelami dunia non-virtual yang lebih nyata. Di sini sudut pandang irasionalitas pun terjadi. Bisa rasional, bisa tidak….

Pada akhirnya, rasional atau tidak, seperti layaknya kondisi pemilahan suka atau tidak suka, kejadian sukses (p) atau tidak sukses (q). Jadi selalu ada deviasinya, seperti standar deviasi adalah akar p dikali q…kok jadi ngomongin statistik….He3….Malah ikutan mulai gak rasional nih gue....

Friday, January 23, 2009

Scene Eight: The Spirit Carries On (Dream Theater)

Entah terlalu melankolis atau nggak gue jadi suka lagu ini..liriknya apa lagi, postingnya aja sambil meler-meler, pusing-pusing, dan batuk-batuk gak jelas..berasa orang TBC..hufh….

Scene Eight: The Spirit Carries On (Dream Theater)

Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?

They say "Life is too short"
"The here and the now"
And "You`re only given one shot"
But could there be more
Have I lived before
Or could this be all that we`ve got?

If I die tomorrow
I`d be alright
Because I believe
That after we`re gone
The spirit carries on

I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before
I`m not scared anymore
I know that my soul will transcend

I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try

If I die tomorrow
I`d be alright
Because I believe
That after we`re gone
The spirit carries on


"Move on, be brave”
Don`t weep at my grave
Because I`m no longer here
But please never let
Your memories of me disappear"

Safe in the light that surrounds me
Free of the fear and the pain
My questioning mind
Has help me to find
The meaning in my life again
Victoria`s real
I finally feel
At peace with the girl in my dreams
And now that I`m here
It`s perfectly clear
I found out what all of this means

If I die tomorrow
I`d be alright
Because I believe
That after we`re gone
The spirit carries on

Okey, everything's gonna be alright Gaffari.....

Thursday, January 22, 2009

Regenerasi Politik????

Suasana menjelang Pemilu 2009 ini mungkin tidak berbeda secara cukup signifikan dengan Pemilu 2004 lalu. Wajah-wajah lama masih menghiasi konstelasi politik negeri ini. Seakan tak menumbuhkan semangat baru di dunia politik, hanya figur-figur itu-itu saja yang masih tersedia dan juga cukup “gizi” untuk maju dalam pemilihan kepemimpinan negeri ini.

Entah mengapa, justru saya lebih terasa excited membayangkan Pemilu di tahun 2014, lima tahun lagi, menelusuri bayangan wajah-wajah yang akan menghiasi pergelaran politik di masa itu. Tentu saja kita tak akan melihat lagi wajah SBY, dengan asumsi jika terpilih lagi maka terbatasi oleh aturan yang membolehkan seseorang memimpin hanya maksimal dua periode berturut-turut. Tentu saja mungkin kita tak lagi melihat sosok Megawati, yang pada periode itu saya rasa sudah bukan momen tepat lagi untuknya. Atau mungkin tak pula melihat sosok Wiranto, yang mungkin telah mengikuti hati nuraninya untuk mengalah mempersilahkan figur yang baru untuk melangkah. Atau mungkin juga tak lagi melihat ambisinya Gus Dur yang tetap meluap untuk menjadi presiden kembali.

Lima tahun lagi, mungkin saja mereka hanya menjadi sosok dibalik layar, menggantikan sosok-sosok yang ada sekarang berada dibalik layar mereka. Sosok yang selama ini hanya mampu membisikkan, mengatur langkah dan strategi bagi mereka agar tetap lekat dengan perubahan zaman. Sekali lagi, lima tahun lagi adalah sebuah misteri, dan juga mencoba apakah akan mengubah keadaan politik saat ini yang bagi saya hanya “garink-garink”saja.

Lima tahun lagi, apakah mungkin kita tak lagi hanya terhanyut akan kegembiraan terpilihnya Obama sebagai Presiden Amerika Serikat yang ke-44, sampai-sampai meluangkan waktu untuk menonton inagurasi kemenangann 20 Januari lalu yang dihadiri ratusan ribu-bahkan jutaan pendukungnya. Sebuah kemenangan politik yang fenomenal. Atau juga tidak cuma terhanyut akan pidatonya Obama yang inspiratif itu, jika tak dapat melihatnya di televisi namun mampu meluangkan waktu untuk mengunduhnya di website Youtube. Semoga saja ke depan, ada saatnya mengikuti konstelasi politik ini lebih menarik, atau bahkan segenap rakyat sampai meluangkan waktu untuk mendengarkan sebuah pidato politik menghadirkan sebuah renaissans, hingga menghadiri dan menyaksikan pelantikan presiden barunya. Larut akan pesta demokrasi yang “sebenarnya” di negeri ini.

Bagaimanapun regenerasi akan bergulir, waktu terus berjalan, dan harapan-harapan perlu diwujudkan.

Langkah SBY yang Terselamatkan

Hari-hari ke depan merupakan langkah yang terbuka lebar bagi SBY untuk terpilih kembali menjadi presiden di Pemilu 2009 ini. Bagaimana tidak, setelah di awal pemerintahannya dihadapi peningkatan harga minyak internasional yang memaksanya untuk mengambil tindakan tidak populis dalam meningkatkan harga BBM. Belum lagi, berbagai bencana alam yang besar menimpa negeri ini membuat energi awal pemerintahannya ini pun juga tersedot pada upaya penanganan bencana tersebut.

Efek peningkatan harga BBM baik di 2005 maupun di pertengahan 2008 cukup menjadi senjata ampuh bagi lawan politiknya yang menjadikan figur SBY sebagai pemimpin yang kurang pro terhadap rakyat miskin. Mau tidak mau, peningkatan harga BBM memicu peningkatan harga komoditas lainnya, terutama makanan pokok yang secara dominan menghabiskan pendapatan bagi kalangan menengah ke bawah.

Megawati yang sebelumnya giat bermanuver akan memperjuangkan terpenuhinya kebutuhan rakyat yang murah dan mencemooh kebijakan tidak populis SBY tentu saat ini sedang duduk termangu, sambil memikirkan kembali isu-isu apa saja yang masih menarik untuk dijual. Bagaimanapun, isu mengenai pemenuhan perut rakyat merupakan isu santer dan seksi untuk terus dibicarakan dan digaungkan, meski kadang hanya “hangat-hangat tahi ayam,”

Krisis keuangan global pun meski episentrumnya di Amerika Serikat, namun terasa pula dampaknya di negeri ini. Harga saham di bursa anjlok, rupiah terdepresiasi, dan laju pertumbuhan ekspor pun tertekan seiring penurunan permintaan dunia. Dibalik krisis ini, ternyata berdampak pula terhadap iklim politik di negeri ini. Sebelumnya, banyak sekali wacana bahwa saat ini adalah saatnya para pemimpin muda maju dalam kancah kepemimpinan negeri ini. Beberapa orang mulai ramai di berbagai media, sekali dua kali muncul menyambangi berbagai forum sambil asyik berdialektika bahwa kompetensi tidak bergantung pada usia.

Krisis keuangan global tersebut juga ternyata menyontak hilangnya wacana pemimpin muda yang ramai itu. Hal ini bisa terlihat bahwa figur muda, belum tentu juga independen terhadap donor yang mendanainya. Terlihat mana yang memang independen baik dari pemikiran maupun dalam pendanaan politiknya. Sejumlah perusahaan banyak yang tergerus baik aset maupun modalnya seiring dengan anjlok harga sahamnya. Perusahaan-perusahaan yang ada tentu saja berfikir dua kali menggelontorkan sejumlah “dana” hanya untuk membiayai para penggiat politik itu, lebih baik memikirkan perusahaannya di tengah keterpurukan finansial. Alhasil, kembali sepi forum-forum dan centang perenang iklan di sejumalah media massa mengenai figur pemimpin muda, hanya tinggal satu-dua saja yang masih mampu bertahan sambil mengusung hak petani dan keunggulan produk pertanian Indonesia.

Kalau begitu, silahkan SBY, bola kembali di tangan anda, silahkan lanjutkan langkah-langkah politik anda yang sudah terbuka. Saya yang hanya rakyat jelata, hanya bisa menonton dan sesekali mengomentari saja.

