Monday, August 22, 2011

Menyuburkan Harapan Dahulu, Mewujudkannya Kemudian


Akhir-akhir ini banyak novel hasil torehan tinta anak negeri yang kalau gue bisa katakan memiliki benang merah yang sama. Yaitu betapa pentingnya menyuburkan harapan, angan-angan dan cita-cita, dan kemudian bertanggung jawab atas semua harapan, angan-angan dan cita-cita tersebut. Artinya, tentu saja dengan usaha, ikhtiar, dan kerja keras untuk mewujudkannya, bukan hanya berakhir dalam sebuah perenungan di atas tempat tidur sambil memandang atap-atap langit rumah.

Tetralogi Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, Trilogi Negeri 5 Menara-nya A. Fuadi hingga yang terakhir gue baca 9 Summers 10 Autums-nya Iwan Setyawan, semua mengguratkan semangat yang sama, latar belakang yang sama, dan keberhasilan mengubah nasib menjadi lebih baik. Novel-novel tersebut menggambarkan bagaimana kondisi keterbelakangan ekonomi, hidup di tengah-tengah kaum udik, dan segala lika-liku kehidupan tak mampu membungkam seseorang mewujudkan harapannya. Meski bagi mereka awalnya adalah sebuah hal yang mustahil, namun dengan kondisi lingkungan yang terus mampu memelihara harapan tersebut terus melekat dalam diri mereka, apapun akan menjadi mungkin.

Pendidikan, dalam hal ini boleh dikatakan sebagai muara dari seseorang mampu mengeskalasi status sosial, menggapai mobilitas sosial secara vertikal. Selain itu adalah semangat juang yang tak pernah putus, keyakinan bahwa kesuksesan tidak bisa dibangun dalam satu malam. Ia butuh peluh keringat, air mata bahkan mungkin tetesan darah. Usaha dan semangat yang konsisten dan persisten.

Gue rasa Indonesia memang perlu bacaan-bacaan seperti novel-novel tersebut. Menjadi inspirasi bagi orang-orang yang nyaris putus asa untuk mampu mengecap pendidikan tinggi. Bahwa masih ada kesempatan untuk mengubah nasib, menaiki status sosial lebih tinggi. Dan novel-novel tersebut juga sekaligus sedikit "menyindir" bagi orang-orang yang secara ekonomi berlebihan namun hanya sibuk bermimpi dan tanpa usaha.

Ada sebuah Quote menarik dari Michelangelo:
"The greatest danger for most of us is not that our aim is too high and we miss it, but that it is too low and we reach it."

Konsumsi, Gairah Yang Tidak Ada Habisnya

Foto-foto di atas gue ambil pas lagi ikutan ngantri beli iPad 2 di Plaza Indonesia sekitar awal Juli 2011. Fenomena ini menjadi hal yang lumrah mengisi wajah kehidupan kaum urban, khususnya di kota-kota besar.

Indonesia seringkali saat ini dikatakan sedang kelimpahan bonus demografi. Ya, gemuknya jumlah penduduk di usia produktif, memiliki penghasilan lebih dari cukup, dan lebarnya piramida penduduk kelas menengah.

Kaum kelas menengah ini menjadi sasaran yang menggiurkan bagi penetrasi consumer goods hingga produk-produk elektronik. Konsumsi bagaikan keyakinan dalam sebuah agama baru yang tak memerlukan pemimpin umat. Semangat itu lahir dari gairah pemenuhan hasrat konsumsi yang mengalir dalam darah manusia dan seakan tak pernah terpuaskan.

Semangat itu pula yang mendorong seseorang rela tetap membelalakkan mata demi sebuah Mid-Nite Sale. Seakan-akan alam semesta memberikan energi untuk memilih dengan jeli segala produk diskon. Antri berjam-jam bukan persoalan berat, kalaupun perlu mereka bisa memburu barang-barang label diskon sambil merangkak dari mall satu ke mall lainnya.

Begitulah sebagian wajah Indonesia saat ini, konsumsi, kegiatan ekonomi yang membuat negeri ini masih mampu tumbuh tinggi di tengah sengkarutnya ranah ekonomi global. Pertanyaan selanjutnya, kapan investasinya? Kok konsumsi terus?
Published with Blogger-droid v1.7.4

Friday, July 15, 2011

Perayaan yang Minimalis

Ini foto pas HUT BI yg ke-58. Kebetulan karena gw ditempatkan di BI Padang, gw nggak pernah tau perayaan di kantor pusat seperti apa. Yg pasti di BI Padang sangat sederhana banget. Diawali dengan senam pagi. Herannya instrukturnya bapak-bapak dari Brimob. Hampir 1 jam senam, gerakannya ngga berubah2. Goyang poco2 terus. Intinya mmg gw ga doyan senam juga sih :)

Setelah itu dilanjutkan makan2 sambil beberapa ditembak langsung untuk sumbang suara diiringi solo organ. Setelah itu selsai deh. Mungkin gw aja kali ya yg beyond expectation. Komentar gw cuma 1: "Udah gitu aja? Terus?" hehehehe.....
Published with Blogger-droid v1.7.2

Friday, July 8, 2011

Nyoba ngeblog pake android

Ini nyoba ngeblog pake blogger-droid. Ngetiknya lumayan ribet ya. Tapi oke juga buat mengabadikan hal2 menarik melalui blog bs kapan aja. Ga mesti ribet2 buka laptop. Yukkkk mariiii....
Published with Blogger-droid v1.7.2

Tuesday, June 21, 2011

Jomblo-Jomblo Tersisa

Ada aja yang sewot sama istilah gw di sebuah group BBM, terutama buat orang2 yang list BBM-nya penuh dengan foto-foto bayi or anak-anak. Ini bukan berarti kita pasukan pedhopil yang gemar menginvite anak-anak kecil yang ber-BB (ada ya?) untuk masuk friend list kita (kita? yah gw pake kata ganti "kita" aja biar lebih enak. Jadi nggak ngerasa sendirian..hehehehe..), tapi memang temen2 seusia gw rata-rata udah berkeluarga. Gw cuma sebut "Jomblo-Jomblo Tersisa" layaknya jomblo-jomblo yang terjebak di hutan belantara, yang masih berkutat oleh tiga hal. Ketiga hal itu semua terkait dengan kata "pilih" maksudnya: belum memilih, belum terpilih, dan belum menjadi pilihan..Hahahahaha...

Ibarat bentuk aliran barang dalam tata bahasa akuntansi, mungkin metode yang dipake bukan FIFO (First In, First Out) atau LIFO (Last In, First Out), malah bisa jadi perlu ada istilah baru, which is LILO (Last In, Last Out)..udah masuk gudangnya duluan, eh nggak dikeluar2in juga dari gudang..Hahahahaha...(kok gw kayak puas banget nih ketawa2 sendiri..LoL).

Sunday, June 12, 2011

Conference Alerts

I just found this site that contains various conferences worldwide, specifically for the topics related to economics. I put it to my blog for reminding me to be more productive. Just so you know that there are so many opportunities to submit your paper, and also to travel around the world (for free).

Tuesday, June 7, 2011

Tujuan dan Pencapaian

Orang punya beragam cara untuk menentukan tujuan hidupnya. Ada yang mengucapkan resolusi tahunan, melihat pencapaian diri pada setiap tahunnya. Ada yang menuliskannya dalam proposal hidup, membuat suatu list mengenai apa yang dicapai sepanjang hidupnya. Tapi ada yang sedikit menyentak pikirian gue, pertanyaan seorang teman saat itu, "Apa pencapaian hidup yang udah elu wujudkan Gaf?"

Well, saat itu gue cuma terdiam, hmmm...menjadi hanya terdiam saja bisa jadi karena gue dan dia sebetulnya sedang tidak dalam frekuensi dan persepsi yang sama. Mungkin saja apa yang sudah gue miliki dan raih saat ini adalah sebuah pencapaian, tapi dari sisi pikiran gue itu bukan pencapaian, tapi hanya sejengkal, selangkah atau sepelemparan tombak dari proses menuju sebuah pencapaian.

Simple-nya, layaknya sedang mengikuti kompetisi lari marathon. Ketika seorang pelari melewati garis putih menurut para penonton yang tidak tahu aturan kompetisi mengira itu adalah sebuah garis finish, which means saatnya pelari bisa berhenti. Namun sebetulnya garis putih tersebut hanyalah sebuah penanda bahwa estafet pertama sudah berhasil terlewati, dan ternyata masih ada 2, 3, 4, hingga beberapa estafet ke depan yang masih belum terlewati.

Jadi, tujuan, pencapaian dan titik akhir adalah persoalan persepsi. Beda persepsi, ya tentunya beda juga bagaimana cara memandang sebuah pencapaian.

Saturday, January 9, 2010

Apa Kita Kembali Seperti Zaman Orde Baru?

Setelah era reformasi bergulir pada tahun 1998, Indonesia merasakan demokrasi sebenarnya, ketika setiap orang bebas mengeluarkan pendapatnya, berorganisasi dengan berbagai keunikannya, dan bergulirnya pemilihan umum dengan melibatkan beragam partai serta partisipasi masyarakat yang lebih luas. Pendulum kebebasan itu mulai bergeser ke kanan, dari sebelumnya yang terbujur kaku di sebelah kiri, terbungkam oleh tangan penguasa. Namun apakah kebebasan tersebut akan terus menerus bergulir pada pendulum di sebelah kanan, atau penguasa saat ini mulai kembali ingin menggesernya ke kiri?

Berbagai macam bentuk dan cara penguasa bertindak laku atas nama "stabilitas" sepertinya mulai kembali menyerbakkan bebauan kayu Cendana, masa stabilitas gaya Orde Baru. Siapapun saat itu bisa dicap subversif ataupun tertuduh berbuat tindakan makar jika tidak sejalan dengan arah penguasa. Tak bedanya dengan orde lama, tak sejalan dengan penguasa adalah kontra-revolusioner, meskipun kadang tak semua mengerti apa maksud dari revolusioner itu sendiri. Rovolusi dan stabilitas menjadi hal absurd, seperti sebuah ayat suci yang mesti dipegang teguh.

Berita mengenai pelarangan beredarnya beberapa buku kembali muncul. Entah mengapa hal tersebut kembali mengulangi masa-masa sebelumnya. Padahal buku hadir untuk membuka wawasan manusia agar memiliki pandangan terhadap kehidupan yang lebih luas. Jika buku dianggap menghadirkan jalan cerita yang dianggap salah, maka biarlah, dan biarkan seiring dengan jalannya waktu ada penulis lain yang mengungkapkan sisi lain dari sebuah hal sama dengan alternatif buku lain. Seorang intelektual, mestinya juga membuka ruang untuk melihat sudut pandang yang lain, dan soal mau percaya atau mengikuti yang mana itu kembali pada pilihannya.

Para founding fathers kita terdahulu seperti Soekarno-Hatta, adalah pribadi-pribadi yang rajin membaca buku. Pemikiran-pemikiran mereka terhadap kebangsaan, sosial, politik, maupun ekonomi tak lepas dari buku-buku yang mereka baca. Terkadang ketika membaca mengenai pemikiran-pemikiran mereka, apabila ditinjau lebih dalam sebenarnya tak sepenuhnya orisinil. Banyak juga dapat kita temukan apa yang diutarakan pada berbagai buku-buku barat yang beredar. Intinya, mereka mampu meramu dari beragam pemikiran yang ada di dunia dalam konteks ke-Indonesia-an.

Pelarangan buku hanya akan menyebabkan masyarakat mempunyai perspektif sempit akan sebuah hal. Tak ada alternatif pandangan lain yang mampu memperbesar kacamata pemikirannya. Saya jadi teringat, ketika reformasi bergulir, para penjual buku mulai kembali berani menjual buku-buku kiri, Marxisme, buku novel Pramudya, dll, serta berbagai hal yang selama orde baru dilarang. Gayung pun bersambut, masyarakat antusias menyambut kehadiran buku-buku tersebut. Mungkin penasaran ingin mengetahui isi buku tersebut mengapa hingga dilarang oleh Orde Baru. Lalu, apakah sebodoh itu ketika seseorang membaca buku Karl Marx, kemudian dia menjadi fanatik Marxisme? Membaca buku tentang Komunisme, kemudian menjadi komunis? Saya rasa tidak. Itu tergantung dengan individu masing-masing. Justru orang yang menjadikan satu buku menjadi acuan kebenaran mutlak adalah hal yang salah, terkecuali pada kitab suci. Buku sebenarnya hanya menyediakan ruang terbatas bagi penulisnya untuk merangkaikan pemikirannya, ruang pemikiran lain bisa ditemukan pada buku lain, dan seterusnya. Bahkan kitab sucipun memerlukan kitab-kitab lain yang mampu menjelaskan bagaimana membumikan kalam Tuhan dalam realitas kehidupan.

Sekali lagi, bagi saya pelarangan peredaran buku adalah SALAH.

Mungkin ada kutipan dari Bung Hatta yang seharusnya menginspirasi penguasa untuk tidak membredel buku:
"Dengan buku, kau boleh memenjarakanku di mana saja.
Karena dengan buku, aku bebas!"

Tuesday, January 5, 2010

Peneliti VS Politisi

Kayaknya ga ada abis-abisnya berita mengenai keadaan politik negeri ini, mulai dari cicak versus buaya, masalah Bank Century, dibanned-nya buku Gurita Cikeas, ini-itu, yang berkat digdayanya media di Indonesia untuk menyuarakan hal tersebut terus-menerus, sampai-sampai terngiang-ngiang terus semua keadaan negeri ini yang kayaknya penuh masalah yang nggak selesai-selesai.

Omong-omong soal politisi, siaran Live sidang-sidang di DPR secara nggak langsung makin ketauan deh kualitas para politisi di Senayan itu. Ngomong ini-itu yang kadang nggak nyambung, atau berapi-api dengan semangat 45 tapi tanpa esensi. Dulu mungkin orang-orang tau dari berita atau kabar dari mulut ke mulut betapa kadang nggak mutunya para wakil rakyat di Senayan. Ngomong kok suka ngawur????

Beberapa obrolan dengan kawan, pekerjaan sebagai peneliti ternyata berbanding terbalik dengan politisi, mengapa?

Peneliti:
Kalo peneliti, tidak masalah jika hasil penelitiannya, kajiannya, atau analisisnya untuk mengungkapkan atau memprediksi suatu keadaan ternyata salah. Selama mengikuti kaidah akademis dan runtut metode penelitian dengan baik, di ilmu sosial seperti ilmu ekonomi membenarkan kita untuk memiliki kesalahan, bahkan hingga 10 persen, yang berarti kita menggunakan tingkat kepercayaan sebesar 90 persen. Asalkan, kita tidak berbohong!

Politisi:
Kalo politisi, mana mungkin mau terlihat salah, bahkan dalam berbagai situasi harus mampu menampilkan diri sebagai pihak yang benar. Tetapi tentu saja, boleh berbohong! Mungkin secara statistik tingkat kesalahan dari statement yang dilontarkan bisa mencapai 90 persen, dan tingkat kepercayaannya bisa jadi hanya 10 persen.

Kasian yah Indonesia, setiap Pemilu terbuai dengan janji-janji, lalu kecewa, eh ketemu Pemilu lagi malah terbuai lagi....yah selanjutnya nggak lain dan nggak bukan kalo lagi-lagi KECEWA....

Jadi mau percaya siapa?

Resolusi 2010..Hmmm..Apa ya?

Nggak terasa sekarang udah tahun 2010..thanks buat semua yang terjadi di 2009, baik yang manis maupun pahit, segala hal yang tak terduga, segala konspirasi kehidupan ini, segala hal yang seharusnya membuat gue lebih sabar, kuat dan menghadapi segalanya lebih optimis lagi.

Well, kalo tahun baru gini biasanya orang membuat resolusi sebagai target hidup yang akan dipenuhi, sekaligus merefleksikan kembali resolusi tahun sebelumnya apakah tercapai atau nggak.

Kalo gue kayaknya cenderung orang yang nggak pernah membuat resolusi, mungkin tipe yang membiarkan hidup ini mengalir begitu saja..Hmm, ngga bagus sih kayaknya, jadi hidup pasti tidak terencana dengan baik. Atau mungkin gue orangnya membuat target tanpa harus membuat resolusi, toh secara nggak sadar sudah terpatri secara otomatis mengenai bagaimana target hidup gue selanjutnya.

Daripada gue pusing-pusing mikirin soal resolusi tahun 2010, mending gue cuplik-cuplik aja dari lirik lagu yang kira-kira mewakili soal itu semua. Yang simple-simple aja....

Next Year Baby
by Jamie Cullum

Next Year,
Things are gonna change,
..........
And start all over again
Gonna pull up my socks
Gonna clean my shower
Not gonna live by the clock
But get up at a decent hour
Gonna read more books
Gonna keep up with the news
Gonna learn how to cook
And spend less money on shoes

Pay my bills on time
File my mail away, everyday
..........
..........

Resolutions
Well Baby they come and go
Will I do any of these things?
The answers probably no
But if there's one thing, I must do,
Despite my greatest fears
I'm gonna say to you
How I've felt all of these years

..........
..........

Well, mungkin itu aja..setidaknya ini jadi postingan blog gue pertama di tahun 2010.
Semoga bisa lebih produktif menulis lagi.

Selamat menjalani tahun 2010 ini guys....

Sunday, October 18, 2009

Apalah Artinya Agama, Bila Kehilangan Sisi Humanisme

Mungkin ini kejadian yang tak pernah terungkap, dan boleh gue sharing karena cukup mengganggu pikiran gue.

Ini kejadian saat-saat setelah Sumatera Barat diguncang gempa 7,6 skala richter, yang membuat Kota Padang dan Pariaman hancur. Apakah kejadian ini membuat mereka tersadar? Hmmm..kalo gue katakan ngga juga....

Kejadian gempa di Sumbar merupakan kejadian yang cukup hebat menimpa pulau Sumatera setelah bencana Tsunami Aceh beberapa tahun yang lalu. Kalo ditelisik, kedua daerah itu sama-sama men-state bahwa daerahnya mengusung religiusitas yang tinggi, yang satu sebagai Serambi Mekkah, yang satu lagi mengadaptasi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Bencana yang menimpa keduanya bisa jadi jalan Tuhan menguji keimanan penuduk di daerah tersebut, yang dengan sadar mengadaptasi nilai Ketuhanan (baca: Islam) dalam menjalankan kehidupannya.

Namun ada banyak kejadian yang mengganggu benak gue, dan ngga tau apa ini bisa ditangkap rasionalitas gue yang pemahaman agamanya mungkin ngga bagus-bagus amat. Namun sebagai manusia normal gue punya sisi humanis yang secara universal dianut semua umat manusia di dunia. Dan melihat beberapa kejadian, cukup bikin kernyit di dahi gue bertambah rasanya.

Kejadian 1:
Kejadian ini terjadi dalam perbincangan salah satu ketua Satkorlak dan lembaga keagamaan (sebut saja HT) dengan perawakan berjanggut, bercelana ngatung, dan berjidat hitam. Perbincangan terjadi di Gubernuran, yang menjadi media center bencana gempa di Sumbar, posisi gue di situ lagi mencatat sejumlah informasi untuk mensupply para jurnalis CNN yang kebetulan gue menjadi pemandunya.

