Saturday, January 9, 2010

Apa Kita Kembali Seperti Zaman Orde Baru?

Setelah era reformasi bergulir pada tahun 1998, Indonesia merasakan demokrasi sebenarnya, ketika setiap orang bebas mengeluarkan pendapatnya, berorganisasi dengan berbagai keunikannya, dan bergulirnya pemilihan umum dengan melibatkan beragam partai serta partisipasi masyarakat yang lebih luas. Pendulum kebebasan itu mulai bergeser ke kanan, dari sebelumnya yang terbujur kaku di sebelah kiri, terbungkam oleh tangan penguasa. Namun apakah kebebasan tersebut akan terus menerus bergulir pada pendulum di sebelah kanan, atau penguasa saat ini mulai kembali ingin menggesernya ke kiri?

Berbagai macam bentuk dan cara penguasa bertindak laku atas nama "stabilitas" sepertinya mulai kembali menyerbakkan bebauan kayu Cendana, masa stabilitas gaya Orde Baru. Siapapun saat itu bisa dicap subversif ataupun tertuduh berbuat tindakan makar jika tidak sejalan dengan arah penguasa. Tak bedanya dengan orde lama, tak sejalan dengan penguasa adalah kontra-revolusioner, meskipun kadang tak semua mengerti apa maksud dari revolusioner itu sendiri. Rovolusi dan stabilitas menjadi hal absurd, seperti sebuah ayat suci yang mesti dipegang teguh.

Berita mengenai pelarangan beredarnya beberapa buku kembali muncul. Entah mengapa hal tersebut kembali mengulangi masa-masa sebelumnya. Padahal buku hadir untuk membuka wawasan manusia agar memiliki pandangan terhadap kehidupan yang lebih luas. Jika buku dianggap menghadirkan jalan cerita yang dianggap salah, maka biarlah, dan biarkan seiring dengan jalannya waktu ada penulis lain yang mengungkapkan sisi lain dari sebuah hal sama dengan alternatif buku lain. Seorang intelektual, mestinya juga membuka ruang untuk melihat sudut pandang yang lain, dan soal mau percaya atau mengikuti yang mana itu kembali pada pilihannya.

Para founding fathers kita terdahulu seperti Soekarno-Hatta, adalah pribadi-pribadi yang rajin membaca buku. Pemikiran-pemikiran mereka terhadap kebangsaan, sosial, politik, maupun ekonomi tak lepas dari buku-buku yang mereka baca. Terkadang ketika membaca mengenai pemikiran-pemikiran mereka, apabila ditinjau lebih dalam sebenarnya tak sepenuhnya orisinil. Banyak juga dapat kita temukan apa yang diutarakan pada berbagai buku-buku barat yang beredar. Intinya, mereka mampu meramu dari beragam pemikiran yang ada di dunia dalam konteks ke-Indonesia-an.

Pelarangan buku hanya akan menyebabkan masyarakat mempunyai perspektif sempit akan sebuah hal. Tak ada alternatif pandangan lain yang mampu memperbesar kacamata pemikirannya. Saya jadi teringat, ketika reformasi bergulir, para penjual buku mulai kembali berani menjual buku-buku kiri, Marxisme, buku novel Pramudya, dll, serta berbagai hal yang selama orde baru dilarang. Gayung pun bersambut, masyarakat antusias menyambut kehadiran buku-buku tersebut. Mungkin penasaran ingin mengetahui isi buku tersebut mengapa hingga dilarang oleh Orde Baru. Lalu, apakah sebodoh itu ketika seseorang membaca buku Karl Marx, kemudian dia menjadi fanatik Marxisme? Membaca buku tentang Komunisme, kemudian menjadi komunis? Saya rasa tidak. Itu tergantung dengan individu masing-masing. Justru orang yang menjadikan satu buku menjadi acuan kebenaran mutlak adalah hal yang salah, terkecuali pada kitab suci. Buku sebenarnya hanya menyediakan ruang terbatas bagi penulisnya untuk merangkaikan pemikirannya, ruang pemikiran lain bisa ditemukan pada buku lain, dan seterusnya. Bahkan kitab sucipun memerlukan kitab-kitab lain yang mampu menjelaskan bagaimana membumikan kalam Tuhan dalam realitas kehidupan.

Sekali lagi, bagi saya pelarangan peredaran buku adalah SALAH.

Mungkin ada kutipan dari Bung Hatta yang seharusnya menginspirasi penguasa untuk tidak membredel buku:
"Dengan buku, kau boleh memenjarakanku di mana saja.
Karena dengan buku, aku bebas!"

2 comments:

Anonymous said...

Good brief and this mail helped me alot in my college assignement. Thank you for your information.

Anonymous said...

good read, post more!