Thursday, April 3, 2008

Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Asia Pasifik dan Komposisi Investasi Indonesia yang Tidak Berimbang

Pada tanggal 27 Maret 2008 lalu, United Nations of Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP), yaitu Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia-Pasifik meluncurkan buku Survey Sosial Ekonomi Asia-Pasifik 2008, yaitu suatu laporan rutin setiap tahun dalam menggambarkan fenomena pembangunan sosial ekonomi di region Asia-Pasifik.

Dalam laporan tersebut, UNESCAP memprediksi bahan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik tahun 2008 sebesar 7,8 persen, menurun dibandingkan pada tahun 2007 sebesar 8,2 persen. Walaupun demikian, prediksi ini masih merupakan sebuah kinerja ekonomi yang baik di tengah lingkungan kondisi eksternal ekonomi dunia yang semakin sulit. Kondisi serupa pula dialami region Asia Tenggara, yang diprediksikan hanya mengalami pertumbuhan ekonomi yang menurun dari 6,2 persen tahun 2007 menjadi 5,8 persen pada tahun 2008.

Penurunan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Asia-Pasifik tidak terlepas dari dampak krisis subprime mortgage di Amerika Serikat, dan hingga kini perhitungan kerugian yang dialami lemabaga keuangan masih terus bertambah besar. Beruntungnya, penurunan pertumbuhan ekonomi di Asia-Pasifik tidak menjadi terlalu parah dengan adanya Cina dan India yang saat ini menjadi lokomotif terbesar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut. Dengan demikian, dampak penurunan pertumbuhan yang ada dapat terkompensasi dengan pertumbuhan ekonomi Cina dan India yang terus menggeliat.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Prediksi yang dilakukan UNESCAP, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2008 diperkirakan sama dengan tahun 2007, yaitu sebesar 6,2 persen. Di tahun 2007, ekspor dan konsumsi rumah tangga dianggap menyelamatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah semakin meningkatnya harga minyak internasional dan barang-barang komoditi.

Investasi, secara umum, mengalami peningkatan pertumbuhan tiga kali lipat dari tahun 2006 sebesar 2,9 persen menjadi 8,7 persen di tahun 2007. Kemudian, dengan cadangan devisa Indonesia sebesar USD 56,9 miliar per Desember 2007 dan juga surplus neraca berjalan sebesar USD 11,5 miliar, dengan ini Indonesia masih dapat dikatakan dalam posisi yang aman menghadapi dampak yang mungkin terjadi akibat resesi ekonomi Amerika Serikat.

Komposisi Investasi di Indonesia

Pertumbuhan ekonomi Indonesia memang sudah dikatakan membaik dengan melebihi angka 6 persen, namun hal ini masih saja belum mampu membuat sektor riil dalam hal investasi untuk penyediaan lapangan kerja, dan penurunan jumlah pengangguran menunjukkan perbaikan secara signifikan.

Apabila kita melihat variabel Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB) dalam menunjukkan jumlah investasi di Indonesia, terlihat komposisi yang sangat tidak berimbang. Pada tahun 2007, sektor bangunan nilai persentase terhadap total PMTDB mendominasi sebesar 75,9 persen, sedangkan mesin dan peralatan sebesar 14,91 persen, dan transportasi hanya sebesar 5,43 persen. Dengan angka-angka tersebut menunjukkan bahwa tidak ada perubahan komposisi yang signifikan sejak Indonesia setelah krisis ekonomi 1997, yaitu di mana pada tahun 2000 persentase terhadap total PMTDB dari sektor bangunan mendominasi 76,05, mesin dan peralatan 13,34 persen, dan transportasi 7,07 persen.

Dengan demikian, angka tersebut menunjukkan bahwa kapasitas produksi dengan investasi pada mesin dan peralatan masih di bawah seperlima dari total PMTD. Pada satu sisi, peningkatan investasi dengan menunjukkan peningkatan pula pada mesin dan peralatan mengindikasikan adanya peningkatan kapasitas produksi di sektor industri manufaktur. Begitu pula pada transportasi, di mana hanya rata-rata 5-6 persen dari total PMTDB, menunjukkan bahwa dukungan infrastruktur dalam upaya peningkatan investasi terbilang masih sangat rendah. Padahal, transportasi seperti pembangunan jalan untuk mendukung akses produksi dan distribusi merupakan hal yang sangat penting, yaitu untuk mendukung proses penyaluran bahan baku produksi agar mudah tersalurkan dan juga mendukung kemudahan distribusi hasil-hasil produksi. Oleh karena itu, peran transportasi seharusnya juga harus menjadi bagian prioritas investasi yang perlu dipikirkan dalam upaya meningkatkan investasi di Indonesia.

Dengan sektor bangunan yang masih sangat mendominasi hampir tiga-per-empat dari total PMTDB hingga saat ini, tentu saja peningkatan investasi yang ada belum berdampak dengan meningkatnya kapasitas produksi sektor manufaktur secara keseluruhan dan juga penyerapan tenaga kerja yang besar. Apabila sektor bangunan atau konstruksi yang terjadi didominasi pada pembangunan konstruksi sipil dan pabrik, tentu merupakan hal yang baik dalam rangka untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Namun nyatanya, sektor bangunan dan konstruksi yang terjadi adalah banyak didominasi oleh sektor properti, pusat perbelanjaan moderen, perumahan, apartemen dan kondominium yang tentu lebih bias pada pusat perkotaan, serta tidak menunjukkan investasi yang akan meningkatkan kapasitas produksi manufaktur dalam jangka panjang.

Akan semakin terlihat bagaimana dominasi sektor bangunan dengan melihat analisa dan statistik perumahan yang ada, di mana diperkirakan pertambahan kebutuhan perumahan di Indonesia setiap tahun rata-rata sebesar 800.000 unit rumah baru, sedangkan apartemen baru di Jabotabek diperkirakan di tahun 2007 lalu terjadi pertambahan sebesar 40.000 unit apartemen. Ini menunjukkan peningkatan yang sangat pesat bila membandingkan dengan periode 1981-1999 dengan pertambahan rata-rata 25.000 unit apartemen.

Berdasarkan hal demikian, tentu saja semakin memperlihatkan bahwa pada komposisi pembentuk investasi di Indonesia sangatlah tidak berimbang, dan gejala ini sepertinya akan terus-menerus berlangsung selama tidak ada upaya optimal dalam rangka meningkatkan investasi di Indonesia dengan memperhatikan peningkatan kapasitas produksi serta dukungan infrastruktur yang semakin membaik.

Akan sangatlah beresiko apabila perumbuhan ekonomi Indonesia terus-menerus didorong oleh peningkatan konsumsi yang lebih bergantung dengan kapasitas produksi yang sudah ada, dan peningkatan ekspor yang lebih didorong oleh peningkatan harga komoditi internasional. Semua hal tersebut adalah bersifat jangka pendek dan tidak memberikan jaminan akan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat secara berkelanjutan disertai peningkatan lapangan kerja dan penurunan jumlah pengangguran secara signifikan.

Dengan ini, diperlukanlah berbagai upaya yang sungguh-sungguh bagi pemerintah dan dunia usaha dengan tidak hanya memikirkan bagaimana cara meningkatkan investasi saja, namun juga berupaya membuat komposisi pembentuk investasi di dalamnya menjadi lebih berimbang. Dengan ini, ke depan, perekonomian Indonesia tidak hanya mampu bertahan di tengah terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi yang melanda Asia-Pasifik, namun juga mampu menunjukkan angka pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

No comments: