Thursday, December 18, 2008

Keanehan Pada Jam Gadang


Wah nggak tau gue doank yang nyadar atau gimana, kebetulan pas main-main ke Bukittinggi, trus liat jam gadang. Nah kalo melihat angka-angka di jam gadang itu dengan teliti, ada sebuah keanehan. Liat foto di bawah ini:






Aneh nggak sih sebenarnya? Apa jaman dulu angka 4 dalam romawi ditulis dengan IIII bukan IV????

Cuma Iseng Posting

Kebetulan mau nyoba posting lewat Microsoft Office 2007, bias apa nggak makanya gue coba…..

Monday, September 8, 2008

Kebijakan Instan, buah Kecerobohan Sang Pembisik Istana

Well, akhir-akhir ini ada saja kejadian yang saya rasa konyol, apalagi hal tersebut terkait dengan orang di lingkaran satu istana negara. Hal pertama adalah kisruh adanya Blue-Energy, di mana air bisa sekonyong-konyong berubah menjadi bahan bakar. Hasil usaha penelitian prematur yang keburu dipublikasikan pun berbuah malu bagi pihak istana di mata publik, toh yang mengembangkan adalah ternyata penipu besar.

Sekarang ada lagi mengenai bibit padi ”unggul” Supertoy, yang ”konon” bisa panen 2-3 kali dalam setahun. Nyatanya, setelah panen pertama yang ada hanyalah padi dengan gabah kopos alias gak ada bulir berasnya. Lagi-lagi pihak istana terseret, di mana hal itu merupakan hasil rekomendasi staf khusus alias ”pembisik” Presiden di lingkaran istana. Disinyalir ”sang pembisik” ternyata merupakan komisaris dari perusahaan yang mengembangkan Supertoy. Baca selengkapnya di sini.

Sepertinya, peran ”sang pembisik” jauh lebih mujarab dalam merekomendasikan sebuah kebijakan dibandingkan dengan lembaga yang sangat terkait dengan kebijakan tersebut seperti BPPT, LIPI, dan Departemen Pertanian. Proses penelitian dan eksperimen secara benar menjadi diabaikan. Lebih gila lagi, hal yang belum teruji benar tersebut sudah digaungkan dan bahkan dilaksanakan kepada publik.

Saya rasa negeri ini semakin berotak instan, segala hal inginnya instan, justru hasil varietas komoditi pertanian yang memang telah teruji banyak yang belum dikembangkan dengan optimal. Beberapa media yang pernah saya baca, bahkan para peneliti yang menemukan varietas komoditi unggulan malah menjual hasil risetnya ke negara lain, termasuk ke Thailand, mungkin di dalam negeri tidak ada apresiasi yang baik mengenai penelitian yang telah dilakukannya.

Ngomong-ngomong tentang Blue-Energy, sepertinya tidak perlu bergelar doktor untuk mempunyai ide seperti itu. Cerita saja waktu masa sma, ada kejadian lucu dari seorang teman yang meminjam motor dari salah satu rental motor di perumahannya. Rental motor tersebut mempersyaratkan apabila mengembalikan motor, tangki bensin harus terisi penuh seperti semula. Nah dasar teman saya dodol itu, karena nggak punya cukup duit lagi untuk isi bensin, alhasil sebelum dia kembalikan motornya ke rental, dia mampir di salah satu rumah, mengambil selang air dan mengisi tangki bensinnya dengan air, ternyata lumayan mendongkrak jarum indikator tangki bensin jauh dari titik E. Hauahahaha....nggak tau kelanjutan nasib motor itu gimana, yang penting teman saya itu berhasil mengembalikan motor itu dengan fine-fine saja dengan tangki bensin yang ”penuh”. Nah, secara nggak sadar toh teman saya itu sudah berfikir tentang Blue-Energy toh? Hmmm...makanya tak perlulah bergelar Doktor untuk hanya memikirkan hal itu..Ck..ck..ck..ck....

Sunday, August 24, 2008

Gue Islam, tapi jangan paksa gue pilih partai lo!

