Monday, September 8, 2008

Kebijakan Instan, buah Kecerobohan Sang Pembisik Istana

Well, akhir-akhir ini ada saja kejadian yang saya rasa konyol, apalagi hal tersebut terkait dengan orang di lingkaran satu istana negara. Hal pertama adalah kisruh adanya Blue-Energy, di mana air bisa sekonyong-konyong berubah menjadi bahan bakar. Hasil usaha penelitian prematur yang keburu dipublikasikan pun berbuah malu bagi pihak istana di mata publik, toh yang mengembangkan adalah ternyata penipu besar.

Sekarang ada lagi mengenai bibit padi ”unggul” Supertoy, yang ”konon” bisa panen 2-3 kali dalam setahun. Nyatanya, setelah panen pertama yang ada hanyalah padi dengan gabah kopos alias gak ada bulir berasnya. Lagi-lagi pihak istana terseret, di mana hal itu merupakan hasil rekomendasi staf khusus alias ”pembisik” Presiden di lingkaran istana. Disinyalir ”sang pembisik” ternyata merupakan komisaris dari perusahaan yang mengembangkan Supertoy. Baca selengkapnya di sini.

Sepertinya, peran ”sang pembisik” jauh lebih mujarab dalam merekomendasikan sebuah kebijakan dibandingkan dengan lembaga yang sangat terkait dengan kebijakan tersebut seperti BPPT, LIPI, dan Departemen Pertanian. Proses penelitian dan eksperimen secara benar menjadi diabaikan. Lebih gila lagi, hal yang belum teruji benar tersebut sudah digaungkan dan bahkan dilaksanakan kepada publik.

Saya rasa negeri ini semakin berotak instan, segala hal inginnya instan, justru hasil varietas komoditi pertanian yang memang telah teruji banyak yang belum dikembangkan dengan optimal. Beberapa media yang pernah saya baca, bahkan para peneliti yang menemukan varietas komoditi unggulan malah menjual hasil risetnya ke negara lain, termasuk ke Thailand, mungkin di dalam negeri tidak ada apresiasi yang baik mengenai penelitian yang telah dilakukannya.

Ngomong-ngomong tentang Blue-Energy, sepertinya tidak perlu bergelar doktor untuk mempunyai ide seperti itu. Cerita saja waktu masa sma, ada kejadian lucu dari seorang teman yang meminjam motor dari salah satu rental motor di perumahannya. Rental motor tersebut mempersyaratkan apabila mengembalikan motor, tangki bensin harus terisi penuh seperti semula. Nah dasar teman saya dodol itu, karena nggak punya cukup duit lagi untuk isi bensin, alhasil sebelum dia kembalikan motornya ke rental, dia mampir di salah satu rumah, mengambil selang air dan mengisi tangki bensinnya dengan air, ternyata lumayan mendongkrak jarum indikator tangki bensin jauh dari titik E. Hauahahaha....nggak tau kelanjutan nasib motor itu gimana, yang penting teman saya itu berhasil mengembalikan motor itu dengan fine-fine saja dengan tangki bensin yang ”penuh”. Nah, secara nggak sadar toh teman saya itu sudah berfikir tentang Blue-Energy toh? Hmmm...makanya tak perlulah bergelar Doktor untuk hanya memikirkan hal itu..Ck..ck..ck..ck....

No comments: