Thursday, January 22, 2009

Langkah SBY yang Terselamatkan

Hari-hari ke depan merupakan langkah yang terbuka lebar bagi SBY untuk terpilih kembali menjadi presiden di Pemilu 2009 ini. Bagaimana tidak, setelah di awal pemerintahannya dihadapi peningkatan harga minyak internasional yang memaksanya untuk mengambil tindakan tidak populis dalam meningkatkan harga BBM. Belum lagi, berbagai bencana alam yang besar menimpa negeri ini membuat energi awal pemerintahannya ini pun juga tersedot pada upaya penanganan bencana tersebut.

Efek peningkatan harga BBM baik di 2005 maupun di pertengahan 2008 cukup menjadi senjata ampuh bagi lawan politiknya yang menjadikan figur SBY sebagai pemimpin yang kurang pro terhadap rakyat miskin. Mau tidak mau, peningkatan harga BBM memicu peningkatan harga komoditas lainnya, terutama makanan pokok yang secara dominan menghabiskan pendapatan bagi kalangan menengah ke bawah.

Megawati yang sebelumnya giat bermanuver akan memperjuangkan terpenuhinya kebutuhan rakyat yang murah dan mencemooh kebijakan tidak populis SBY tentu saat ini sedang duduk termangu, sambil memikirkan kembali isu-isu apa saja yang masih menarik untuk dijual. Bagaimanapun, isu mengenai pemenuhan perut rakyat merupakan isu santer dan seksi untuk terus dibicarakan dan digaungkan, meski kadang hanya “hangat-hangat tahi ayam,”

Krisis keuangan global pun meski episentrumnya di Amerika Serikat, namun terasa pula dampaknya di negeri ini. Harga saham di bursa anjlok, rupiah terdepresiasi, dan laju pertumbuhan ekspor pun tertekan seiring penurunan permintaan dunia. Dibalik krisis ini, ternyata berdampak pula terhadap iklim politik di negeri ini. Sebelumnya, banyak sekali wacana bahwa saat ini adalah saatnya para pemimpin muda maju dalam kancah kepemimpinan negeri ini. Beberapa orang mulai ramai di berbagai media, sekali dua kali muncul menyambangi berbagai forum sambil asyik berdialektika bahwa kompetensi tidak bergantung pada usia.

Krisis keuangan global tersebut juga ternyata menyontak hilangnya wacana pemimpin muda yang ramai itu. Hal ini bisa terlihat bahwa figur muda, belum tentu juga independen terhadap donor yang mendanainya. Terlihat mana yang memang independen baik dari pemikiran maupun dalam pendanaan politiknya. Sejumlah perusahaan banyak yang tergerus baik aset maupun modalnya seiring dengan anjlok harga sahamnya. Perusahaan-perusahaan yang ada tentu saja berfikir dua kali menggelontorkan sejumlah “dana” hanya untuk membiayai para penggiat politik itu, lebih baik memikirkan perusahaannya di tengah keterpurukan finansial. Alhasil, kembali sepi forum-forum dan centang perenang iklan di sejumalah media massa mengenai figur pemimpin muda, hanya tinggal satu-dua saja yang masih mampu bertahan sambil mengusung hak petani dan keunggulan produk pertanian Indonesia.

Kalau begitu, silahkan SBY, bola kembali di tangan anda, silahkan lanjutkan langkah-langkah politik anda yang sudah terbuka. Saya yang hanya rakyat jelata, hanya bisa menonton dan sesekali mengomentari saja.

No comments: