Tuesday, April 8, 2008

Film Fitna: Pemerintah Tidak Perlu Se-Reaktif Itu

Mengomentari tulisan di blog sebelah mengenai seputar pemblokiran situs-situs yang memberikan link akses Film FITNA diblokir oleh pemerintah.

Note: Apalah artinya maksud hati mengeliminasi penyebaran film yang menyiratkan fitnah atau hal menyinggung agama, kalau pada akhirnya pemerintah, terutama depkominfo, sibuk memikirkan hal kurang substansial. Lebih baik memikirkan bagaimana semakin banyak orang di Indonesia melek teknologi, bisa akses internet dengan murah, tersedianya pendukung koneksi internet yang bagus, jaringan hot spot gratis, dan lain sebagainya.

Sayang juga kalo anggaran Depkominfo dipakai untuk sekedar tindakan yang bersifat reaktif.

Lihat diskusi Menkominfo dengan para blogger di sini. Sepertinya masih banyak jalan atau solusi yang bisa diambil, bukan melalui pemblokiran secara membabi-buta.

Saya rasa Youtube, Multiply, Myspace, dll tidak selamanya berdampak negatif, banyak juga sisi positifnya. Bahan-bahan materi kuliah ekonomi dari dosen-dosen ekonomi ternama di universitas luar negeri juga banyak yang bisa diakses dari sana.

3 comments:

Bagus Arya Wirapati said...

Ih sepakat banget gw kak!

Orang2 kita ini masih belum bisa memisahkan kebijakan2 dengan hal berbau agama. Misalnya, kasus film fitna ini. Daripada ngurusin blokir sana-sini mending mikirin gmana caranya ngembangin tekonologi di Indonesia dan memeratakannya di seluruh lapisan masyarakat.

Biarin aja tuh film. Walaupun dia menghina, toh pada akhirnya masyarakat yg akan menentukan bener gaknya. Tergantung kepervayaan masing2. Diblokir pun orang akan mencari cara untuk membukanya. Justru karena kita terlalu mebesar2kan masalah ini jadinya semua orang penasaran pengen ngelyat.

Jdnya sebetulnya waktu yg dihabiskan untuk film fitna itu sebetulnya waktu produktif yang terbuang sia-sia. Bisa digunakan untuk hal lain yg lebih berguna.

Smile Eternally,
Wirapati...

Alamsyah said...

Setuju dengan pendapat Kak Gaffar dan Kak Wirapati ini..
TIndakan di atas justru semakin menambah buruk citra Islam itu sendiri (sama ketika ada gambar nabi yang diidentikkan dengan bom)
bukannya saia kurang beriman atau kurang beragama..
tapi saya inget satu hal,
dulu waktu nabi dilempari kotoran manusia waktu solat, dan sahbat mau membunuh itu orang, nabi cuman tersenyum dan beliau terus bersabar..
lepas dari beliau itu nabi atau bukan, tapi sebagai kapasitas beliau yang "uswatun hasanah", maka sikap umat muslim hanya perlu satu bersabar..
justru dengan terpancing amarah, umat islam semakin menjelek2kan mereka, dan semakin menambah buruk citra mereka yang terkenal anarkis di mata orang barat..

Gaffari said...

To Wirapati dan Alamsyah:
Karena kebetulan kalian berdua anak IE, mungkin bisa dilihat dari proses kebijakan di Indonesia yg tidak memperhatikan aspek forward looking dan exclusiveness.

Dalam artian, pemerintah cenderung membuat kebijakan yang reaktif dan lebih jangka pendek, seperti kasus pemblokiran situs2 yg memberikan akses Film Fitna. Padahal bnyk program jangka panjang yg terbengkalai, seperti memperbaiki kualitas SDM Indonesia agar lebih berpendidikan dan beradaptasi dgn teknologi tinggi.
Lebih parah lagi kalo tau dana yg keluar untuk memblokir situs2 itu oleh depkominfo menghabiskan Rp18 miliar.

Kemudian, kebijakan ini kurang eksklusif akibat hanya mendengarkan satu pihak ekstrim kanan. Alhasil tindakan yg dilakukan pemerintah menjadi sangat reaktif. Kalau pemerintah juga mendengarkan penduduk Islam yg lebih moderat tentu tidak akan se-reaktif itu.