Tuesday, June 7, 2011

Tujuan dan Pencapaian

Orang punya beragam cara untuk menentukan tujuan hidupnya. Ada yang mengucapkan resolusi tahunan, melihat pencapaian diri pada setiap tahunnya. Ada yang menuliskannya dalam proposal hidup, membuat suatu list mengenai apa yang dicapai sepanjang hidupnya. Tapi ada yang sedikit menyentak pikirian gue, pertanyaan seorang teman saat itu, "Apa pencapaian hidup yang udah elu wujudkan Gaf?"

Well, saat itu gue cuma terdiam, hmmm...menjadi hanya terdiam saja bisa jadi karena gue dan dia sebetulnya sedang tidak dalam frekuensi dan persepsi yang sama. Mungkin saja apa yang sudah gue miliki dan raih saat ini adalah sebuah pencapaian, tapi dari sisi pikiran gue itu bukan pencapaian, tapi hanya sejengkal, selangkah atau sepelemparan tombak dari proses menuju sebuah pencapaian.

Simple-nya, layaknya sedang mengikuti kompetisi lari marathon. Ketika seorang pelari melewati garis putih menurut para penonton yang tidak tahu aturan kompetisi mengira itu adalah sebuah garis finish, which means saatnya pelari bisa berhenti. Namun sebetulnya garis putih tersebut hanyalah sebuah penanda bahwa estafet pertama sudah berhasil terlewati, dan ternyata masih ada 2, 3, 4, hingga beberapa estafet ke depan yang masih belum terlewati.

Jadi, tujuan, pencapaian dan titik akhir adalah persoalan persepsi. Beda persepsi, ya tentunya beda juga bagaimana cara memandang sebuah pencapaian.

Saturday, January 9, 2010

Apa Kita Kembali Seperti Zaman Orde Baru?

Setelah era reformasi bergulir pada tahun 1998, Indonesia merasakan demokrasi sebenarnya, ketika setiap orang bebas mengeluarkan pendapatnya, berorganisasi dengan berbagai keunikannya, dan bergulirnya pemilihan umum dengan melibatkan beragam partai serta partisipasi masyarakat yang lebih luas. Pendulum kebebasan itu mulai bergeser ke kanan, dari sebelumnya yang terbujur kaku di sebelah kiri, terbungkam oleh tangan penguasa. Namun apakah kebebasan tersebut akan terus menerus bergulir pada pendulum di sebelah kanan, atau penguasa saat ini mulai kembali ingin menggesernya ke kiri?

Berbagai macam bentuk dan cara penguasa bertindak laku atas nama "stabilitas" sepertinya mulai kembali menyerbakkan bebauan kayu Cendana, masa stabilitas gaya Orde Baru. Siapapun saat itu bisa dicap subversif ataupun tertuduh berbuat tindakan makar jika tidak sejalan dengan arah penguasa. Tak bedanya dengan orde lama, tak sejalan dengan penguasa adalah kontra-revolusioner, meskipun kadang tak semua mengerti apa maksud dari revolusioner itu sendiri. Rovolusi dan stabilitas menjadi hal absurd, seperti sebuah ayat suci yang mesti dipegang teguh.

Berita mengenai pelarangan beredarnya beberapa buku kembali muncul. Entah mengapa hal tersebut kembali mengulangi masa-masa sebelumnya. Padahal buku hadir untuk membuka wawasan manusia agar memiliki pandangan terhadap kehidupan yang lebih luas. Jika buku dianggap menghadirkan jalan cerita yang dianggap salah, maka biarlah, dan biarkan seiring dengan jalannya waktu ada penulis lain yang mengungkapkan sisi lain dari sebuah hal sama dengan alternatif buku lain. Seorang intelektual, mestinya juga membuka ruang untuk melihat sudut pandang yang lain, dan soal mau percaya atau mengikuti yang mana itu kembali pada pilihannya.

Para founding fathers kita terdahulu seperti Soekarno-Hatta, adalah pribadi-pribadi yang rajin membaca buku. Pemikiran-pemikiran mereka terhadap kebangsaan, sosial, politik, maupun ekonomi tak lepas dari buku-buku yang mereka baca. Terkadang ketika membaca mengenai pemikiran-pemikiran mereka, apabila ditinjau lebih dalam sebenarnya tak sepenuhnya orisinil. Banyak juga dapat kita temukan apa yang diutarakan pada berbagai buku-buku barat yang beredar. Intinya, mereka mampu meramu dari beragam pemikiran yang ada di dunia dalam konteks ke-Indonesia-an.

Pelarangan buku hanya akan menyebabkan masyarakat mempunyai perspektif sempit akan sebuah hal. Tak ada alternatif pandangan lain yang mampu memperbesar kacamata pemikirannya. Saya jadi teringat, ketika reformasi bergulir, para penjual buku mulai kembali berani menjual buku-buku kiri, Marxisme, buku novel Pramudya, dll, serta berbagai hal yang selama orde baru dilarang. Gayung pun bersambut, masyarakat antusias menyambut kehadiran buku-buku tersebut. Mungkin penasaran ingin mengetahui isi buku tersebut mengapa hingga dilarang oleh Orde Baru. Lalu, apakah sebodoh itu ketika seseorang membaca buku Karl Marx, kemudian dia menjadi fanatik Marxisme? Membaca buku tentang Komunisme, kemudian menjadi komunis? Saya rasa tidak. Itu tergantung dengan individu masing-masing. Justru orang yang menjadikan satu buku menjadi acuan kebenaran mutlak adalah hal yang salah, terkecuali pada kitab suci. Buku sebenarnya hanya menyediakan ruang terbatas bagi penulisnya untuk merangkaikan pemikirannya, ruang pemikiran lain bisa ditemukan pada buku lain, dan seterusnya. Bahkan kitab sucipun memerlukan kitab-kitab lain yang mampu menjelaskan bagaimana membumikan kalam Tuhan dalam realitas kehidupan.

Sekali lagi, bagi saya pelarangan peredaran buku adalah SALAH.

Mungkin ada kutipan dari Bung Hatta yang seharusnya menginspirasi penguasa untuk tidak membredel buku:
"Dengan buku, kau boleh memenjarakanku di mana saja.
Karena dengan buku, aku bebas!"

Tuesday, January 5, 2010

Peneliti VS Politisi

Kayaknya ga ada abis-abisnya berita mengenai keadaan politik negeri ini, mulai dari cicak versus buaya, masalah Bank Century, dibanned-nya buku Gurita Cikeas, ini-itu, yang berkat digdayanya media di Indonesia untuk menyuarakan hal tersebut terus-menerus, sampai-sampai terngiang-ngiang terus semua keadaan negeri ini yang kayaknya penuh masalah yang nggak selesai-selesai.

Omong-omong soal politisi, siaran Live sidang-sidang di DPR secara nggak langsung makin ketauan deh kualitas para politisi di Senayan itu. Ngomong ini-itu yang kadang nggak nyambung, atau berapi-api dengan semangat 45 tapi tanpa esensi. Dulu mungkin orang-orang tau dari berita atau kabar dari mulut ke mulut betapa kadang nggak mutunya para wakil rakyat di Senayan. Ngomong kok suka ngawur????

Beberapa obrolan dengan kawan, pekerjaan sebagai peneliti ternyata berbanding terbalik dengan politisi, mengapa?

Peneliti:
Kalo peneliti, tidak masalah jika hasil penelitiannya, kajiannya, atau analisisnya untuk mengungkapkan atau memprediksi suatu keadaan ternyata salah. Selama mengikuti kaidah akademis dan runtut metode penelitian dengan baik, di ilmu sosial seperti ilmu ekonomi membenarkan kita untuk memiliki kesalahan, bahkan hingga 10 persen, yang berarti kita menggunakan tingkat kepercayaan sebesar 90 persen. Asalkan, kita tidak berbohong!

Politisi:
Kalo politisi, mana mungkin mau terlihat salah, bahkan dalam berbagai situasi harus mampu menampilkan diri sebagai pihak yang benar. Tetapi tentu saja, boleh berbohong! Mungkin secara statistik tingkat kesalahan dari statement yang dilontarkan bisa mencapai 90 persen, dan tingkat kepercayaannya bisa jadi hanya 10 persen.

Kasian yah Indonesia, setiap Pemilu terbuai dengan janji-janji, lalu kecewa, eh ketemu Pemilu lagi malah terbuai lagi....yah selanjutnya nggak lain dan nggak bukan kalo lagi-lagi KECEWA....

Jadi mau percaya siapa?

Resolusi 2010..Hmmm..Apa ya?

Nggak terasa sekarang udah tahun 2010..thanks buat semua yang terjadi di 2009, baik yang manis maupun pahit, segala hal yang tak terduga, segala konspirasi kehidupan ini, segala hal yang seharusnya membuat gue lebih sabar, kuat dan menghadapi segalanya lebih optimis lagi.

Well, kalo tahun baru gini biasanya orang membuat resolusi sebagai target hidup yang akan dipenuhi, sekaligus merefleksikan kembali resolusi tahun sebelumnya apakah tercapai atau nggak.

Kalo gue kayaknya cenderung orang yang nggak pernah membuat resolusi, mungkin tipe yang membiarkan hidup ini mengalir begitu saja..Hmm, ngga bagus sih kayaknya, jadi hidup pasti tidak terencana dengan baik. Atau mungkin gue orangnya membuat target tanpa harus membuat resolusi, toh secara nggak sadar sudah terpatri secara otomatis mengenai bagaimana target hidup gue selanjutnya.

Daripada gue pusing-pusing mikirin soal resolusi tahun 2010, mending gue cuplik-cuplik aja dari lirik lagu yang kira-kira mewakili soal itu semua. Yang simple-simple aja....

Next Year Baby
by Jamie Cullum

Next Year,
Things are gonna change,
..........
And start all over again
Gonna pull up my socks
Gonna clean my shower
Not gonna live by the clock
But get up at a decent hour
Gonna read more books
Gonna keep up with the news
Gonna learn how to cook
And spend less money on shoes

Pay my bills on time
File my mail away, everyday
..........
..........

Resolutions
Well Baby they come and go
Will I do any of these things?
The answers probably no
But if there's one thing, I must do,
Despite my greatest fears
I'm gonna say to you
How I've felt all of these years

..........
..........

Well, mungkin itu aja..setidaknya ini jadi postingan blog gue pertama di tahun 2010.
Semoga bisa lebih produktif menulis lagi.

Selamat menjalani tahun 2010 ini guys....

Sunday, October 18, 2009

Apalah Artinya Agama, Bila Kehilangan Sisi Humanisme

Mungkin ini kejadian yang tak pernah terungkap, dan boleh gue sharing karena cukup mengganggu pikiran gue.

Ini kejadian saat-saat setelah Sumatera Barat diguncang gempa 7,6 skala richter, yang membuat Kota Padang dan Pariaman hancur. Apakah kejadian ini membuat mereka tersadar? Hmmm..kalo gue katakan ngga juga....

Kejadian gempa di Sumbar merupakan kejadian yang cukup hebat menimpa pulau Sumatera setelah bencana Tsunami Aceh beberapa tahun yang lalu. Kalo ditelisik, kedua daerah itu sama-sama men-state bahwa daerahnya mengusung religiusitas yang tinggi, yang satu sebagai Serambi Mekkah, yang satu lagi mengadaptasi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Bencana yang menimpa keduanya bisa jadi jalan Tuhan menguji keimanan penuduk di daerah tersebut, yang dengan sadar mengadaptasi nilai Ketuhanan (baca: Islam) dalam menjalankan kehidupannya.

Namun ada banyak kejadian yang mengganggu benak gue, dan ngga tau apa ini bisa ditangkap rasionalitas gue yang pemahaman agamanya mungkin ngga bagus-bagus amat. Namun sebagai manusia normal gue punya sisi humanis yang secara universal dianut semua umat manusia di dunia. Dan melihat beberapa kejadian, cukup bikin kernyit di dahi gue bertambah rasanya.

Kejadian 1:
Kejadian ini terjadi dalam perbincangan salah satu ketua Satkorlak dan lembaga keagamaan (sebut saja HT) dengan perawakan berjanggut, bercelana ngatung, dan berjidat hitam. Perbincangan terjadi di Gubernuran, yang menjadi media center bencana gempa di Sumbar, posisi gue di situ lagi mencatat sejumlah informasi untuk mensupply para jurnalis CNN yang kebetulan gue menjadi pemandunya.

Orang HT (HT) : Pak, kami datang kemari membawa sejumlah bantuan untuk para korban gempa, kami sekarang butuh tempat tinggal, dan moda transportasi untuk kebutuhan kami.
Kepala Satkorlak (KS) : Oh baik, tapi kami saat ini sedang mengalami keterbatasan, dan kami tidak dapat menyediakan penginapan ataupun kendaraan untuk saat ini.
HT : Bagaimana tidak bisa Pak? Kami di sini datang dengan maksud baik masak kami tidak difasilitasi?
KS : Bapak-Bapak, mohon maaf karena saat ini juga kami mengalami kesulitan, berbagai fasilitas juga ikut hancur, kami tidak bisa memenuhi keinginan Bapak-Bapak.
HT : Lho, bagaimana bisa? Bapak kan pejabat negara, ditugasi negara, bagaimana Bapak tidak bisa menyediakan fasilitas untuk kami tempat tinggal dan kendaraan?
KS : Bapak-Bapak, kalau memang ada, tentu akan kami sediakan, sekarang memang kondisinya tidak ada, dan kami pun sekarang juga mengalami kesulitan.
HT : (Dengan nada marah) Bapak itu digaji oleh negara! Sudah semestinya Bapak membantu kami!
KS : (Dengan masih berusaha sabar) Bapak-Bapak, kalau melihat tim lain, baik dari Swiss, Amerika, Australia, negara-negara lain, bahkan lembaga lain, mereka berusaha memenuhi kebutuhan tempat tinggal dan kendaraannya secara mandiri. Mereka mau membantu kami tanpa juga harus memberatkan kami di sini.
HT : Saya tidak mengerti dengan Bapak. Saat kami membantu bencana gempa di Jogja, kami difasilitasi penuh oleh pemerintah daerahnya. Kalo ini apa?
KS : Bapak-Bapak, apakah pernah mengalami gempa? Bencana seperti ini?
HT : Iya, kami pernah! Waktu tsunami di Aceh! (dengan nada kesal)
KS : Lha, kalau sudah mengalaminya, kenapa sikap Bapak-Bapak seperti ini?
HT : (Terdiam, dan tak berlangsung lagi bantahannya)

Jujur, pada kondisi itu semua juga sedang mengalami kesulitan, tidak hanya korban, namun juga para volunteer, wartawan, dan sejumlah orang yang datang membantu sama-sama bersusah payah untuk mencari tempat tinggal, supply makanan, listrik, dan kendaraan yang memadai. Gue terus terang mendengar pembicaraan antara HT dan KS itu agak sedikit panas, mungkin kuping gue memerah saat itu. Apalagi mereka menggunakan atribut, rompi, dan pakaian yang mengusung nama agama (Islam Bergerak dan Bersatu). Gue juga Islam, tapi apakah mesti tidak melihat kondisi dan situasi yang ada? Mencoba empati dengan siapapun di daerah bencana itu, meskipun dia pejabat negara atau siapapun....


Kejadian 2:
Kisah dari seorang teman yang tinggal di kontrakan di Kota Padang. Saat kejadian kebetulan berbagai ruko dan fasilitas umum di depan kontrakannya hancur, sebagian jalan terutup, dan mengharuskan para pengendara untuk mengalihkan jalannya ke jalan lain untuk mencapai tujuan. Teman gue iti dengan menggunakan motornya mencoba ke kontrakannya untuk menemui istrinya yang kebetulan tinggal sendirian di kontrakan saat kejadian gempa.

Namun saat menuju gang ke kontrakannya, tiba-tiba jalan tersebut diportal, sehingga dia tak bisa masuk ke jalan menuju kontrakannya. Dia pun terheran-heran, karena tak seperti biasanya jalan itu ditutup, dan dia pun bertanya pada warga yang dia kenal saat itu:

Teman : Ibu, kok jalannya diportal? Biasanya nggak?
Seorang Ibu : Iya soalnya banyak orang jadi lewat sini, takut nanti jalannya rusak.

Suerrrr, ini hal yang gila menurut gue, di saat-saat orang sedang sulit, semua panik, semua mencoba menempuh jalan barangkali menemui keluarganya, sodara-sodaranya, dan melihat rumahnya yang mungkin saja ikut terkena gempa, ini masih saja ada orang-orang yang dengan egois mementingkan dirinya sendiri. Satu kata: EDAN!


Kejadian 3:
Ini juga kisah beberapa teman, dan agak miris mendengarnya.
Ada dua teman gue, satu tinggal di kosan berlantai 4, dan satu lagi tinggal dikontrakan yang sudah dia bayar DP-nya sebesar Rp2 juta. Akibat gempa, kosan teman gue lantai satunya hancur, dan membuat kosannya yang berlantai 4 agak sedikit miring, sedangkan kontrakan teman gue itu bangunan bagian belakang hancur, dan lantainya terbelah, tak mungkin rasanya memaksa tetap tinggal di bangunan yang sudah rapuh itu.

Akhirnya keduanya terpaksa mengungsi di kosan teman gue di belakang kantor yang kondisinya baik-baik saja.
Namun setelah beberapa hari Ibu pemilik kosan itu datang, mungkin perbincangannya seperti ini:
Ibu Kosan : Kayaknya dua orang ini udah terlalu lama menumpang di kosan ini!
Teman : Maaf Ibu, kosan dan kontrakan kami rusak dan tak mungkin ditinggali, kami tak tahu mau tinggal di mana.

Namun sepertinya Ibu Kosan itu tidak mau tahu kondisinya seperti apa, dan akhirnya dua teman gue itu terpaksa angkat kaki dari kosan itu. Hmmm...luar biasa. Apa takut rugi? Apa mesti nambah bayar listrik? Apa mesti nambah bayar air?


Kejadian 4:
Pas kejadian gempa, cari makan sulit, air sulit, listrik padam, Hape beberapa provider tak bisa diandalkan, tapi kok ada yang tega jual nasi goreng sepiring 20 rebu, aqua gelas 2500, bensin oplosan 15 rebu/liter. Okey, kalo dalam ekonomi mengatakan, ketika permintaan tinggi, tapi barang langka, maka harga akan terkerek naik, ini namanya demand-pull inflation. Tapi, mestikah ini terjadi di mana kondisi sedang sulit? Teganya..teganya....

Singkat kata, buat apa dengan bangga mengatasnamakan religiusitas di suatu daerah, membangga-banggakan prinsip agama dalam kehidupan, namun toh tak berbanding lurus dengan rasa kemanusiaan.


Nada Minor Lagu Cinta

Dari berbagai kejadian, entah yang gue liat atau gue alamin rasanya kadang hidup ngga sesuai dengan apa yang mudah terucap..seperti lagu-lagu yang sering berdendang. Lagu cinta yang menawarkan romantisme dua sejoli atau kecintaan seseorang dengan orang terkasihnya. Tapi kalo kita lihat di infotainment, artis-artis baik pencipta lagu, atau penyanyi yang begitu syahdu menyanyikan lagu cinta, namun perjalanan cinta atau keluarga yang dibangunnya tak semulus seperti apa yang keluar dari suaranya yang merdu atau hasil lagu ciptaannya.

Tipe orang Indonesia mungkin, terlihat dari pasar musik, band-band yang membawakan lagu cinta dan romatisme mendayu-dayu justru laku keras. Seolah-olah tak memberi ruang bagi genre musik lain yang membawakan lagu mungkin lebih sarat makna tanpa melulu mengusung tema cinta.

Begitupula kalo gue lihat kecenderungan saat ini, kutipan-kutipan lagu cinta mulai meracuni status facebook, twitter, plurk, dan berbagai situs jaringan sosial lainnya. Dengan pongah seolah-olah orang tersebut mem-publish bahwa dirinya sedang dimabuk asmara, paling mengerti apa artinya cinta dan kasih sayang. Well, kalo gue telisik satu-dua orang, toh justru yang seperti itu biasanya berkebalikan dengan kehidupan nyatanya.

Lagu cinta bagi gue sama saja dengan ayat-ayat Tuhan, menawarkan kondisi ideal, namun tak mudah dilakukan atau seindah pada realitanya. Sama halnya dengan orang-orang dengan jumawa membawa ayat-ayat Tuhan yang seharusnya membawa rahmat semesta alam, namun dikutipnya untuk melakukan tindakan kekerasan (atas nama agama tentunya). Sama halnya juga dengan lagu cinta, yang dapat dikutip atau dilantunkan, namun justru untuk meluluhkan hati sang selingkuhan, dan melupakan terkasih yang sebenarnya.

Hmmm..ada lirik lagu dari band indie Efek Rumah Kaca mengenai fenomena ini, dan gue setuju 100 persen akan isinya.

Cinta Melulu

Nada-nada yang minor
Lagu perselingkuhan
Atas nama pasar semuanya begitu klise

Elegi patah hati
Ode pengusir rindu
Atas nama pasar semuanya begitu banal

Reff:
Oh oh…
Lagu cinta melulu
Kita memang benar-benar melayu
Suka mendayu-dayu

Apa memang karena kuping melayu
Suka yang sendu-sendu
Lagu cinta melulu


Kalo pengen tahu gimana lagunya, gue embed live perfomence-nya dari youtube:



Lagu cinta, hmmmm...No thanks....

Wednesday, August 5, 2009

Soal Kereta Api Yang Gak Jelas

Mungkin postingan ini diilhami oleh kejadian tabrakan antar kereta baru-baru ini (lihat di sini). Namun gue bukan mau komentar tentang gimana kecelakaan itu terjadi, cuma gue pernah menjadi korban betapa ketidakprofesionalannya PT KAI. Berikut ceritanya:

Suatu hari dari rumah gue di Bogor pagi-pagi sekitar jam 9an mau berangkat menuju kampus UI di Depok. Hari itu di rumah udah ga ada orang, duit gue di kantong tinggal 3 ribu perak. Bingung banget gimana cara berangkat ke kampus tapi ga ada ongkos. Teringat sama nyokap yang suka naruh duit receh di guci kecil dekat kamar mandi. Korek-korek dikit, akhirnya terkumpul duit cepe-an total 500 perak. Okeh, gue udah punya 3500 perak sekarang, 1500 cukup buat naek angkot ke stasiun, dan 2 ribu-nya buat beli tiket kereta ekonomi. Berencana gue mau ngambil duit di kampus, soalnya di fakultas teknik ada ATM BNI yang pecahan 20ribu, kalo ngga salah saldo duit gue tinggal 40ribu-an gitu. ATM BNI itu adalah ATM surga buat gue, karena gue bisa ambil duit gue sampe polllll...sisa saldo 20 ribu aja bisa gue tarik di ATM itu.

Okeh, sampailah gue di stasiun, beli tiket, dan masuk ke kereta ekonomi berdiri sambil clingak-clinguk nunggu kereta berangkat. Sekitar 15 menit kemudian kereta berangkat, semua berjalan seperti biasanya, kereta ekonomi yang bau, kotor, dan banyak orang jualan serta pengemis2 lalu-lalang itu melaju secara perlahan. Bagi gue, kereta ekonomi adalah pemandangan negeri gue yang sebenarnya, jauh dari centang-perenang kehidupan kota yang gemerlap. Sejumlah penyakit sosial tumplek di situ. Orang miskin, cacat, pengemis, pengamen, pencopet, sampe orang yang punya kelainan seks suka mencari kesempatan dalam kesempitan memuaskan seksual fisiknya dengan menempelkan bagian tubuhnya ke lawan jenis ada semua di situ. Naek kereta ekonomi sama aja kita masuk sejenak ke dalam fenomena masyarakat yang termarjinalisasi secara sosial dan ekonomi. (aih serius amat gue nulisnya)

Beberapa menit kemudian, tak disangka pas kereta melaju diantara bojong-citayam tiba2 berhenti. Gue pikir memang seperti biasa kereta ekonomi suka berhenti2 sesukanya, kadang tanpa pemberitahuan pula kenapa itu kereta berhenti, entah apa ada yg kebelet pipis kah, atau ada kerusakan teknis kah, kereta ekonomi bisa berhenti sesuka hatinya berasa penumpang mesti maklum2 aja dengan persoalan itu. Istilah: "Konsumen adalah Raja," hahaha ke laut aja lo, di fasilitas publik kayak begini kagak berlaku.

Tapi berhentinya kereta kali ini seperti lain dari biasanya. Tiba2 orang2 pada keluar, ga seperti biasanya org2 yang tetep di dalam kereta menunggu meskipun kereta berhenti cukuplama. Tiba2 ada yang bilang kalo kereta berentinya bakal lama, bisa 2-3 jam karena ada pemadaman listrik bergilir se-Jawa-Bali. Damn! semua orang pada keluar mutusin lanjut perjalanan dengan naek angkot. Dan gue baru inget kalo gue ga punya duit sama sekali, OMG mana di tengah sawah pula....bagaimana nasib gue ini....

Dalam hati gue, anjrit kalo tau ada pemadaman listrik bergilir kenapa sih ga dikasih tau sebelumnya gitu loh, dan juga kenapa tuh kereta tetep ngotot berangkat. Sial bener dah gue, mana hari itu jam 11 ada acara perkenalan organisasi2 di kampus buat Mahasiswa Baru (Maba). Dan gue mesti ngasih sambutan di acara itu.

Hampir 1 jam nunggu, gue mulai mati gaya. Akhirnya gue coba keliling2 gerbong dari depan sampe belakang, siapa tau ketemu temen senasib yang bisa diajak ngobrol. Sialnya ternyata ga ada satupun yang gue temuin. Bingung gue bener2 tambah mati gaya. Akhirnya gue nongkrong bareng tukang rokok, tukang koran, dan beberapa pengemis di salah satu gerbong. Duduk-duduk sambil dengerin orang2 itu ngobrol ga jelas, trus tidur2an di kursi kereta ekonomi yang keras itu.

Tiba2 hape gue geter, sebenernya gue paling males keluarin hape di kereta, maklumlah gudangnya copet di situ. Gue pindah ke gerbong sebelah yang agak sepi untuk keluarin hape. Pas gue liat yang telvon Barjo, Kadiv Hublu Senat FEUI, gue angkat dan langsung terdengar suara:

Barjo (B) : "Woy bozz, mana lu? Nanti jangan lupa acara jam 11 ya!"
Gue (G) : "Man gue masih di kereta nih, kejebak gue keretanya mogok"
B : "Memang posisi lo di mana?"
G : "Keretanya lagi ada di tengah sawah nih, pokoknya ga jelas gitu"
B : "Yaudah lo turun naek angkot aja!"
G : "Man, kalo gue ada duit sih gue dah naek angkot dari tadi, masalahnya gue ga ada duit sama sekali, 100 perak pun gue ga ada"
B : "Yaudah lo naek taksi aja nanti kalo dah nyampe kampus kita yang talangin dulu"
G : "Woy lo jangan over ekspektasi deh, di sini angkot lewat aja dah syukur, jangan ngarep bisa ada taksi lewat sini"
B : "Wuahahahaha...Yowes lah kita tunggu aja di sini, lo pikirin aja gimana caranya sampe sini"
G : "Okey2, lo tungguin gw aja, siapa tau keretanya bentar lagi jalan, nanti kalo ternyata gue blom datang2 juga, lo wakilin aje ye"
B : "Sipp bozz"

Okey, kembali lagi idup gue nelangsa di dalam gerbong kereta yang ga jelas kapan jalannya. Dah hampir 2 jam gue nunggu sampe abis 1 buku gue selesai baca (kebetulan bukunya tipis sih :)), dan akhirnya kereta jalan juga. Oh God Thanks! Selama kereta melaju, gue ga berhenti2nya sesekali melihat jam, panik takut ga sempat nyampe kampus jam 11. Bener aja, kereta akhirnya nyampe stasiun UI jam setengah 12. Begitu kereta berhenti, gue langsung buru2 turun. Udah ga kepikir naek ojek (karena ga ada duit), atau nunggu bis kuning yang jam segitu supirnya suka datang semaunya, biasanya masih pada asik ngopi2 sama maen gaple di pool depan asrama. Yaudah gue jalan cepet (kayaknya lebih keliatan lari sih) menembus jalan depan FISIP UI sampe menyusuri jalan ke FEUI. Dengan masih ngos2an dan keringetan akhirnya gue sampe juga di kampus, dan langsung menuju Auditorium. Dan bagus banget, pas gue nyampe pas acaranya udah selesai. Wuidihhhh gondok bener. Gara2 kereta sialan dan kebodohan gue yang ga bawa duit sama sekali. Akhirnya sia2 juga perjuangan menuju kampus, acara selesai tanpa gue kagak sempet nongol di acara itu (Ketua macam apa lo far????).

Mungkin itu kejadian sekitar 4 tahun lalu, tapi sekarang gue liat profesionalisme PT KAI belum juga banyak berubah secara signifikan. Pertanyaannya, jadi mau sampe kapan kondisi transportasi di Indonesia kayak begini terus? Helloooo, jangan ngarep deh bangun monorail atau MRT segala. Ngatur kereta api yang masih konvensional sejagad raya ini aja masih belom bener. Malulah kalo begini terus.

Moral story: JANGAN PERNAH PERGI TAPI NGGA BAWA DUIT SEPESER PUN!

Monday, March 30, 2009

Lagi Mabok MSG

Kalo lagi di kosan kadang butuh cemilan bikin bibir gue gak manyun terus. Pasokan makanan gue kebetulan dah abis. Damn, cuma tersisa mie instan, sedangkan gue butuhnya cemilan. Masa gue makan mentah tuh mie. Oh tidak, masa dari dulu sampe sekarang masih aja suka makan mie mentah. Okey, akhirnya cabut ke supermarket, dan di bagian makanan kecil ketemu dengan produk-produk Richeese dan Nabati, dkk. Jenisnya macem-macem pula, jadi tergoda untuk nyobain semua. Akhirnya BOROOOONG!

Selamat tinggal era kejayaan MOMOGI...













Karena penasaran, akhirnya gue makan semua..huaaaa langsung PUYEEEENG..gara-gara kebanyakan makan MSG alias kena sindrom rumah makan cina (chinese restaurant syndrome). Kata orang-orang kebanyakan makan ginian bikin bego, gue test 1+1 sama dengan berapa gue masih bisa jawab..Hahahaha..belom bego, jadi makan lagi ajahhhhh.....

Lagi Parno Rambut Rontok

Aihhhh..akhir-akhir ini kalo garuk-garuk rambut pasti ada aja rambut yang rontok. Malah nggak sadar sambil ngetik di depan laptop, itu di atas keyboard dah banyak helaian rambut. Wuaahhhh..udah botak gini masa makin botak? Umur kepala 3 aja masih jauh, makin bermutu aja deh gue alias bermuka tua.