Sosok Kepemimpinan

Memimpin suatu organisasi atau lembaga mungkin seperti yang diibaratkan oleh John C. Maxwell, layaknya menakhodai suatu kapal dalam mengarungi lautan samudera luas. Menurutnya, siapa saja dapat memegang kendali kemudinya, namun hanya benar-benar pemimpinlah yang mampu memetakan jalan, dan mengendalikan di tengah derasnya arus ombak samudra.

Terkadang kita seringkali melihat pemimpin yang ada layaknya hanya mampu memegang kemudi kapal, namun tak mampu menjelaskan secara jelas kemana arah yang akan dituju. Perangkat apa yang mesti digunakan dan bagaimana memetakan bahaya yang mungkin dihadapi. Bisa dibayangkan, di tengah samudera luas, mengenai arah dan tujuan adalah hal penting. Para awak kapal dengan tanpa mengetahui arah dan tujuannya, hanya akan hidup terombang-ambing oleh ombak dari berbagai arah dengan rasa ketidakpastian dan perasaan yang tak menentu. Ataupun pada akhirnya hidup hanya mengalir mengikuti arah angin dan deruan serta hantaman ombak. Labuhan pengharapan pun bukan berdasarkan apa yang sudah ditentukan di awal, namun hanya berdasarkan nasib saja.

Begitupula ketika badai, seorang yang memang pemimpin, tentu saja tidak akan larut akan kepanikan dengan situasi yang dihadapi. Namun tetap berdiri tegap, sambil memberikan komando, petunjuk, dan instruksi apa yang harus dilakukan awak kapalnya. Entah menarik atau menurukan layar, menarik atau menurunkan jangkar, menambah atau mengurangi kecepatan kapal, atau menginstruksikan para awaknya agar tetap tenang dan berlindung pada tempat yang aman dari badai. Andaikan saja seorang pemimpin itu ikut panik dalam kondisi tersebut, tentu saja para awak hanya akan melakukan penyelamatan tanpa koordinasi yang jelas. Ada yang berusaha menarik layar, namun sebagian lain malah berusaha menurunkan layar. Atau mungkin ada yang berusaha menurunkan kecepatan kapal, namun sebagian lainnya malah berfikir bahwa saat itulah waktu yang tepat untuk meningkatkan kecepatan untuk menghindar dari serangan badai. Lebih buruk lagi, jika ada sebagian awak yang berusaha mati-matian menjaga keseimbangan kapal, namun sebagian lainnya malah berusaha menurunkan sekoci kapal untuk menyelamatkan diri sambil berfikir bahwa biarkanlah kapal tersebut tenggelam.

Ibarat inilah menunjukkan bagaimana sosok sebuah kepemimpinan merupakan hal penting, bukan hanya sebagai ikon, namun sebagai figur yang visioner, mampu menyusun langkah strategis untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Selain itu, mampu berfikir cepat terhadap langkah-langkah apa yang harus diambil di tengah kegentingan, mampu hadir sebagai sosok yang mampu menyatukan para anak buahnya, dan mampu menyamakan persepsi dan frekuensi pemikiran.

Akankah hari-hari ini dan hari-hari ke depan kita akan menemukan sosok kepemimpinan yang tidak hanya berupa simbol, bukan pula pemimpin dalam hanya kegiatan ritual dan selebrasi, dan bukan pula hanya melakukan hal ini-itu yang tidak esensial. Namun kita dapat menemukan pemimpin yang mampu mengharu-birukan situasi, dan kita pun akan berada di belakangnya mendukung dengan penuh senyuman terhadap jejak-jekak langkah kita untuk mencapai tujuan dan harapan yang kita impikan. Semoga.

Thursday, December 18, 2008

Keanehan Pada Jam Gadang


Wah nggak tau gue doank yang nyadar atau gimana, kebetulan pas main-main ke Bukittinggi, trus liat jam gadang. Nah kalo melihat angka-angka di jam gadang itu dengan teliti, ada sebuah keanehan. Liat foto di bawah ini:






Aneh nggak sih sebenarnya? Apa jaman dulu angka 4 dalam romawi ditulis dengan IIII bukan IV????

Cuma Iseng Posting

Kebetulan mau nyoba posting lewat Microsoft Office 2007, bias apa nggak makanya gue coba…..

Monday, September 8, 2008

Kebijakan Instan, buah Kecerobohan Sang Pembisik Istana

Well, akhir-akhir ini ada saja kejadian yang saya rasa konyol, apalagi hal tersebut terkait dengan orang di lingkaran satu istana negara. Hal pertama adalah kisruh adanya Blue-Energy, di mana air bisa sekonyong-konyong berubah menjadi bahan bakar. Hasil usaha penelitian prematur yang keburu dipublikasikan pun berbuah malu bagi pihak istana di mata publik, toh yang mengembangkan adalah ternyata penipu besar.

Sekarang ada lagi mengenai bibit padi ”unggul” Supertoy, yang ”konon” bisa panen 2-3 kali dalam setahun. Nyatanya, setelah panen pertama yang ada hanyalah padi dengan gabah kopos alias gak ada bulir berasnya. Lagi-lagi pihak istana terseret, di mana hal itu merupakan hasil rekomendasi staf khusus alias ”pembisik” Presiden di lingkaran istana. Disinyalir ”sang pembisik” ternyata merupakan komisaris dari perusahaan yang mengembangkan Supertoy. Baca selengkapnya di sini.

Sepertinya, peran ”sang pembisik” jauh lebih mujarab dalam merekomendasikan sebuah kebijakan dibandingkan dengan lembaga yang sangat terkait dengan kebijakan tersebut seperti BPPT, LIPI, dan Departemen Pertanian. Proses penelitian dan eksperimen secara benar menjadi diabaikan. Lebih gila lagi, hal yang belum teruji benar tersebut sudah digaungkan dan bahkan dilaksanakan kepada publik.

Saya rasa negeri ini semakin berotak instan, segala hal inginnya instan, justru hasil varietas komoditi pertanian yang memang telah teruji banyak yang belum dikembangkan dengan optimal. Beberapa media yang pernah saya baca, bahkan para peneliti yang menemukan varietas komoditi unggulan malah menjual hasil risetnya ke negara lain, termasuk ke Thailand, mungkin di dalam negeri tidak ada apresiasi yang baik mengenai penelitian yang telah dilakukannya.

Ngomong-ngomong tentang Blue-Energy, sepertinya tidak perlu bergelar doktor untuk mempunyai ide seperti itu. Cerita saja waktu masa sma, ada kejadian lucu dari seorang teman yang meminjam motor dari salah satu rental motor di perumahannya. Rental motor tersebut mempersyaratkan apabila mengembalikan motor, tangki bensin harus terisi penuh seperti semula. Nah dasar teman saya dodol itu, karena nggak punya cukup duit lagi untuk isi bensin, alhasil sebelum dia kembalikan motornya ke rental, dia mampir di salah satu rumah, mengambil selang air dan mengisi tangki bensinnya dengan air, ternyata lumayan mendongkrak jarum indikator tangki bensin jauh dari titik E. Hauahahaha....nggak tau kelanjutan nasib motor itu gimana, yang penting teman saya itu berhasil mengembalikan motor itu dengan fine-fine saja dengan tangki bensin yang ”penuh”. Nah, secara nggak sadar toh teman saya itu sudah berfikir tentang Blue-Energy toh? Hmmm...makanya tak perlulah bergelar Doktor untuk hanya memikirkan hal itu..Ck..ck..ck..ck....

Sunday, August 24, 2008

Gue Islam, tapi jangan paksa gue pilih partai lo!

Ada suatu hal yang menarik saat gw sedang makan nasi goreng di depan kosan gw.
Di gerobak tukang nasi goreng itu ada stiker besar terpampang di salah satu sudut kaca gerobak itu. Stikernya tentang salah satu partai politik, kayak di bawah ini stikernya:


Seolah-olah stiker tersebut ingin menyuarakan:

Orang Islam=Solat Menghadap Kiblat=Pilih Partai PPP.

Atau, Kalo Pilih PPP=Solatnya Menghadap Kiblat=Orang Islam.

Gw agak-agak nggak sepakat kalo agama digunakan sebagai kendaraan partai politik atau kepentingan tertentu, terutama lagi dilakukan dengan cara-cara promosi tidak elegan. Realitasnya, apa yang telah dilakukan PPP selama ini? Apakah mereka benar-benar mewakili orang Islam dan memperjuangkannya dengan sebenar-benarnya? Lalu, apa yang terjadi dengan anggotanya yang terlibat korupsi? Lalu apa jadinya konser dangdut dengan goyangan aduhai dalam kampanye-kampanye yang dilakukannya? Lalu apa jadinya dunia? Halah-halah....

Seolah-olah hari-hari menjelang Pemilu 2009 ini makin banyak saja cara untuk menunggangi suatu hal untuk mendulang suara, entah itu atas nama agama, rakyat miskin, demokrasi, kaum muda, anti korupsi, dan janji-janji surga lainnya. Semua layaknya hal yang saling intim dalam apa yang dijanjikan oleh partai-partai politik yang ada. Namun apa jadinya setelah Pemilu selesai? Toh semuanya seperti saling steril dan berjalan semaunya saja....

Come on, sudah cukuplah partai Islam ini yang sudah banyak ditinggalkan pemilihnya dengan pecah menjadi partai-partai lain dan hanya berharap dari "sisa" pemilih tradisionalnya....

Sunday, August 3, 2008

Siapa Dia?

Akhir-akhir ini iklan-iklan di televisi makin beragam, beragam bukan dalam artian para pembuat iklan semakin kreatif, namun semakin banyaknya iklan yang berisi pesan politik dan pencitraan yang ingin disampaikan kepada publik. Dalam proses pencitraan ini saya lihat beberapa hal. Pertama, iklan yang menampilkan kisah sukses yang telah dilakukan oleh seseorang dan iklan tersebut seolah-olah berfungsi me-refresh ingatan publik pada jasa-jasa positifnya. Kedua, ada juga iklan yang sifatnya lebih menonjol pada sisi marketing, atau dalam bahasa sederhananya berusaha untuk lebih pada meningkatkan popularitas.

Untuk yang pertama, biasanya iklan untuk seseorang yang sudah jelas pada tujuan yang ingin dicapai dan eksplisit pada ritual politik yang diikuti, misalnya dalam rangka mengahadapi pilkada yang sudah di depan mata. Nah kemudian, bagian kedua yang saya bingung, bentuk iklan ini biasanya tentang seseorang yang kisah sukses dan jasa-jasa apa yang telah dilakukan untuk masyarakat saja belum jelas, dan bahkan ritual politik apa yang ingin diikuti juga tidak pernah eksplisit disebutkan. Memang iklan bisa meningkatkan popularitas, namun apakah populer di iklan akan ada jaminan menjadi pilihan publik? Apakah perilaku pemilih kita hanya memilih bedasarkan siapa yang populer dan tidak populer? Kalo iya, maaf-maaf saja, saya bukan salah satu bagian itu.

Herannya, iklan tipe yang kedua justru sedang mendominasi di televisi. Mungkin sedikit banyak saya tahu orang-orang tersebut, tapi sebagian besar orang yang saya kenal dan kebetulan melihat iklan tersebut justru malah bertanya-tanya, “Siapa Dia?”
Mungkin positif bila pada akhirnya men-trigger seseorang untuk mencari tahu lebih dalam siapa orang di dalam iklan tersebut, atau malah yang terjadi hanya membuat publik bergumam “Akh, buang-buang duit saja untuk iklan di TV.”

Terurai Satu Persatu....

Presiden SBY di awal pemerintahannya berjanji, bahwa dirinya akan memimpin langsung upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Sebuah janji tentu berimbas pada bagaimana membuktikannya. Dan kali ini, lagi-lagi SBY dihadapkan pada jajaran kabinetnya sendiri yang diduga terlibat kasus aliran dana Bank Indonesia. Baca selengkapnya di sini.

Saya rasa, kasus aliran dana BI ini menjadi kasus yang diantara pihak-pihak yang terlibat memerlukan strategi cukup kompleks. Bayangkan, pihak-pihak yang terkait cukup banyak, semua seolah saat ini berjalan sendiri-sendiri, tanpa satu komando utuh. Yang satu membuka rahasia yang lain, pihak yang lain menyudutkan yang satunya lagi, dan yang disudutkan seperti tidak ada yang membela. Bahkan saya pun tidak membayangkan, bentuk game theory seperti apakah yang mesti dijalankan, dan bagaimana equilibrium-nya tidak terbayang seperti apa yang memberikan pay-off terbesar. Prisoner’s dilemma dalam bagian game theory pun seperti sudah tidak sanggup lagi memetakan permainan yang terjadi sekarang ini.

Kondisi saat ini menurut saya, satu sisi merugikan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, karena masing-masing seperti ingin menyelamatkan diri sendiri, dan tidak bergerak pada koridor yang telah mereka “sepakati” bersama (maaf ini a priori saja). Dengan demikian akan sangat sulit dalam menentukan langkah apa yang mesti diambil dengan mempertimbangkan langkah atau manuver yang mungkin diambil pihak lain. Dari sisi penegak hukum, bisa jadi dengan kondisi seperti ini malah diuntungkan, yaitu semakin mudah untuk mengurai benang informasi secara satu persatu dari pihak-pihak yang terlibat. Bisa jadi informasi yang ada mungkin saling membentur, atau mungkin melengkapi informasi yang lain, hingga didapatlah informasi kolektif yang membuka semua informasi yang selama ini tidak terungkap ke permukaan. Dengan semakin jelasnya informasi yang ada, maka akan semakin jelaslah semuanya.

Saya hanya bisa mengucapkan, selamat berfikir, selamat berhitung dan mengkalkulasikan langkah-langkahnya. Dan hari-hari sekarang...langkah presiden SBY juga menjadi sangat berharga, terutama Pemilu 2009 yang semakin mendekat. Upaya dan komitmen pemberantasan korupsi tetap terus dipelihara, atau bahkan mungkin semakin dikuatkan, tanpa pandang bulu, meskipun pihak yang ada adalah bagian dari internal pemerintahan.

Saturday, August 2, 2008

Mengerti Random Sampling hanya dari kejadian sehari-hari

Seminggu ini gue dihabiskan untuk ikut pelatihan metode pelatihan dan belajar macam-macam pendekatan statistika (lagi) dan preketele-preketele lainnya...Hufh..kayaknya mulai terjerembab lagi sama istilah mean, standard deviasi, normalitas, R-square, parametrik, non-parametrik, etc.bla.bla.bla....Pelatihan ini memang layaknya kuliah beneran (baca: kuliah konvensional), dengan pengajar yang tipe peneliti murni, kadang keliatan autis, sibuk sama slide-nya sendiri, dengan penjelasan yang sering meloncat ke satu hal dan balik lagi ke bagian sebelumnya secara abstrak...Damn, bener-bener monoton dan bikin gue ngantuk berat....Saking bosennya kadang gue sempet tidur beberapa kali...atau mengumpat hal-hal penting...maki-maki gak jelas (sorry nih yang buat duduk di sebelah gue, jadi korban keanehan gue yang suka kambuh..Hihihihihi....).

Dari segala macam hal membosankan itu, ternyata ada hal yang okey menurut gue. Pengajarnya mampu menganalogikan bagaimana proses random sampling dengan hal yang menurut gue sederhana tapi cukup mengena di hati para peserta yang nyaris muntah-muntah dengan mata udah kayak lampu lima watt. Proses random sampling mampu diterangkan hanya melalui kejadian seorang koki untuk mengetahui apakah masakan yang dia buat sudah pas rasanya, atau sudah cukup masak. Bayangkan saja kuah dalam suatu kuali itu adalah populasi, proses pencicipan kuah tersebut sudah pas rasanya atau belum hanya melalui satu sendok cicipan, ini merupakan proses random sampling. Setiap kuah yang ada di kuali mempunyai probabilitas yang sama untuk terambil oleh sendok sang koki. Sample dari satu kuah sendok itu bisa digunakan untuk mengetahui kondisi populasi (dalam hal ini kuah dalam kuali tersebut). Secara tidak sadar sang koki telah menduga kondisi populasi melalui sample yang dia ambil. Jadi, ternyata hanya begitulah proses random sampling..Hahahahaha.....

Mungkin bagi sebagian orang contoh ini biasa-biasa aja, tapi menurut gue ini sebuah contoh yang sederhana dan brilian....Maklum, sebagai mantan asisten dosen untuk kuliah statistika ekonomi, gue gak sempet kepikiran untuk bisa kasih contoh kayak begitu, malah gue jelasin dengan segambreng penjelasan penuh istilah antah-berantah dengan alhasil mahasiswa-mahasiwa gue ngences-ngences dan kebingungan (akhh...lebay deh gue...).

Saturday, June 21, 2008

Dirgahayu DKI Jakarta Ke-481


Semoga gak makin macet....
Semoga gak banjir melulu....
Semoga semakin aman dan damai....
Semoga penduduknya makin berisi otaknya....
Semoga penduduknya makin terdidik moralnya....
Semoga tidak lagi banyak penduduk miskin di jalanan....
Semoga pada tobat dan gak banyak tindakan kriminal....
Semoga cepet jadi monorail-nya (niat gak sih????)....
Semoga bus transjakarta-nya makin banyak dan bagus pelayanannya (terutama turnover-nya, gila kali nunggu kelamaan melulu)....
Semoga makin tertib para pengendara kendaraan bermotornya (terutama motor tuh, dah kayak laron..sinting!)....

Yah terlalu banyak lah semoga dan semoganya...Semoga Bang Kumis serius menangani kota Jakarta dan membawa Jakarta ke arah yang lebih baik....

Bagaimanapun kota Jakarta, kite tetep cinteeee baaangggg.....

Sunday, June 15, 2008

Gue ternyata orang yang telat bisa baca

Gara-gara untuk memenuhin syarat administrasi di BI kemarin, salah satunya legalisir ijazah SD mengharuskan gue untuk ke SD gue dulu, kebetulan gak punya lagi fotokopi ijazah SD yang masih dilegalisir.

Di SD itu gue ketemu guru olahraga gue yang ternyata masih inget sama gue. Ah terharu banget deh masih diinget, padahal muka kayaknya dah banyak berubah. Sebut saja namanya Pak Yadi, dia masih inget gue soalnya gue juga punya kakak cewek yang juga sekolah di situ. Jadi nyokap juga sering ke SD situ untuk ngurusin anak-anaknya.

Betapa malunya gue mengingat masa-masa di SD itu, masih inget ketika masih kelas 1, diantara teman-teman yang lain, cuma gue seorang yang masih belum bisa membaca dengan baik. Masih inget juga masa ulangan umum waktu itu. Gue cuma bisa pasrah dan nangis karena gue gak bisa mengerti soal ulangan seperti apa karena belum bisa membaca dengan lancar. Hal ini otomatis bikin gue juga gak bisa jawab soal-soal ujian itu. Untungnya guru kelas 1 baik-baik. Mereka tahu kalo gue punya kakak cewek di kelas 6. Akhirnya mereka membolehkan gue ujian dengan didampingi kakak gue untuk membantu menjelaskan isi soal ujian dan memberi sedikit petunjuk cara menjawabnya.

Masih inget salah satu soal saat itu..."Matahari itu warnanya?" Dan kakak gue dengan sigap mengambil penghapus gue yang kebetulan warna kuning. Kakak gue bilang “Coba ini penghapus warnanya apa?” gue jawab “Kuning ya...” trus kakak gue bilang “Yasudah tulis donk jawabannya di situ!” Akhirnya gue menulis kata kuning dengan bantuan ejaan kakak gue dan guru gue yang juga turut mendampingin “K-U-N-I-N-G.”

Akh...terharu rasanya inget masa-masa itu, mungkin tanpa kebaikan semua, gue bisa gak naik kelas dari kelas 1 ke kelas 2. Di kelas 2 kemampuan membaca gue udah mulai membaik, namun ranking kelas tetap saja masih buruk. Masih inget kalo rangking gue 44 dari 45 murid di kelas. Parah ya...sampe-sampe perut gue dipukul bokap liat rapotnya yang ancurrrr. Hiks..Hiks..

Mungkin masa-masa itu kadang masih membekas, hingga sekarang gue masih suka agak lama dalam membaca untuk memahami sesuatu. Maka wajarlah kalo ujian gue mesti begadang hingga besok hanya untuk mengerti apa yang gue pelajari, tentu gak seperti orang lain yang kalo gue perhatikan begitu cepat untuk mengerti apa yang mereka baca.