Ada suatu hal yang menarik saat gw sedang makan nasi goreng di depan kosan gw.
Di gerobak tukang nasi goreng itu ada stiker besar terpampang di salah satu sudut kaca gerobak itu. Stikernya tentang salah satu partai politik, kayak di bawah ini stikernya:


Seolah-olah stiker tersebut ingin menyuarakan:

Orang Islam=Solat Menghadap Kiblat=Pilih Partai PPP.

Atau, Kalo Pilih PPP=Solatnya Menghadap Kiblat=Orang Islam.

Gw agak-agak nggak sepakat kalo agama digunakan sebagai kendaraan partai politik atau kepentingan tertentu, terutama lagi dilakukan dengan cara-cara promosi tidak elegan. Realitasnya, apa yang telah dilakukan PPP selama ini? Apakah mereka benar-benar mewakili orang Islam dan memperjuangkannya dengan sebenar-benarnya? Lalu, apa yang terjadi dengan anggotanya yang terlibat korupsi? Lalu apa jadinya konser dangdut dengan goyangan aduhai dalam kampanye-kampanye yang dilakukannya? Lalu apa jadinya dunia? Halah-halah....

Seolah-olah hari-hari menjelang Pemilu 2009 ini makin banyak saja cara untuk menunggangi suatu hal untuk mendulang suara, entah itu atas nama agama, rakyat miskin, demokrasi, kaum muda, anti korupsi, dan janji-janji surga lainnya. Semua layaknya hal yang saling intim dalam apa yang dijanjikan oleh partai-partai politik yang ada. Namun apa jadinya setelah Pemilu selesai? Toh semuanya seperti saling steril dan berjalan semaunya saja....

Come on, sudah cukuplah partai Islam ini yang sudah banyak ditinggalkan pemilihnya dengan pecah menjadi partai-partai lain dan hanya berharap dari "sisa" pemilih tradisionalnya....

Sunday, August 3, 2008

Siapa Dia?

Akhir-akhir ini iklan-iklan di televisi makin beragam, beragam bukan dalam artian para pembuat iklan semakin kreatif, namun semakin banyaknya iklan yang berisi pesan politik dan pencitraan yang ingin disampaikan kepada publik. Dalam proses pencitraan ini saya lihat beberapa hal. Pertama, iklan yang menampilkan kisah sukses yang telah dilakukan oleh seseorang dan iklan tersebut seolah-olah berfungsi me-refresh ingatan publik pada jasa-jasa positifnya. Kedua, ada juga iklan yang sifatnya lebih menonjol pada sisi marketing, atau dalam bahasa sederhananya berusaha untuk lebih pada meningkatkan popularitas.

Untuk yang pertama, biasanya iklan untuk seseorang yang sudah jelas pada tujuan yang ingin dicapai dan eksplisit pada ritual politik yang diikuti, misalnya dalam rangka mengahadapi pilkada yang sudah di depan mata. Nah kemudian, bagian kedua yang saya bingung, bentuk iklan ini biasanya tentang seseorang yang kisah sukses dan jasa-jasa apa yang telah dilakukan untuk masyarakat saja belum jelas, dan bahkan ritual politik apa yang ingin diikuti juga tidak pernah eksplisit disebutkan. Memang iklan bisa meningkatkan popularitas, namun apakah populer di iklan akan ada jaminan menjadi pilihan publik? Apakah perilaku pemilih kita hanya memilih bedasarkan siapa yang populer dan tidak populer? Kalo iya, maaf-maaf saja, saya bukan salah satu bagian itu.

Herannya, iklan tipe yang kedua justru sedang mendominasi di televisi. Mungkin sedikit banyak saya tahu orang-orang tersebut, tapi sebagian besar orang yang saya kenal dan kebetulan melihat iklan tersebut justru malah bertanya-tanya, “Siapa Dia?”
Mungkin positif bila pada akhirnya men-trigger seseorang untuk mencari tahu lebih dalam siapa orang di dalam iklan tersebut, atau malah yang terjadi hanya membuat publik bergumam “Akh, buang-buang duit saja untuk iklan di TV.”

Terurai Satu Persatu....

