Thursday, January 22, 2009

Sosok Kepemimpinan

Memimpin suatu organisasi atau lembaga mungkin seperti yang diibaratkan oleh John C. Maxwell, layaknya menakhodai suatu kapal dalam mengarungi lautan samudera luas. Menurutnya, siapa saja dapat memegang kendali kemudinya, namun hanya benar-benar pemimpinlah yang mampu memetakan jalan, dan mengendalikan di tengah derasnya arus ombak samudra.

Terkadang kita seringkali melihat pemimpin yang ada layaknya hanya mampu memegang kemudi kapal, namun tak mampu menjelaskan secara jelas kemana arah yang akan dituju. Perangkat apa yang mesti digunakan dan bagaimana memetakan bahaya yang mungkin dihadapi. Bisa dibayangkan, di tengah samudera luas, mengenai arah dan tujuan adalah hal penting. Para awak kapal dengan tanpa mengetahui arah dan tujuannya, hanya akan hidup terombang-ambing oleh ombak dari berbagai arah dengan rasa ketidakpastian dan perasaan yang tak menentu. Ataupun pada akhirnya hidup hanya mengalir mengikuti arah angin dan deruan serta hantaman ombak. Labuhan pengharapan pun bukan berdasarkan apa yang sudah ditentukan di awal, namun hanya berdasarkan nasib saja.

Begitupula ketika badai, seorang yang memang pemimpin, tentu saja tidak akan larut akan kepanikan dengan situasi yang dihadapi. Namun tetap berdiri tegap, sambil memberikan komando, petunjuk, dan instruksi apa yang harus dilakukan awak kapalnya. Entah menarik atau menurukan layar, menarik atau menurunkan jangkar, menambah atau mengurangi kecepatan kapal, atau menginstruksikan para awaknya agar tetap tenang dan berlindung pada tempat yang aman dari badai. Andaikan saja seorang pemimpin itu ikut panik dalam kondisi tersebut, tentu saja para awak hanya akan melakukan penyelamatan tanpa koordinasi yang jelas. Ada yang berusaha menarik layar, namun sebagian lain malah berusaha menurunkan layar. Atau mungkin ada yang berusaha menurunkan kecepatan kapal, namun sebagian lainnya malah berfikir bahwa saat itulah waktu yang tepat untuk meningkatkan kecepatan untuk menghindar dari serangan badai. Lebih buruk lagi, jika ada sebagian awak yang berusaha mati-matian menjaga keseimbangan kapal, namun sebagian lainnya malah berusaha menurunkan sekoci kapal untuk menyelamatkan diri sambil berfikir bahwa biarkanlah kapal tersebut tenggelam.

Ibarat inilah menunjukkan bagaimana sosok sebuah kepemimpinan merupakan hal penting, bukan hanya sebagai ikon, namun sebagai figur yang visioner, mampu menyusun langkah strategis untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Selain itu, mampu berfikir cepat terhadap langkah-langkah apa yang harus diambil di tengah kegentingan, mampu hadir sebagai sosok yang mampu menyatukan para anak buahnya, dan mampu menyamakan persepsi dan frekuensi pemikiran.

Akankah hari-hari ini dan hari-hari ke depan kita akan menemukan sosok kepemimpinan yang tidak hanya berupa simbol, bukan pula pemimpin dalam hanya kegiatan ritual dan selebrasi, dan bukan pula hanya melakukan hal ini-itu yang tidak esensial. Namun kita dapat menemukan pemimpin yang mampu mengharu-birukan situasi, dan kita pun akan berada di belakangnya mendukung dengan penuh senyuman terhadap jejak-jekak langkah kita untuk mencapai tujuan dan harapan yang kita impikan. Semoga.

No comments: