Tuesday, May 27, 2008

Seputar Demonstrasi, Dialektika yang Kering, dan Elit Politik


Pada perayaan Hari Kebangkitan Nasional lalu tanggal 20 Mei 2008, terjadi demonstrasi besar-besaran, terutama di depan Istana Negara. Isunya tentu yang paling dikedepankan adalah menolak upaya pemerintahan SBY-JK meningkatkan harga BBM. Karena kebetulan saat itu juga libur nasional perayaan hari raya Waisak, sedikit penasaran untuk mengetahui bagaimana demonstrasi tersebut berlangsung, akhirnya memutuskan untuk menghabiskan waktu berjalan mengelilingi seputaran monas dan istana negara.

Demonstrasi mengenai penolakan kenaikan harga BBM tersebut kembali mengingatkan saya mengenai isu yang sama pada tahun 2005. Kebetulan saat itu saya di Senat Mahasiswa FEUI punya peran untuk memberikan “pencerdasan” terhadap fakultas lainnya (fakultas non-ekonomi) di UI dalam menjelaskan latar belakang kebijakan kenaikan harga BBM tersebut. Entah apa yang saya pikirkan saat itu, sepertinya sangat sulit rasanya menjelaskan suatu fenomena ekonomi dengan menggunakan rasional ekonomi, bahkan dengan rasional ekonomi sederhana sekalipun. Jadi, harapan saya, diskusi yang ada merupakan diskusi cerdas, bukan hanya sekedar luapan emosional saja. Diskusi yang ada pun seperti tidak konstruktif. Hanya diskusi-diskusi yang sifatnya deduktif, kesimpulan dibuat di awal, dan diskusi menjadi hanya sebuah dialektika yang sifatnya formalitas, toh kesimpulannya sudah dibuat duluan di depan. Bahkan ada selentingan yang terdengar hingga ke telinga saya, “Kalau nanti Senat Mahasiswa FEUI mau ngomong apa tentang alasan kenaikan harga BBM, pokoknya yang penting kita tolak saja.” Mendengar berita tersebut, rasanya sangat miris. Okelah kita bicara nasib rakyat miskin yang akan terkena dampak akibat kenaikan harga BBM. Tapi kalau kita menolak sesuatu dengan berangkat melalui argumen yang tidak kuat, ujung-ujungnya malah akan mempermalukan diri sendiri.

Okelah, cukup untuk romantisme masa lalu. Di sore 20 Mei 2008 itu sepertinya ada yang ganjil dalam benak saya. Terutama mengenai para demonstran saat itu, kalau boleh saya katakan mungkin “ditunggangi” oleh elit politik tertentu. Beberapa demonstran mengenakan baju dengan gambar tokoh seorang mantan menteri, dengan bertuliskan “RR tokoh masa depan Indonesia” (maaf saya kasih inisial saja di blog ini). Atau di beberapa diskusi di blog lain yang mendiskusikan tentang isu kenaikan harga BBM ini, tiba-tiba dihujani komentar bertubi-tubi dengan embel-embel “Hati Nurani” dan “W si presiden Indonesia masa mendatang.” Dalam hal ini saya tak masalah, setiap orang bebas menudukng siapa pun. Tapi alangkah sedihnya, suara penderitaan rakyat yang ingin disuarakan menjadi tidak tulus akibat ada tujuan terselubung demi keuntungan elit politik tertentu.

Adapun tokoh “KKG” (maaf saya kasih inisial lagi saja) yang juga mantan menteri. Tokoh ini berkoar-koar di berbagai media seputar perhitungannya yang “ajaib” bahwa pemerintah sebenarnya tidak perlu meningkatkan harga BBM. Menurutnya, pemerintah sebenarnya selalu untung melalui penjualan BBM, dan biaya eksplorasi sangatlah kecil, dan rakyat berhak mendapatkan BBM yang digali dari tanah milik rakyat itu sendiri.

Akkkhhh...memang tak ada habisnya perdebatan ini. Tapi sangat lucu mengenai tokoh-tokoh yang merupakan mantan menteri atau pejabat di pemerintahan sebelumnya di mana saat ini berkoar-koar mengkritik kebijakan pemerintahan saat ini dengan argumen ini dan itu. Pertanyaan simpel dari saya, “Dulu ketika Bapak-Bapak ini menjabat, apakah dulu berhasil?” Lalu, “Bukankah apa yang terjadi sekarang juga tidak terlepas dari kontribusi Bapak-Bapak ini di masa lalu?”

Memang lebih mudah untuk mengkritik, tapi kok sulit untuk bertindak kongkrit....

Saya rasa, sangatlah lucu bagi masyarakat dengan percaya diri tinggi mengusung seorang tokoh sebagai pemimpin masa depan bangsa namun berasal dari tokoh masa lalu yang gagal membawa bangsa ini lepas dari keterpurukan. Hahaha..seperti tak ada tokoh lain saja....

1 comment:

Bagus Arya Wirapati said...

Wuih! Ada sebuah cerita masa lapau yang sidumbangkan oleh Sang Mantan Ketua Senat FEUI untuk calon2 penerusny di masa depan!

Gw setuju denga kata2 lw! Setuju banget! Dan bahkan itu yang selalu menjadi pikiran gw selama ini dan cukup mendominasi isi blog gw akhir2 ini.

Uda jelas klo ada yang menunggangi mereka semua, walaupun tidak terlihat.

Lebih parah lagi, yang mereka usung adalah tokoh2 masa lampau yang notabenenya boleh dibilang 'gagal'. Untuk apa kita mengharapkan mereka lagi?

Pasti ada sesuatu di balik semua ini sampai mereka mau mendukungnya.

Smile Eternally,
Wirapati...