Akibat keparnoan itu, akhirnya pergi ke supermarket, datang-datang langsung menuju bagian shampoo sama perawatan rambut. Langsung kalap, segala jenis pengobatan rambut rontok dibaca satu-satu. Akhirnya terbelilah tiga botol Neril paket dari shampoo, conditioner, plus hair tonic. Gue dah gak peduli berapa harganya, yang penting hajar lah. Masukin ke keranjang belanjaan.

Dengan bangga kami persembahkan:


Langsung dah malam itu juga gue mencoba ketiga produk itu. Untuk sementara bisa mengobati keparnoan gue..Oh no, jangan rontok lagi donk.....

Sunday, March 29, 2009

Lagi Anti-Sosial

Tak pernah rasanya gue seapatis ini, bisa berhari-hari berada di kamar yang panas dan hanya memelototi laptop. Kehidupan di luar sana sepertinya ngga cukup untuk mendorong gue beranjak dari tempat duduk ini. Ada saja pikiran yang bergejolak di kepala ini, tapi tak tahu rasanya ingin dihempaskan ke mana, bahkan seperti ingin diledakkan saja di kepala gue.

Tak biasanya gue jadi orang anti-sosial yang malas bergaul. Bukan hanya itu, untuk sekedar say hai, ataupun berbasa-basi membuka pembicaraan pun enggan. Inginnya mencari sebuah pelarian, tapi tak pernah ketemu cara yang tepat. Tempat ini terlalu sepi buat gue, mencoba membiasakan namun kadang menyerah juga. Rasanya tak ada ruang untuk sekedar sharing, ngobrol hal-hal asik, sambil diselingi alunan musik yang akrab dengan telinga. Hufh, bagi gue kadang hari libur tak pernah berhasil menjadi sarana refreshing untuk kembali semangat saat mulai kerja. Alhasil, masuk kerja dengan bawaan diri yang kurang menyenangkan. Gue butuh interupsi hidup yang menyejukkan dari rutinitas yang membuat penat.

Kadang gue ngerasa mulai agak aneh, suka ketawa-tawa sendiri, bergurau dengan alam bawah sadar yang kadang membuat joke untuk diri gue sendiri. Bodohnya, gue suka begitu dengan ada satu-dua orang yang ngeliat dan menyadari keanehan gue ini. Membuat mereka bertanya-tanya, “Kenapa loe?” Gue Cuma bisa jawab: “Yah begitulah, gue lagi asik sama pikiran gue sendiri.”

Berusaha untuk membunuh waktu yang membosankan ini, tapi kayaknya terjadi sebaliknya, waktu ini malah perlahan-lahan seperti mencoba membunuh gue dengan kebosanan ini. Rasa sepi ini adalah hal yang berbahaya buat gue. Bikin gue suka teringat hal-hal bodoh yang pernah gue lakuin dulu. Kadang seperti menyesali diri, mengutuk-ngutuk diri sendiri kenapa dulu gue ngga berusaha menjalani hidup ini lebih baik lagi. Ya, hidup saat ini adalah konsekuensi dari hidup yang lalu-lalu. Kata orang sih, masih ada waktu buat berubah, tapi tetap aja, masa lalu itu selalu saja membawa pengaruh negatif dalam otak ini. Rasa gak percaya diri, malu, segan, rendah diri, dan hal-hal lain yang buat gue ngerasa nggak eksis di dunia ini (lebayyyy).

Suatu hari orang bilang gue, “Far, loe itu orangnya kok low-profile abis?” Gue cuma tersentak, dan menjawab, “Lha gimana ngga low-profile, emang profile gue udah low kok.” Mungkin apa kadang gue kurang bisa mensyukuri hidup, atau terlalu dibayang-bayangi target hidup. Atau mungkin kelamaan hidup di lingkungan yang kurang bertoleransi dengan kegagalan. Hidup itu seperti tak boleh gagal, layaknya bayi yang tak boleh jatuh saat belajar berjalan. Padahal hidup itu adalah proses. Sayangnya gue seringkali bertemu saja saat-saat di mana seseorang seolah berkepentingan di saat gue gagal, tapi sebelumnya tak pernah berurusan dengan proses yang gue jalani, atau setidaknya menunjukkan jalan mana yang benar dan harus dilalui. Hmm, setidaknya waktu terus berjalan, tak tahu kapan itu berujung, mencoba aja jalani diri sendiri, setidaknya mengoptimalkan diri untuk menemukan jalan itu. Itupun kalo memang terbuka buat gue. Kalo kata orang, berusaha aja dulu, seterusnya gimana nasib. Btw, nasib itu siapa sih? Kok bisa-bisanya nentuin hidup orang?

Tuesday, March 10, 2009

Segala Macam Irasionalitas dan lainnya….

Mungkin irasionalitas kadang begitu relatif. Kasus Ponari dengan batu ajaibnya dengan mengundang sejumlah massa untuk mengantri berobat dan bahkan mengundang korban tewas karena berebutan bagi kita adala sebuah realitas yang ganjil. Tapi ini juga menjadi sebuah indikasi, bahwa banyak sejumlah kalangan, terutama masyarakat tidak mampu, mengharap sebuah pengobatan yang instan dan murah. Akses kesehatan masih belum mampu menjangkau mereka, dan tidak semua rumah sakit memperlakukan dengan baik bagi mereka yang tidak mampu. Kadang kita pun gusar, mengantri di rumah sakit umum, dengan antrian yang panjang, hiruk pikuk yang memusingkan, dan juga pelayanan seadanya. Belum tentu juga mendapat kesembuhan, bahkan terlalu lama mengantri dan campur aduk berbagai orang sakit di ruang yang sama, kadang kita semakin merasa lebih sakit dibanding sebelumnya. Uang yang keluar pun tidak sedikit.

Pengobatan alternatif ini, dengan segala macam pembenarannya, bisa jadi adalah sebuah pelarian. Pelarian dari segala frustasi dari usaha menyembuhkan penyakit. Kalangan medis seharusnya juga tergerak hatinya melihat fenomena ini. Betapa upaya medis yang ada masih belum mendapat tempat dalam ruang pikiran masyarakat untuk mendapatkan kesembuhan. Bagi sebagian masyarakat, pengobatan alternatif adalah jawaban, sedangkan sebagian lainnya tetap memandang sebuah irasionalitas. Siklus ini akan berlangsung terus-menerus.

Irasionalitas bisa jadi terjadi juga pada dunia ini, dunia maya. Mungkin sebagian orang akan memandang irasional bagi orang-orang yang asik masyuk menghabiskan waktu di depan laptop, atau senyum-senyum sendiri sambil memandangi Blackberry-nya. Sekedar chatting, fesbuking, membalas-balas email, atau seperti blogging ini. Sebagian orang akan memandang, bagaimana orang bisa larut akan sebuah dunia virtual, dan terkadang melupakan untuk menyelami dunia non-virtual yang lebih nyata. Di sini sudut pandang irasionalitas pun terjadi. Bisa rasional, bisa tidak….

Pada akhirnya, rasional atau tidak, seperti layaknya kondisi pemilahan suka atau tidak suka, kejadian sukses (p) atau tidak sukses (q). Jadi selalu ada deviasinya, seperti standar deviasi adalah akar p dikali q…kok jadi ngomongin statistik….He3….Malah ikutan mulai gak rasional nih gue....

Friday, January 23, 2009

Scene Eight: The Spirit Carries On (Dream Theater)

Entah terlalu melankolis atau nggak gue jadi suka lagu ini..liriknya apa lagi, postingnya aja sambil meler-meler, pusing-pusing, dan batuk-batuk gak jelas..berasa orang TBC..hufh….

Scene Eight: The Spirit Carries On (Dream Theater)

Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?

They say "Life is too short"
"The here and the now"
And "You`re only given one shot"
But could there be more
Have I lived before
Or could this be all that we`ve got?

If I die tomorrow
I`d be alright
Because I believe
That after we`re gone
The spirit carries on

I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before
I`m not scared anymore
I know that my soul will transcend

I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try

If I die tomorrow
I`d be alright
Because I believe
That after we`re gone
The spirit carries on


"Move on, be brave”
Don`t weep at my grave
Because I`m no longer here
But please never let
Your memories of me disappear"

Safe in the light that surrounds me
Free of the fear and the pain
My questioning mind
Has help me to find
The meaning in my life again
Victoria`s real
I finally feel
At peace with the girl in my dreams
And now that I`m here
It`s perfectly clear
I found out what all of this means

If I die tomorrow
I`d be alright
Because I believe
That after we`re gone
The spirit carries on

Okey, everything's gonna be alright Gaffari.....

Thursday, January 22, 2009

Regenerasi Politik????

Suasana menjelang Pemilu 2009 ini mungkin tidak berbeda secara cukup signifikan dengan Pemilu 2004 lalu. Wajah-wajah lama masih menghiasi konstelasi politik negeri ini. Seakan tak menumbuhkan semangat baru di dunia politik, hanya figur-figur itu-itu saja yang masih tersedia dan juga cukup “gizi” untuk maju dalam pemilihan kepemimpinan negeri ini.

Entah mengapa, justru saya lebih terasa excited membayangkan Pemilu di tahun 2014, lima tahun lagi, menelusuri bayangan wajah-wajah yang akan menghiasi pergelaran politik di masa itu. Tentu saja kita tak akan melihat lagi wajah SBY, dengan asumsi jika terpilih lagi maka terbatasi oleh aturan yang membolehkan seseorang memimpin hanya maksimal dua periode berturut-turut. Tentu saja mungkin kita tak lagi melihat sosok Megawati, yang pada periode itu saya rasa sudah bukan momen tepat lagi untuknya. Atau mungkin tak pula melihat sosok Wiranto, yang mungkin telah mengikuti hati nuraninya untuk mengalah mempersilahkan figur yang baru untuk melangkah. Atau mungkin juga tak lagi melihat ambisinya Gus Dur yang tetap meluap untuk menjadi presiden kembali.

Lima tahun lagi, mungkin saja mereka hanya menjadi sosok dibalik layar, menggantikan sosok-sosok yang ada sekarang berada dibalik layar mereka. Sosok yang selama ini hanya mampu membisikkan, mengatur langkah dan strategi bagi mereka agar tetap lekat dengan perubahan zaman. Sekali lagi, lima tahun lagi adalah sebuah misteri, dan juga mencoba apakah akan mengubah keadaan politik saat ini yang bagi saya hanya “garink-garink”saja.

Lima tahun lagi, apakah mungkin kita tak lagi hanya terhanyut akan kegembiraan terpilihnya Obama sebagai Presiden Amerika Serikat yang ke-44, sampai-sampai meluangkan waktu untuk menonton inagurasi kemenangann 20 Januari lalu yang dihadiri ratusan ribu-bahkan jutaan pendukungnya. Sebuah kemenangan politik yang fenomenal. Atau juga tidak cuma terhanyut akan pidatonya Obama yang inspiratif itu, jika tak dapat melihatnya di televisi namun mampu meluangkan waktu untuk mengunduhnya di website Youtube. Semoga saja ke depan, ada saatnya mengikuti konstelasi politik ini lebih menarik, atau bahkan segenap rakyat sampai meluangkan waktu untuk mendengarkan sebuah pidato politik menghadirkan sebuah renaissans, hingga menghadiri dan menyaksikan pelantikan presiden barunya. Larut akan pesta demokrasi yang “sebenarnya” di negeri ini.

Bagaimanapun regenerasi akan bergulir, waktu terus berjalan, dan harapan-harapan perlu diwujudkan.

Langkah SBY yang Terselamatkan

Hari-hari ke depan merupakan langkah yang terbuka lebar bagi SBY untuk terpilih kembali menjadi presiden di Pemilu 2009 ini. Bagaimana tidak, setelah di awal pemerintahannya dihadapi peningkatan harga minyak internasional yang memaksanya untuk mengambil tindakan tidak populis dalam meningkatkan harga BBM. Belum lagi, berbagai bencana alam yang besar menimpa negeri ini membuat energi awal pemerintahannya ini pun juga tersedot pada upaya penanganan bencana tersebut.

