Sunday, May 18, 2008

Pemborosan Hanya untuk Sebuah Ritual Demokrasi

Akhir-akhir ini semakin banyaknya iklan-iklan bernuansa politik bermunculan di berbagai media, baik media cetak, televisi hingga spanduk, baliho dan billboard di berbagai sudut kota. Tentunya dalam iklan tersebut bukan menampilkan model berparas cantik atau seorang aktor yang ganteng, tapi para politisi yang mencoba menjaga popularitasnya untuk menuju kompetisi politik yang akan diikutinya.

Misalkan saja Sutrisno Bachir, Ketua Umum PAN, yang wajahnya banyak menghiasi berbagai media. Dengan slogan “Hidup adalah Perbuatan” seperti mengutip Chairil Anwar. Sutrisno hingga saat ini memang belum menunjukkan perbuatan riil dalam kebangsaan ini seperti apa. Tapi, seperti yang diberitakan majalah Tempo, Ia sudah menghabiskan Rp 20 miliar untuk mendongkrak popularitasnya tersebut. Hal itu sungguh merupakan sebuah "Perbuatan" dengan pengeluaran yang sangat besar. Adalah wajar apabila majalah Tempo memplesetkan slogan yang diusungnya itu menjadi “Hidup adalah Beriklan.”

Ada pun Wiranto, dengan partai barunya Partai Hanura juga mulai melakukan usaha menjaga popularitasnya dengan embel-embel sebagai himbauan dari seorang tokoh nasional dengan mengedepankan usaha memberantas kemiskinan di Indonesia. Namun, mungkin dari sekian dana yang terhabiskan, saya tidak tahu persis apakah porsi untuk benar-benar membantu masyarakat miskin lebih besar dari sekedar untuk mendongkrak popularitasnya. Tidak hanya beriklan di media massa, Wiranto pun mengadakan sayembara dengan imbalan hadiah hingga puluhan juta rupiah.

Satu lagi adalah Prabowo, sebagai Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sering muncul di Televisi untuk sekedar menghimbau kita untuk membeli produk-produk pertanian hasil dalam negeri. Hitung saja berapa dana yang mesti dikeluarkan untuk beriklan di televisi bila tarif iklan pada waktu tayang pukul 17.00-20.00 WIB harus mengeluarkan biaya Rp 40 juta hingga Rp 60 juta per menit. Bayangkan saja apabila dana tersebut digunakan untuk membantu petani dalam penyediaan bibit, benih, ketersediaan pupuk, dan perbaikan sarana pendukung petani lainnya. Saya rasa, dana yang dihabiskan beriklan untuk sekedar menghimbau kita untuk membeli produk pertanian dalam negeri akan terasa ironis melihat sektor pertanian kita yang semakin kalah kualitasnya dengan produk-produk pertanian impor. Apalagi negara-negara maju memberikan subsidi yang sangat besar pada sektor pertaniannya dibandingkan kita.

Demokrasi memang mahal dan juga boros secara material dan bahkan sosial. Apabila diakumulasi dari berbagai ritual demokrasi mulai dari Pilkada yang telah berlangsung di Indonesia dan juga kegiatan-kegiatan persiapan menuju Pemilu 2009 saya tidak bisa membayangkan seberapa besar dana yang telah dihabiskan. Mungkin tak masalah apabila dana yang dipakai adalah dana halal. Tapi akan sangat tidak dibenarkan dan alangkah tidak bermoralnya apabila dana yang digunakan untuk mendanai kegiatan politik berasal dari uang rakyat melalui cara-cara "tak sepantasnya." Dan alangkah ironisnya, dana yang besar tersebut hanya dihabiskan untuk sebuah ritual politik dan upaya menggebrak popularitas, namun sedikit efek multiplier-nya terhadap kesejahteraan rakyat.

4 comments:

infogue said...

Artikel di Blog ini bagus dan berguna bagi para pembaca.Anda bisa lebih mempromosikan artikel anda di www.infogue.com dan jadikan artikel anda topik yang terbaik bagi para pembaca di seluruh Indonesia.Telah tersedia plugin/widget.Kirim artikel dan vote yang terintegrasi dengan instalasi mudah dan singkat.Salam Blogger!!!

http://politik.infogue.com/
http://politik.infogue.com/pemborosan_hanya_untuk_sebuah_ritual_demokrasi

Bagus Arya Wirapati said...

Sepakat sekali bung gaff!!

Uda gw pikirkan dari dahulu kala, semenjak mata gw mengenai politik di Indonesia terbuka.

DEMOKRASI DI INDONESIA SANGATLAH MAHAL.

Lebih buruk lagi, tidak seluruh lapisan masyarakat menikmatinya. Hanya orang2 yg berkepntingan saja.

Padahal, pesta demokrasi di Indonesia ini banyak membawa dampak yang berbahaya, seperti kenaikan harga karena tingginya permintaan akan uang.

Akan tetapi, pada akhirnya pesta demokrasi ini tidak banyak bermanfaat.

Apakah pantas kita membesar2kan pesta demokrasi kita ini sementara negara kita belum maju, bahkan tergolong menderita?

Gaffari said...

Itu dia Roy..saya rasa bangsa ini seringkali menghabiskan duit hanya untuk kegiatan yang sifatnya seremonial..bukan substansial....

Bagus Arya Wirapati said...

Sepakat sekali bung gaff!!