Orang HT (HT) : Pak, kami datang kemari membawa sejumlah bantuan untuk para korban gempa, kami sekarang butuh tempat tinggal, dan moda transportasi untuk kebutuhan kami.
Kepala Satkorlak (KS) : Oh baik, tapi kami saat ini sedang mengalami keterbatasan, dan kami tidak dapat menyediakan penginapan ataupun kendaraan untuk saat ini.
HT : Bagaimana tidak bisa Pak? Kami di sini datang dengan maksud baik masak kami tidak difasilitasi?
KS : Bapak-Bapak, mohon maaf karena saat ini juga kami mengalami kesulitan, berbagai fasilitas juga ikut hancur, kami tidak bisa memenuhi keinginan Bapak-Bapak.
HT : Lho, bagaimana bisa? Bapak kan pejabat negara, ditugasi negara, bagaimana Bapak tidak bisa menyediakan fasilitas untuk kami tempat tinggal dan kendaraan?
KS : Bapak-Bapak, kalau memang ada, tentu akan kami sediakan, sekarang memang kondisinya tidak ada, dan kami pun sekarang juga mengalami kesulitan.
HT : (Dengan nada marah) Bapak itu digaji oleh negara! Sudah semestinya Bapak membantu kami!
KS : (Dengan masih berusaha sabar) Bapak-Bapak, kalau melihat tim lain, baik dari Swiss, Amerika, Australia, negara-negara lain, bahkan lembaga lain, mereka berusaha memenuhi kebutuhan tempat tinggal dan kendaraannya secara mandiri. Mereka mau membantu kami tanpa juga harus memberatkan kami di sini.
HT : Saya tidak mengerti dengan Bapak. Saat kami membantu bencana gempa di Jogja, kami difasilitasi penuh oleh pemerintah daerahnya. Kalo ini apa?
KS : Bapak-Bapak, apakah pernah mengalami gempa? Bencana seperti ini?
HT : Iya, kami pernah! Waktu tsunami di Aceh! (dengan nada kesal)
KS : Lha, kalau sudah mengalaminya, kenapa sikap Bapak-Bapak seperti ini?
HT : (Terdiam, dan tak berlangsung lagi bantahannya)

Jujur, pada kondisi itu semua juga sedang mengalami kesulitan, tidak hanya korban, namun juga para volunteer, wartawan, dan sejumlah orang yang datang membantu sama-sama bersusah payah untuk mencari tempat tinggal, supply makanan, listrik, dan kendaraan yang memadai. Gue terus terang mendengar pembicaraan antara HT dan KS itu agak sedikit panas, mungkin kuping gue memerah saat itu. Apalagi mereka menggunakan atribut, rompi, dan pakaian yang mengusung nama agama (Islam Bergerak dan Bersatu). Gue juga Islam, tapi apakah mesti tidak melihat kondisi dan situasi yang ada? Mencoba empati dengan siapapun di daerah bencana itu, meskipun dia pejabat negara atau siapapun....


Kejadian 2:
Kisah dari seorang teman yang tinggal di kontrakan di Kota Padang. Saat kejadian kebetulan berbagai ruko dan fasilitas umum di depan kontrakannya hancur, sebagian jalan terutup, dan mengharuskan para pengendara untuk mengalihkan jalannya ke jalan lain untuk mencapai tujuan. Teman gue iti dengan menggunakan motornya mencoba ke kontrakannya untuk menemui istrinya yang kebetulan tinggal sendirian di kontrakan saat kejadian gempa.

Namun saat menuju gang ke kontrakannya, tiba-tiba jalan tersebut diportal, sehingga dia tak bisa masuk ke jalan menuju kontrakannya. Dia pun terheran-heran, karena tak seperti biasanya jalan itu ditutup, dan dia pun bertanya pada warga yang dia kenal saat itu:

Teman : Ibu, kok jalannya diportal? Biasanya nggak?
Seorang Ibu : Iya soalnya banyak orang jadi lewat sini, takut nanti jalannya rusak.

Suerrrr, ini hal yang gila menurut gue, di saat-saat orang sedang sulit, semua panik, semua mencoba menempuh jalan barangkali menemui keluarganya, sodara-sodaranya, dan melihat rumahnya yang mungkin saja ikut terkena gempa, ini masih saja ada orang-orang yang dengan egois mementingkan dirinya sendiri. Satu kata: EDAN!


Kejadian 3:
Ini juga kisah beberapa teman, dan agak miris mendengarnya.
Ada dua teman gue, satu tinggal di kosan berlantai 4, dan satu lagi tinggal dikontrakan yang sudah dia bayar DP-nya sebesar Rp2 juta. Akibat gempa, kosan teman gue lantai satunya hancur, dan membuat kosannya yang berlantai 4 agak sedikit miring, sedangkan kontrakan teman gue itu bangunan bagian belakang hancur, dan lantainya terbelah, tak mungkin rasanya memaksa tetap tinggal di bangunan yang sudah rapuh itu.

Akhirnya keduanya terpaksa mengungsi di kosan teman gue di belakang kantor yang kondisinya baik-baik saja.
Namun setelah beberapa hari Ibu pemilik kosan itu datang, mungkin perbincangannya seperti ini:
Ibu Kosan : Kayaknya dua orang ini udah terlalu lama menumpang di kosan ini!
Teman : Maaf Ibu, kosan dan kontrakan kami rusak dan tak mungkin ditinggali, kami tak tahu mau tinggal di mana.

Namun sepertinya Ibu Kosan itu tidak mau tahu kondisinya seperti apa, dan akhirnya dua teman gue itu terpaksa angkat kaki dari kosan itu. Hmmm...luar biasa. Apa takut rugi? Apa mesti nambah bayar listrik? Apa mesti nambah bayar air?


Kejadian 4:
Pas kejadian gempa, cari makan sulit, air sulit, listrik padam, Hape beberapa provider tak bisa diandalkan, tapi kok ada yang tega jual nasi goreng sepiring 20 rebu, aqua gelas 2500, bensin oplosan 15 rebu/liter. Okey, kalo dalam ekonomi mengatakan, ketika permintaan tinggi, tapi barang langka, maka harga akan terkerek naik, ini namanya demand-pull inflation. Tapi, mestikah ini terjadi di mana kondisi sedang sulit? Teganya..teganya....

Singkat kata, buat apa dengan bangga mengatasnamakan religiusitas di suatu daerah, membangga-banggakan prinsip agama dalam kehidupan, namun toh tak berbanding lurus dengan rasa kemanusiaan.


Nada Minor Lagu Cinta

Dari berbagai kejadian, entah yang gue liat atau gue alamin rasanya kadang hidup ngga sesuai dengan apa yang mudah terucap..seperti lagu-lagu yang sering berdendang. Lagu cinta yang menawarkan romantisme dua sejoli atau kecintaan seseorang dengan orang terkasihnya. Tapi kalo kita lihat di infotainment, artis-artis baik pencipta lagu, atau penyanyi yang begitu syahdu menyanyikan lagu cinta, namun perjalanan cinta atau keluarga yang dibangunnya tak semulus seperti apa yang keluar dari suaranya yang merdu atau hasil lagu ciptaannya.

Tipe orang Indonesia mungkin, terlihat dari pasar musik, band-band yang membawakan lagu cinta dan romatisme mendayu-dayu justru laku keras. Seolah-olah tak memberi ruang bagi genre musik lain yang membawakan lagu mungkin lebih sarat makna tanpa melulu mengusung tema cinta.

Begitupula kalo gue lihat kecenderungan saat ini, kutipan-kutipan lagu cinta mulai meracuni status facebook, twitter, plurk, dan berbagai situs jaringan sosial lainnya. Dengan pongah seolah-olah orang tersebut mem-publish bahwa dirinya sedang dimabuk asmara, paling mengerti apa artinya cinta dan kasih sayang. Well, kalo gue telisik satu-dua orang, toh justru yang seperti itu biasanya berkebalikan dengan kehidupan nyatanya.

Lagu cinta bagi gue sama saja dengan ayat-ayat Tuhan, menawarkan kondisi ideal, namun tak mudah dilakukan atau seindah pada realitanya. Sama halnya dengan orang-orang dengan jumawa membawa ayat-ayat Tuhan yang seharusnya membawa rahmat semesta alam, namun dikutipnya untuk melakukan tindakan kekerasan (atas nama agama tentunya). Sama halnya juga dengan lagu cinta, yang dapat dikutip atau dilantunkan, namun justru untuk meluluhkan hati sang selingkuhan, dan melupakan terkasih yang sebenarnya.

Hmmm..ada lirik lagu dari band indie Efek Rumah Kaca mengenai fenomena ini, dan gue setuju 100 persen akan isinya.

Cinta Melulu

Nada-nada yang minor
Lagu perselingkuhan
Atas nama pasar semuanya begitu klise

Elegi patah hati
Ode pengusir rindu
Atas nama pasar semuanya begitu banal

Reff:
Oh oh…
Lagu cinta melulu
Kita memang benar-benar melayu
Suka mendayu-dayu

Apa memang karena kuping melayu
Suka yang sendu-sendu
Lagu cinta melulu


Kalo pengen tahu gimana lagunya, gue embed live perfomence-nya dari youtube:



Lagu cinta, hmmmm...No thanks....