Presiden SBY di awal pemerintahannya berjanji, bahwa dirinya akan memimpin langsung upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Sebuah janji tentu berimbas pada bagaimana membuktikannya. Dan kali ini, lagi-lagi SBY dihadapkan pada jajaran kabinetnya sendiri yang diduga terlibat kasus aliran dana Bank Indonesia. Baca selengkapnya di sini.

Saya rasa, kasus aliran dana BI ini menjadi kasus yang diantara pihak-pihak yang terlibat memerlukan strategi cukup kompleks. Bayangkan, pihak-pihak yang terkait cukup banyak, semua seolah saat ini berjalan sendiri-sendiri, tanpa satu komando utuh. Yang satu membuka rahasia yang lain, pihak yang lain menyudutkan yang satunya lagi, dan yang disudutkan seperti tidak ada yang membela. Bahkan saya pun tidak membayangkan, bentuk game theory seperti apakah yang mesti dijalankan, dan bagaimana equilibrium-nya tidak terbayang seperti apa yang memberikan pay-off terbesar. Prisoner’s dilemma dalam bagian game theory pun seperti sudah tidak sanggup lagi memetakan permainan yang terjadi sekarang ini.

Kondisi saat ini menurut saya, satu sisi merugikan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, karena masing-masing seperti ingin menyelamatkan diri sendiri, dan tidak bergerak pada koridor yang telah mereka “sepakati” bersama (maaf ini a priori saja). Dengan demikian akan sangat sulit dalam menentukan langkah apa yang mesti diambil dengan mempertimbangkan langkah atau manuver yang mungkin diambil pihak lain. Dari sisi penegak hukum, bisa jadi dengan kondisi seperti ini malah diuntungkan, yaitu semakin mudah untuk mengurai benang informasi secara satu persatu dari pihak-pihak yang terlibat. Bisa jadi informasi yang ada mungkin saling membentur, atau mungkin melengkapi informasi yang lain, hingga didapatlah informasi kolektif yang membuka semua informasi yang selama ini tidak terungkap ke permukaan. Dengan semakin jelasnya informasi yang ada, maka akan semakin jelaslah semuanya.

Saya hanya bisa mengucapkan, selamat berfikir, selamat berhitung dan mengkalkulasikan langkah-langkahnya. Dan hari-hari sekarang...langkah presiden SBY juga menjadi sangat berharga, terutama Pemilu 2009 yang semakin mendekat. Upaya dan komitmen pemberantasan korupsi tetap terus dipelihara, atau bahkan mungkin semakin dikuatkan, tanpa pandang bulu, meskipun pihak yang ada adalah bagian dari internal pemerintahan.

Saturday, August 2, 2008

Mengerti Random Sampling hanya dari kejadian sehari-hari

Seminggu ini gue dihabiskan untuk ikut pelatihan metode pelatihan dan belajar macam-macam pendekatan statistika (lagi) dan preketele-preketele lainnya...Hufh..kayaknya mulai terjerembab lagi sama istilah mean, standard deviasi, normalitas, R-square, parametrik, non-parametrik, etc.bla.bla.bla....Pelatihan ini memang layaknya kuliah beneran (baca: kuliah konvensional), dengan pengajar yang tipe peneliti murni, kadang keliatan autis, sibuk sama slide-nya sendiri, dengan penjelasan yang sering meloncat ke satu hal dan balik lagi ke bagian sebelumnya secara abstrak...Damn, bener-bener monoton dan bikin gue ngantuk berat....Saking bosennya kadang gue sempet tidur beberapa kali...atau mengumpat hal-hal penting...maki-maki gak jelas (sorry nih yang buat duduk di sebelah gue, jadi korban keanehan gue yang suka kambuh..Hihihihihi....).

Dari segala macam hal membosankan itu, ternyata ada hal yang okey menurut gue. Pengajarnya mampu menganalogikan bagaimana proses random sampling dengan hal yang menurut gue sederhana tapi cukup mengena di hati para peserta yang nyaris muntah-muntah dengan mata udah kayak lampu lima watt. Proses random sampling mampu diterangkan hanya melalui kejadian seorang koki untuk mengetahui apakah masakan yang dia buat sudah pas rasanya, atau sudah cukup masak. Bayangkan saja kuah dalam suatu kuali itu adalah populasi, proses pencicipan kuah tersebut sudah pas rasanya atau belum hanya melalui satu sendok cicipan, ini merupakan proses random sampling. Setiap kuah yang ada di kuali mempunyai probabilitas yang sama untuk terambil oleh sendok sang koki. Sample dari satu kuah sendok itu bisa digunakan untuk mengetahui kondisi populasi (dalam hal ini kuah dalam kuali tersebut). Secara tidak sadar sang koki telah menduga kondisi populasi melalui sample yang dia ambil. Jadi, ternyata hanya begitulah proses random sampling..Hahahahaha.....

Mungkin bagi sebagian orang contoh ini biasa-biasa aja, tapi menurut gue ini sebuah contoh yang sederhana dan brilian....Maklum, sebagai mantan asisten dosen untuk kuliah statistika ekonomi, gue gak sempet kepikiran untuk bisa kasih contoh kayak begitu, malah gue jelasin dengan segambreng penjelasan penuh istilah antah-berantah dengan alhasil mahasiswa-mahasiwa gue ngences-ngences dan kebingungan (akhh...lebay deh gue...).

Saturday, June 21, 2008

Dirgahayu DKI Jakarta Ke-481


Semoga gak makin macet....
Semoga gak banjir melulu....
Semoga semakin aman dan damai....
Semoga penduduknya makin berisi otaknya....
Semoga penduduknya makin terdidik moralnya....
Semoga tidak lagi banyak penduduk miskin di jalanan....
Semoga pada tobat dan gak banyak tindakan kriminal....
Semoga cepet jadi monorail-nya (niat gak sih????)....
Semoga bus transjakarta-nya makin banyak dan bagus pelayanannya (terutama turnover-nya, gila kali nunggu kelamaan melulu)....
Semoga makin tertib para pengendara kendaraan bermotornya (terutama motor tuh, dah kayak laron..sinting!)....

Yah terlalu banyak lah semoga dan semoganya...Semoga Bang Kumis serius menangani kota Jakarta dan membawa Jakarta ke arah yang lebih baik....

Bagaimanapun kota Jakarta, kite tetep cinteeee baaangggg.....

Sunday, June 15, 2008

Gue ternyata orang yang telat bisa baca

Gara-gara untuk memenuhin syarat administrasi di BI kemarin, salah satunya legalisir ijazah SD mengharuskan gue untuk ke SD gue dulu, kebetulan gak punya lagi fotokopi ijazah SD yang masih dilegalisir.

Di SD itu gue ketemu guru olahraga gue yang ternyata masih inget sama gue. Ah terharu banget deh masih diinget, padahal muka kayaknya dah banyak berubah. Sebut saja namanya Pak Yadi, dia masih inget gue soalnya gue juga punya kakak cewek yang juga sekolah di situ. Jadi nyokap juga sering ke SD situ untuk ngurusin anak-anaknya.

Betapa malunya gue mengingat masa-masa di SD itu, masih inget ketika masih kelas 1, diantara teman-teman yang lain, cuma gue seorang yang masih belum bisa membaca dengan baik. Masih inget juga masa ulangan umum waktu itu. Gue cuma bisa pasrah dan nangis karena gue gak bisa mengerti soal ulangan seperti apa karena belum bisa membaca dengan lancar. Hal ini otomatis bikin gue juga gak bisa jawab soal-soal ujian itu. Untungnya guru kelas 1 baik-baik. Mereka tahu kalo gue punya kakak cewek di kelas 6. Akhirnya mereka membolehkan gue ujian dengan didampingi kakak gue untuk membantu menjelaskan isi soal ujian dan memberi sedikit petunjuk cara menjawabnya.

Masih inget salah satu soal saat itu..."Matahari itu warnanya?" Dan kakak gue dengan sigap mengambil penghapus gue yang kebetulan warna kuning. Kakak gue bilang “Coba ini penghapus warnanya apa?” gue jawab “Kuning ya...” trus kakak gue bilang “Yasudah tulis donk jawabannya di situ!” Akhirnya gue menulis kata kuning dengan bantuan ejaan kakak gue dan guru gue yang juga turut mendampingin “K-U-N-I-N-G.”