Efek peningkatan harga BBM baik di 2005 maupun di pertengahan 2008 cukup menjadi senjata ampuh bagi lawan politiknya yang menjadikan figur SBY sebagai pemimpin yang kurang pro terhadap rakyat miskin. Mau tidak mau, peningkatan harga BBM memicu peningkatan harga komoditas lainnya, terutama makanan pokok yang secara dominan menghabiskan pendapatan bagi kalangan menengah ke bawah.

Megawati yang sebelumnya giat bermanuver akan memperjuangkan terpenuhinya kebutuhan rakyat yang murah dan mencemooh kebijakan tidak populis SBY tentu saat ini sedang duduk termangu, sambil memikirkan kembali isu-isu apa saja yang masih menarik untuk dijual. Bagaimanapun, isu mengenai pemenuhan perut rakyat merupakan isu santer dan seksi untuk terus dibicarakan dan digaungkan, meski kadang hanya “hangat-hangat tahi ayam,”

Krisis keuangan global pun meski episentrumnya di Amerika Serikat, namun terasa pula dampaknya di negeri ini. Harga saham di bursa anjlok, rupiah terdepresiasi, dan laju pertumbuhan ekspor pun tertekan seiring penurunan permintaan dunia. Dibalik krisis ini, ternyata berdampak pula terhadap iklim politik di negeri ini. Sebelumnya, banyak sekali wacana bahwa saat ini adalah saatnya para pemimpin muda maju dalam kancah kepemimpinan negeri ini. Beberapa orang mulai ramai di berbagai media, sekali dua kali muncul menyambangi berbagai forum sambil asyik berdialektika bahwa kompetensi tidak bergantung pada usia.

Krisis keuangan global tersebut juga ternyata menyontak hilangnya wacana pemimpin muda yang ramai itu. Hal ini bisa terlihat bahwa figur muda, belum tentu juga independen terhadap donor yang mendanainya. Terlihat mana yang memang independen baik dari pemikiran maupun dalam pendanaan politiknya. Sejumlah perusahaan banyak yang tergerus baik aset maupun modalnya seiring dengan anjlok harga sahamnya. Perusahaan-perusahaan yang ada tentu saja berfikir dua kali menggelontorkan sejumlah “dana” hanya untuk membiayai para penggiat politik itu, lebih baik memikirkan perusahaannya di tengah keterpurukan finansial. Alhasil, kembali sepi forum-forum dan centang perenang iklan di sejumalah media massa mengenai figur pemimpin muda, hanya tinggal satu-dua saja yang masih mampu bertahan sambil mengusung hak petani dan keunggulan produk pertanian Indonesia.

Kalau begitu, silahkan SBY, bola kembali di tangan anda, silahkan lanjutkan langkah-langkah politik anda yang sudah terbuka. Saya yang hanya rakyat jelata, hanya bisa menonton dan sesekali mengomentari saja.

Sosok Kepemimpinan

Memimpin suatu organisasi atau lembaga mungkin seperti yang diibaratkan oleh John C. Maxwell, layaknya menakhodai suatu kapal dalam mengarungi lautan samudera luas. Menurutnya, siapa saja dapat memegang kendali kemudinya, namun hanya benar-benar pemimpinlah yang mampu memetakan jalan, dan mengendalikan di tengah derasnya arus ombak samudra.

Terkadang kita seringkali melihat pemimpin yang ada layaknya hanya mampu memegang kemudi kapal, namun tak mampu menjelaskan secara jelas kemana arah yang akan dituju. Perangkat apa yang mesti digunakan dan bagaimana memetakan bahaya yang mungkin dihadapi. Bisa dibayangkan, di tengah samudera luas, mengenai arah dan tujuan adalah hal penting. Para awak kapal dengan tanpa mengetahui arah dan tujuannya, hanya akan hidup terombang-ambing oleh ombak dari berbagai arah dengan rasa ketidakpastian dan perasaan yang tak menentu. Ataupun pada akhirnya hidup hanya mengalir mengikuti arah angin dan deruan serta hantaman ombak. Labuhan pengharapan pun bukan berdasarkan apa yang sudah ditentukan di awal, namun hanya berdasarkan nasib saja.

Begitupula ketika badai, seorang yang memang pemimpin, tentu saja tidak akan larut akan kepanikan dengan situasi yang dihadapi. Namun tetap berdiri tegap, sambil memberikan komando, petunjuk, dan instruksi apa yang harus dilakukan awak kapalnya. Entah menarik atau menurukan layar, menarik atau menurunkan jangkar, menambah atau mengurangi kecepatan kapal, atau menginstruksikan para awaknya agar tetap tenang dan berlindung pada tempat yang aman dari badai. Andaikan saja seorang pemimpin itu ikut panik dalam kondisi tersebut, tentu saja para awak hanya akan melakukan penyelamatan tanpa koordinasi yang jelas. Ada yang berusaha menarik layar, namun sebagian lain malah berusaha menurunkan layar. Atau mungkin ada yang berusaha menurunkan kecepatan kapal, namun sebagian lainnya malah berfikir bahwa saat itulah waktu yang tepat untuk meningkatkan kecepatan untuk menghindar dari serangan badai. Lebih buruk lagi, jika ada sebagian awak yang berusaha mati-matian menjaga keseimbangan kapal, namun sebagian lainnya malah berusaha menurunkan sekoci kapal untuk menyelamatkan diri sambil berfikir bahwa biarkanlah kapal tersebut tenggelam.

Ibarat inilah menunjukkan bagaimana sosok sebuah kepemimpinan merupakan hal penting, bukan hanya sebagai ikon, namun sebagai figur yang visioner, mampu menyusun langkah strategis untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Selain itu, mampu berfikir cepat terhadap langkah-langkah apa yang harus diambil di tengah kegentingan, mampu hadir sebagai sosok yang mampu menyatukan para anak buahnya, dan mampu menyamakan persepsi dan frekuensi pemikiran.

Akankah hari-hari ini dan hari-hari ke depan kita akan menemukan sosok kepemimpinan yang tidak hanya berupa simbol, bukan pula pemimpin dalam hanya kegiatan ritual dan selebrasi, dan bukan pula hanya melakukan hal ini-itu yang tidak esensial. Namun kita dapat menemukan pemimpin yang mampu mengharu-birukan situasi, dan kita pun akan berada di belakangnya mendukung dengan penuh senyuman terhadap jejak-jekak langkah kita untuk mencapai tujuan dan harapan yang kita impikan. Semoga.