Wednesday, August 5, 2009

Soal Kereta Api Yang Gak Jelas

Mungkin postingan ini diilhami oleh kejadian tabrakan antar kereta baru-baru ini (lihat di sini). Namun gue bukan mau komentar tentang gimana kecelakaan itu terjadi, cuma gue pernah menjadi korban betapa ketidakprofesionalannya PT KAI. Berikut ceritanya:

Suatu hari dari rumah gue di Bogor pagi-pagi sekitar jam 9an mau berangkat menuju kampus UI di Depok. Hari itu di rumah udah ga ada orang, duit gue di kantong tinggal 3 ribu perak. Bingung banget gimana cara berangkat ke kampus tapi ga ada ongkos. Teringat sama nyokap yang suka naruh duit receh di guci kecil dekat kamar mandi. Korek-korek dikit, akhirnya terkumpul duit cepe-an total 500 perak. Okeh, gue udah punya 3500 perak sekarang, 1500 cukup buat naek angkot ke stasiun, dan 2 ribu-nya buat beli tiket kereta ekonomi. Berencana gue mau ngambil duit di kampus, soalnya di fakultas teknik ada ATM BNI yang pecahan 20ribu, kalo ngga salah saldo duit gue tinggal 40ribu-an gitu. ATM BNI itu adalah ATM surga buat gue, karena gue bisa ambil duit gue sampe polllll...sisa saldo 20 ribu aja bisa gue tarik di ATM itu.

Okeh, sampailah gue di stasiun, beli tiket, dan masuk ke kereta ekonomi berdiri sambil clingak-clinguk nunggu kereta berangkat. Sekitar 15 menit kemudian kereta berangkat, semua berjalan seperti biasanya, kereta ekonomi yang bau, kotor, dan banyak orang jualan serta pengemis2 lalu-lalang itu melaju secara perlahan. Bagi gue, kereta ekonomi adalah pemandangan negeri gue yang sebenarnya, jauh dari centang-perenang kehidupan kota yang gemerlap. Sejumlah penyakit sosial tumplek di situ. Orang miskin, cacat, pengemis, pengamen, pencopet, sampe orang yang punya kelainan seks suka mencari kesempatan dalam kesempitan memuaskan seksual fisiknya dengan menempelkan bagian tubuhnya ke lawan jenis ada semua di situ. Naek kereta ekonomi sama aja kita masuk sejenak ke dalam fenomena masyarakat yang termarjinalisasi secara sosial dan ekonomi. (aih serius amat gue nulisnya)

Beberapa menit kemudian, tak disangka pas kereta melaju diantara bojong-citayam tiba2 berhenti. Gue pikir memang seperti biasa kereta ekonomi suka berhenti2 sesukanya, kadang tanpa pemberitahuan pula kenapa itu kereta berhenti, entah apa ada yg kebelet pipis kah, atau ada kerusakan teknis kah, kereta ekonomi bisa berhenti sesuka hatinya berasa penumpang mesti maklum2 aja dengan persoalan itu. Istilah: "Konsumen adalah Raja," hahaha ke laut aja lo, di fasilitas publik kayak begini kagak berlaku.

Tapi berhentinya kereta kali ini seperti lain dari biasanya. Tiba2 orang2 pada keluar, ga seperti biasanya org2 yang tetep di dalam kereta menunggu meskipun kereta berhenti cukuplama. Tiba2 ada yang bilang kalo kereta berentinya bakal lama, bisa 2-3 jam karena ada pemadaman listrik bergilir se-Jawa-Bali. Damn! semua orang pada keluar mutusin lanjut perjalanan dengan naek angkot. Dan gue baru inget kalo gue ga punya duit sama sekali, OMG mana di tengah sawah pula....bagaimana nasib gue ini....

Dalam hati gue, anjrit kalo tau ada pemadaman listrik bergilir kenapa sih ga dikasih tau sebelumnya gitu loh, dan juga kenapa tuh kereta tetep ngotot berangkat. Sial bener dah gue, mana hari itu jam 11 ada acara perkenalan organisasi2 di kampus buat Mahasiswa Baru (Maba). Dan gue mesti ngasih sambutan di acara itu.

Hampir 1 jam nunggu, gue mulai mati gaya. Akhirnya gue coba keliling2 gerbong dari depan sampe belakang, siapa tau ketemu temen senasib yang bisa diajak ngobrol. Sialnya ternyata ga ada satupun yang gue temuin. Bingung gue bener2 tambah mati gaya. Akhirnya gue nongkrong bareng tukang rokok, tukang koran, dan beberapa pengemis di salah satu gerbong. Duduk-duduk sambil dengerin orang2 itu ngobrol ga jelas, trus tidur2an di kursi kereta ekonomi yang keras itu.

Tiba2 hape gue geter, sebenernya gue paling males keluarin hape di kereta, maklumlah gudangnya copet di situ. Gue pindah ke gerbong sebelah yang agak sepi untuk keluarin hape. Pas gue liat yang telvon Barjo, Kadiv Hublu Senat FEUI, gue angkat dan langsung terdengar suara:

Barjo (B) : "Woy bozz, mana lu? Nanti jangan lupa acara jam 11 ya!"
Gue (G) : "Man gue masih di kereta nih, kejebak gue keretanya mogok"
B : "Memang posisi lo di mana?"
G : "Keretanya lagi ada di tengah sawah nih, pokoknya ga jelas gitu"
B : "Yaudah lo turun naek angkot aja!"
G : "Man, kalo gue ada duit sih gue dah naek angkot dari tadi, masalahnya gue ga ada duit sama sekali, 100 perak pun gue ga ada"
B : "Yaudah lo naek taksi aja nanti kalo dah nyampe kampus kita yang talangin dulu"
G : "Woy lo jangan over ekspektasi deh, di sini angkot lewat aja dah syukur, jangan ngarep bisa ada taksi lewat sini"
B : "Wuahahahaha...Yowes lah kita tunggu aja di sini, lo pikirin aja gimana caranya sampe sini"
G : "Okey2, lo tungguin gw aja, siapa tau keretanya bentar lagi jalan, nanti kalo ternyata gue blom datang2 juga, lo wakilin aje ye"
B : "Sipp bozz"

Okey, kembali lagi idup gue nelangsa di dalam gerbong kereta yang ga jelas kapan jalannya. Dah hampir 2 jam gue nunggu sampe abis 1 buku gue selesai baca (kebetulan bukunya tipis sih :)), dan akhirnya kereta jalan juga. Oh God Thanks! Selama kereta melaju, gue ga berhenti2nya sesekali melihat jam, panik takut ga sempat nyampe kampus jam 11. Bener aja, kereta akhirnya nyampe stasiun UI jam setengah 12. Begitu kereta berhenti, gue langsung buru2 turun. Udah ga kepikir naek ojek (karena ga ada duit), atau nunggu bis kuning yang jam segitu supirnya suka datang semaunya, biasanya masih pada asik ngopi2 sama maen gaple di pool depan asrama. Yaudah gue jalan cepet (kayaknya lebih keliatan lari sih) menembus jalan depan FISIP UI sampe menyusuri jalan ke FEUI. Dengan masih ngos2an dan keringetan akhirnya gue sampe juga di kampus, dan langsung menuju Auditorium. Dan bagus banget, pas gue nyampe pas acaranya udah selesai. Wuidihhhh gondok bener. Gara2 kereta sialan dan kebodohan gue yang ga bawa duit sama sekali. Akhirnya sia2 juga perjuangan menuju kampus, acara selesai tanpa gue kagak sempet nongol di acara itu (Ketua macam apa lo far????).

Mungkin itu kejadian sekitar 4 tahun lalu, tapi sekarang gue liat profesionalisme PT KAI belum juga banyak berubah secara signifikan. Pertanyaannya, jadi mau sampe kapan kondisi transportasi di Indonesia kayak begini terus? Helloooo, jangan ngarep deh bangun monorail atau MRT segala. Ngatur kereta api yang masih konvensional sejagad raya ini aja masih belom bener. Malulah kalo begini terus.

Moral story: JANGAN PERNAH PERGI TAPI NGGA BAWA DUIT SEPESER PUN!

Monday, March 30, 2009

Lagi Mabok MSG

Kalo lagi di kosan kadang butuh cemilan bikin bibir gue gak manyun terus. Pasokan makanan gue kebetulan dah abis. Damn, cuma tersisa mie instan, sedangkan gue butuhnya cemilan. Masa gue makan mentah tuh mie. Oh tidak, masa dari dulu sampe sekarang masih aja suka makan mie mentah. Okey, akhirnya cabut ke supermarket, dan di bagian makanan kecil ketemu dengan produk-produk Richeese dan Nabati, dkk. Jenisnya macem-macem pula, jadi tergoda untuk nyobain semua. Akhirnya BOROOOONG!

Selamat tinggal era kejayaan MOMOGI...













Karena penasaran, akhirnya gue makan semua..huaaaa langsung PUYEEEENG..gara-gara kebanyakan makan MSG alias kena sindrom rumah makan cina (chinese restaurant syndrome). Kata orang-orang kebanyakan makan ginian bikin bego, gue test 1+1 sama dengan berapa gue masih bisa jawab..Hahahaha..belom bego, jadi makan lagi ajahhhhh.....

Lagi Parno Rambut Rontok

Aihhhh..akhir-akhir ini kalo garuk-garuk rambut pasti ada aja rambut yang rontok. Malah nggak sadar sambil ngetik di depan laptop, itu di atas keyboard dah banyak helaian rambut. Wuaahhhh..udah botak gini masa makin botak? Umur kepala 3 aja masih jauh, makin bermutu aja deh gue alias bermuka tua.

Akibat keparnoan itu, akhirnya pergi ke supermarket, datang-datang langsung menuju bagian shampoo sama perawatan rambut. Langsung kalap, segala jenis pengobatan rambut rontok dibaca satu-satu. Akhirnya terbelilah tiga botol Neril paket dari shampoo, conditioner, plus hair tonic. Gue dah gak peduli berapa harganya, yang penting hajar lah. Masukin ke keranjang belanjaan.

Dengan bangga kami persembahkan:


Langsung dah malam itu juga gue mencoba ketiga produk itu. Untuk sementara bisa mengobati keparnoan gue..Oh no, jangan rontok lagi donk.....