Monday, April 7, 2008

Makan Enak Dikala Banyak Orang Hidup Susah

Memang tak pantas untuk bercerita hal ini di saat banyak masyarakat yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Naiknya harga beras, minyak goreng, minyak tanah, langkanya persediaan elpiji, belum lagi gula pasir, dan juga menurunnya harga jual beras dan gabah akibat gagal panen yang terjadi.

Saya mau bercerita, betapa lebarnya jarak standar hidup kelompok masyarakat satu dengan kelompok masyarakat lainnya. Kelompok yang satu, harus rela makan nasi aking ataupun bahkan ada yang mati akibat kelaparan.

Hari minggu lalu saya seperti ada di belahan dunia yang lain, bisa makan makanan yang bisa dikatakan sangatlah mewah. Padahal saya hidup di tanah, bumi, dan tempat pijakan yang sama bagi rakyat yang lapar itu, Indonesia, sebuah negeri yang menyisakan banyak kontradiksi kehidupan.
Pagi jam 11.00, hari-hari yang kontradiktif dengan keadaan bangsa ini dimulai. Saya bisa sarapan dengan roti bakar plus secangkir kopi panas di Food Central, lantai P1, Pacific Place Sudirman. Saya pun baru tahu kalau ada tempat makan yang murah di tempat itu, konsepnya mirip Red Pepper di Plaza Indonesia, yang menyuguhkan makanan jajanan yang biasa kita jumpai namun tentu dengan harga yang lebih mahal dari biasanya, namun jauh lebih murah dari berbagai tempat makan di Pacific Place.

Setelah itu, pukul 12.00, saya ke Ballroom Ritz-Carlton Hotel, memenuhi undangan pameran pendidikan Inggris, dan talkshow seputar dunia blogger. Beruntung sebagai bagian 100 undangan pertama, jadi bisa dapet akses untuk menikmati makan siang di situ.
Makanan kali ini cukup mewah, 2 potong sirloin, kentang rebus, pasta, dan lamb. Hebatnya lamb-nya dimasak istimewa, lebih enak dibanding lamb yang pernah saya makan di Novotel, Mangga Dua Square. Sesekali, tenggorokan pun disegarkan dengan jus jambu merah. Makan siang itu saya tutup dengan penutup sepotong strawberry cheese cake, apple pie, dan brownies....

Hmmm...Disela-sela selesai makan itu, sempat saya tercenung sejenak, "God thanks, gue masih bisa makan-makan kayak gini...betapa tidak beruntungnya sodara-sodara saya di luar sana." Sedangkan petinggi-petingginya malah lebih asyik nonton Ayat-Ayat Cinta, Bikin Album Kumpulan Lagu, maklum Pemilu tinggal setahun lagi, mereka asyik tebar pesona, tapi lupa tebar pesona dengan rakyat yang lapar. Mungkin mereka berfikir, meyakinkan rakyat yang lapar lebih mudah dari pada orang perkotaan yang lebih maju. Cukup serangan fajar dengan beberapa bungkus mie instan pun cukup untuk mendulang suara di hari pemilihan nanti.

Masih ingat akan nasihat-nasihat dalam ingatan:
Berhentilah makan sebelum kenyang (Well, saya makan memang jarang kenyang, punya selera makan pun susah, sejak kecil saya memang susah makan, prinsip saya: makan supaya tidak sakit..itu saja).

Tidak berkah bagi kamu makan makanan secara berlebihan di kala tetanggamu meringis karena kelaparan (Ini riwayat aslinya saya lupa..mungkin kata nyokap katanya lupa semua apa yang diajarin guru ngaji karena makin lama saya makin sekuler aja...He3...)

2 comments:

Martha-Happy said...

kurang ajar,baca tulisan ini dan denger cerita icha gw jadi ngiler. baru aja gw bilang ama icha gw ngidam makan enak, tapi orang rumah bepergian mulu, duit di kantong nipis, terakhir makan seafood semalem malah badan gw alergi, bengkak semua.

Gaffari said...

Wah akhir2 ini gw malah ada undangan makan terus hep, sayang icha suka jaim gt kalo diajak. Kayak orang yg gak mau, padahal ngiler banget tuh pastinya.

Masak ada undangan makan di Kings Palace aja dia gak mau, trus di Ta Wan juga gak mau. Sayang sekali Saudara-Saudara....