Akh...terharu rasanya inget masa-masa itu, mungkin tanpa kebaikan semua, gue bisa gak naik kelas dari kelas 1 ke kelas 2. Di kelas 2 kemampuan membaca gue udah mulai membaik, namun ranking kelas tetap saja masih buruk. Masih inget kalo rangking gue 44 dari 45 murid di kelas. Parah ya...sampe-sampe perut gue dipukul bokap liat rapotnya yang ancurrrr. Hiks..Hiks..

Mungkin masa-masa itu kadang masih membekas, hingga sekarang gue masih suka agak lama dalam membaca untuk memahami sesuatu. Maka wajarlah kalo ujian gue mesti begadang hingga besok hanya untuk mengerti apa yang gue pelajari, tentu gak seperti orang lain yang kalo gue perhatikan begitu cepat untuk mengerti apa yang mereka baca.

Gue juga maunya kayak lo!

Kadangkala orang seringkali melihat seseorang dengan melihat apa yang terjadi sama orang itu sekarang, bukan bagaimana dahulu seperti apa orang itu dan usaha apa saja yang dia lakukan selama ini hingga menjadi apa dia sekarang.

Kadang gue juga agak sebel denger omongan orang kalo gue sekarang beginilah begitulah cuma ngeliat dari sudut pandang sempit seolah-olah apa yang gue dapatkan sekarang adalah sesuatu yang jatuh dari langit, cuma liat hasil, tapi tutup mata dengan proses apa aja yang gue lakuin untuk mendapatkan apa yang gue ada sekarang.

Kadang orang memandang gue dengan sinis melihat apa yang gue lakuin sekarang, padahal apa yang gue lakukan sekarang, gue harus melakukan dua kali lebih keras dari apa yang mereka lakukan. Mereka pikir gue ambisius, tapi mereka suka lupa bahwa mereka justru lebih beruntung dari gue. Mereka gak perlu memulai sesuatu dengan garis start lebih belakang dari gue.

Okey terus terang gue juga maunya gak seperti ini, tetapi gue mesti seperti ini justru supaya gue juga bisa seperti mereka, bisa mengimbangi mereka, bisa merasakan apa yang sudah mereka rasakan sekarang tanpa harus berbuat sekeras apa yang gue lakukan.

Okey, sudahlah, tak ada gunanya saling membuat stigma antara kita. Gue menghargai apa yang mereka punya, dan juga tolong hargai gue atas apa yang gue lakukan sekarang untuk turut juga merasakan apa yang mereka sudah punya dan juga sudah mereka rasakan.

Saturday, June 7, 2008

Fenomena Politik dalam Kacamata Sepak Bola

Pembukaan Piala Euro 2008 di station TV RCTI memang menjadi acara yang ditunggu-tunggu oleh para penggemar sepak bola. Namun yang bikin saya terkejut adalah kemunculan Jusuf Kalla Wakil Presiden RI menjadi salah satu komentator pertandingan perdana antara Swiss melawan Cekoslovakia. Lagi-lagi ada saja manuver politisi negeri kita untuk mendongkrak popularitasnya menjelang Pemilu 2009. Memanfaatkan persitiwa sepakbola yang ditunggu jutaan manusia di Indonesia yang ingin disuguhkan pertandingan sepakbola bermutu, bukan sepakbola versi Indonesia yang barbarian dengan tontonan pengeroyokan wasit atau tawuran antar supporter.

Komentar Jusuf Kalla mengenai pertandingan perdana Piala Euro 2008 ada yang menarik perhatian saya. Saat menjawab pertanyaan Ricky Jo presenter pertandingan tersebut mengenai bagaimana perkiraan pertandingan sepakbola di Piala Euro 2008 ini Jusuf Kalla menjawab, “Piala Euro ini menjadi menarik karena ini merupakan pertandingan antar negara, dan ada saatnya seorang pemain dari suatu negara menjadi lawan temannya sendiri dalam satu tim di klub sepakbolanya untuk membela negaranya masing-masing.” Pernyataan ini seperti menjadi sebuah isyarat, saat ini memang SBY dan Jusuf Kalla satu tim dalam Kabinet Indonesia Bersatu, tapi saat Pemilu 2009 bisa saja menjadi rivalnya untuk meraih kursi nomor satu di negeri ini dengan membawa bendera partainya masing-masing. Bukan begitu Pak Jusuf Kalla?

Nah kemudian, lagi-lagi Jusuf Kalla berkomentar seputar negara mana yang kemungkinan menjadi pemenang Piala Euro 2008 ini. Kalla berkomentar, “Pertandingan sepakbola ini seperti halnya Pilkada, pemenangnya bisa saja yang tidak disangka-sangka, yang diunggulkan dan diusung-usung berpeluang besar meraih kemenangan bisa saja pada akhirnya kalah.” Hmm mungkin Pak Jusuf Kalla saat itu sedang curhat colongan karena jagoan partainya kalah di Pilkada Jabar dan Sumatera Utara baru-baru ini, padahal di wilayah yang merupakan basis Partai Golkar yang sangat besar tersebut jagoannya justru malah mengalami kekalahan.

Ternyata fenomena politik di negeri ini banyak bisa ditafsirkan secara mudah melalui sepakbola….Bukan begitu Pak Jusuf Kalla?

Tuesday, May 27, 2008

Seputar Demonstrasi, Dialektika yang Kering, dan Elit Politik


Pada perayaan Hari Kebangkitan Nasional lalu tanggal 20 Mei 2008, terjadi demonstrasi besar-besaran, terutama di depan Istana Negara. Isunya tentu yang paling dikedepankan adalah menolak upaya pemerintahan SBY-JK meningkatkan harga BBM. Karena kebetulan saat itu juga libur nasional perayaan hari raya Waisak, sedikit penasaran untuk mengetahui bagaimana demonstrasi tersebut berlangsung, akhirnya memutuskan untuk menghabiskan waktu berjalan mengelilingi seputaran monas dan istana negara.

Demonstrasi mengenai penolakan kenaikan harga BBM tersebut kembali mengingatkan saya mengenai isu yang sama pada tahun 2005. Kebetulan saat itu saya di Senat Mahasiswa FEUI punya peran untuk memberikan “pencerdasan” terhadap fakultas lainnya (fakultas non-ekonomi) di UI dalam menjelaskan latar belakang kebijakan kenaikan harga BBM tersebut. Entah apa yang saya pikirkan saat itu, sepertinya sangat sulit rasanya menjelaskan suatu fenomena ekonomi dengan menggunakan rasional ekonomi, bahkan dengan rasional ekonomi sederhana sekalipun. Jadi, harapan saya, diskusi yang ada merupakan diskusi cerdas, bukan hanya sekedar luapan emosional saja. Diskusi yang ada pun seperti tidak konstruktif. Hanya diskusi-diskusi yang sifatnya deduktif, kesimpulan dibuat di awal, dan diskusi menjadi hanya sebuah dialektika yang sifatnya formalitas, toh kesimpulannya sudah dibuat duluan di depan. Bahkan ada selentingan yang terdengar hingga ke telinga saya, “Kalau nanti Senat Mahasiswa FEUI mau ngomong apa tentang alasan kenaikan harga BBM, pokoknya yang penting kita tolak saja.” Mendengar berita tersebut, rasanya sangat miris. Okelah kita bicara nasib rakyat miskin yang akan terkena dampak akibat kenaikan harga BBM. Tapi kalau kita menolak sesuatu dengan berangkat melalui argumen yang tidak kuat, ujung-ujungnya malah akan mempermalukan diri sendiri.

Okelah, cukup untuk romantisme masa lalu. Di sore 20 Mei 2008 itu sepertinya ada yang ganjil dalam benak saya. Terutama mengenai para demonstran saat itu, kalau boleh saya katakan mungkin “ditunggangi” oleh elit politik tertentu. Beberapa demonstran mengenakan baju dengan gambar tokoh seorang mantan menteri, dengan bertuliskan “RR tokoh masa depan Indonesia” (maaf saya kasih inisial saja di blog ini). Atau di beberapa diskusi di blog lain yang mendiskusikan tentang isu kenaikan harga BBM ini, tiba-tiba dihujani komentar bertubi-tubi dengan embel-embel “Hati Nurani” dan “W si presiden Indonesia masa mendatang.” Dalam hal ini saya tak masalah, setiap orang bebas menudukng siapa pun. Tapi alangkah sedihnya, suara penderitaan rakyat yang ingin disuarakan menjadi tidak tulus akibat ada tujuan terselubung demi keuntungan elit politik tertentu.

Adapun tokoh “KKG” (maaf saya kasih inisial lagi saja) yang juga mantan menteri. Tokoh ini berkoar-koar di berbagai media seputar perhitungannya yang “ajaib” bahwa pemerintah sebenarnya tidak perlu meningkatkan harga BBM. Menurutnya, pemerintah sebenarnya selalu untung melalui penjualan BBM, dan biaya eksplorasi sangatlah kecil, dan rakyat berhak mendapatkan BBM yang digali dari tanah milik rakyat itu sendiri.

Akkkhhh...memang tak ada habisnya perdebatan ini. Tapi sangat lucu mengenai tokoh-tokoh yang merupakan mantan menteri atau pejabat di pemerintahan sebelumnya di mana saat ini berkoar-koar mengkritik kebijakan pemerintahan saat ini dengan argumen ini dan itu. Pertanyaan simpel dari saya, “Dulu ketika Bapak-Bapak ini menjabat, apakah dulu berhasil?” Lalu, “Bukankah apa yang terjadi sekarang juga tidak terlepas dari kontribusi Bapak-Bapak ini di masa lalu?”

Memang lebih mudah untuk mengkritik, tapi kok sulit untuk bertindak kongkrit....

Saya rasa, sangatlah lucu bagi masyarakat dengan percaya diri tinggi mengusung seorang tokoh sebagai pemimpin masa depan bangsa namun berasal dari tokoh masa lalu yang gagal membawa bangsa ini lepas dari keterpurukan. Hahaha..seperti tak ada tokoh lain saja....

Petronas VS Pertamina


Gambar di atas adalah gedung Petronas di Malaysia, dan Gedung Pertamina di Lapangan Banteng Jakarta Pusat. Dari melihat bentuk gedungnya saja, sepertinya sudah cukup berbicara banyak bagaimana kiprah kedua perusahaan minyak itu saat ini.

Malaysia memang dahulu banyak belajar dari Indonesia bagaimana mengelola perusahaan minyak dengan baik. Dan pelajaran itu sepertinya sungguh-sungguh dijalankan Malaysia dengan baik. Petronas kini menjadi perusahaan minyak kelas dunia dengan keuntungan USD 51 miliar atau Rp 459 triliun pada 2007. Porsi 65 persen keuntungan digunakan untuk membayar pajak dan dividen, sisanya tentu untuk diinvestasikan kembali.

Lalu, bagaimana dengan Pertamina? Rasanya saya bingung dengan kondisi industri perminyakan dan gas di negeri ini. Dengan berbagai masalah yang terjadi, sepertinya persoalan menyangkut sektor ini bagaikan benang kusut yang sulit untuk diuraikan kembali. Kondisi di mana Indonesia yang kini menjadi net-importir minyak, lifting produksi minyak yang terus menurun, konversi minyak tanah ke gas yang dihadapkan justru kelangkaan tabung gas di mana-mana, dan berbagai hal lainnya.

Mohd. Hassan Marican, Kepala Eksekutif Syarikat Petronas dalam wawancara oleh Tempo mengenai bagaimana Petronas bisa menjadi perusahaan kelas dunia menjawab dengan singkat, “Kami didirikan sebagai entitas komersial. Karena itu kami harus berkompetisi.” Mungkin jawabannya singkat, tapi itu berarti sangat dalam melihat kondisi yang terjadi di negeri kita. Yaitu, sudahkah perusahaan minyak kita mengedepankan profesionalisme dan berdiri sebagai entitas komersil dengan baik? Apakah benar tidak ada aktivitas rente ekonomi di dalamnya? Apakah benar tidak ada pengaruh politik dalam kebijakan perusahaannya?

Memang banyak pertanyaan belum atau mungkin tidak akan pernah terjawab mengenai hal ini. Mungkin sambil merenungkan jawabannya, bolehlah bermimpi di suatu saat nanti, kita punya gedung semegah gedung Petronas di Malaysia.