Tuesday, May 27, 2008

Petronas VS Pertamina


Gambar di atas adalah gedung Petronas di Malaysia, dan Gedung Pertamina di Lapangan Banteng Jakarta Pusat. Dari melihat bentuk gedungnya saja, sepertinya sudah cukup berbicara banyak bagaimana kiprah kedua perusahaan minyak itu saat ini.

Malaysia memang dahulu banyak belajar dari Indonesia bagaimana mengelola perusahaan minyak dengan baik. Dan pelajaran itu sepertinya sungguh-sungguh dijalankan Malaysia dengan baik. Petronas kini menjadi perusahaan minyak kelas dunia dengan keuntungan USD 51 miliar atau Rp 459 triliun pada 2007. Porsi 65 persen keuntungan digunakan untuk membayar pajak dan dividen, sisanya tentu untuk diinvestasikan kembali.

Lalu, bagaimana dengan Pertamina? Rasanya saya bingung dengan kondisi industri perminyakan dan gas di negeri ini. Dengan berbagai masalah yang terjadi, sepertinya persoalan menyangkut sektor ini bagaikan benang kusut yang sulit untuk diuraikan kembali. Kondisi di mana Indonesia yang kini menjadi net-importir minyak, lifting produksi minyak yang terus menurun, konversi minyak tanah ke gas yang dihadapkan justru kelangkaan tabung gas di mana-mana, dan berbagai hal lainnya.

Mohd. Hassan Marican, Kepala Eksekutif Syarikat Petronas dalam wawancara oleh Tempo mengenai bagaimana Petronas bisa menjadi perusahaan kelas dunia menjawab dengan singkat, “Kami didirikan sebagai entitas komersial. Karena itu kami harus berkompetisi.” Mungkin jawabannya singkat, tapi itu berarti sangat dalam melihat kondisi yang terjadi di negeri kita. Yaitu, sudahkah perusahaan minyak kita mengedepankan profesionalisme dan berdiri sebagai entitas komersil dengan baik? Apakah benar tidak ada aktivitas rente ekonomi di dalamnya? Apakah benar tidak ada pengaruh politik dalam kebijakan perusahaannya?

Memang banyak pertanyaan belum atau mungkin tidak akan pernah terjawab mengenai hal ini. Mungkin sambil merenungkan jawabannya, bolehlah bermimpi di suatu saat nanti, kita punya gedung semegah gedung Petronas di Malaysia.

2 comments:

Bagus Arya Wirapati said...

Ada satuhal yang luput dari pandangan kita semua, terutama para demonstran.

Bahwa kenaikan harga BBM adalah fenomena yang sudah tidak bisa dicegah lagi, dan hanya bisa diminimalisir akibatnya saja.

Dan yang kedua adalah bahwa Indonesia telah menjadi negara penghasil minyak mentah selama puluhan tahun tanpa memiliki kilang minyak sendiri.

Terutama di kasus tahun 2005 lalu, di mana pemerintah mnaikkan harga BM juga. Tapi apa tindak lanjut pemerintah selain pemberian BLT? Tidak ada.

Seharusnya selama 3 tahun jeda tersebut pemerintah bisa membuat kilang minyak atau infrastruktur lainnya. Sehingga kondisi Indonesia sebagai net importir bisa dicegah.

Dan tentunya dengan demikian pertamina bisa memperoleh keuntungan yang lebih besar karena sekarang sudah bisa mengolah kminyaknya sendiri.

Harusnya hal itulah yang didemo mahasiswa.

Yuyus said...

Pak Gaffari, mohon saya kutip yah di blog saya postingannya