Thursday, April 3, 2008

50 tahun Indonesia-Jepang dan Peluang Investasi Jepang di Indonesia

Hubungan bilateral antara Jepang dan Indonesia yang telah menapaki usia 50 tahun menyiratkan bahwa Jepang tidak hanya memiliki keterkaitan dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, namun juga sebuah hubungan yang telah diterjemahkan melalui peran Jepang yang cukup besar dalam perkembangan perdagangan, investasi, dan pembangunan di Indonesia.

Peran Jepang di Indonesia
Pasca krisis ekonomi, Jepang merupakan negara yang memberikan kontribusi terbesar dalam pinjaman luar negeri Indonesia. Pada tahun 2000 saja, saat itu pinjaman luar negeri Indonesia dari Jepang mencapai USD41,3 miliar. Secara bilateral, Jepang pada tahun sama berkontribusi sebesar 67,9 persen dari total pinjaman bilateral Indonesia. Hal ini sangatlah besar jika dibandingkan dengan Amerika Serikat yang hanya berkontribusi sebesar 6,2 persen dan Jerman 6,7 persen. Selain itu, Jepang juga turut memberikan kontribusi pinjaman luar negeri ke Indonesia melalui lembaga multilateral seperti IBRD dan Asian Development Bank.

Dari sisi perdagangan, peran Jepang terhadap Indonesia juga sangat penting. Pada tahun 1990 Jepang sudah mencatat kontribusi 39,4 persen dari total ekspor Indonesia, sedangkan pada sisi impor sebesar 23,6 persen.

Namun seiring perkembangan waktu, catatan mengenai dominasi peran Jepang di Indonesia pun semakin diwarnai persaingan ketat dengan negara-negara lain. Hal ini seiring dengan pemetaan pasar internasional yang berubah, terutama dengan munculnya Cina dan India sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi yang mengesankan, selain itu Indonesia juga mulai mendiversifikasi target dengan membidik pasar Uni Eropa.

Kendala Ekonomi Jepang
Jepang saat ini juga menghadapi kendala terkait dengan gejala pertumbuhan ekonomi dunia yang diprediksikan mengalami pelambatan. Ini bermula pada krisis kredit perumahan subprime mortgage di Amerika Serikat, yang kemudian secara tidak langsung memiliki dampak cukup besar terhadap perekonomian Jepang.

Hal ini terjadi mengingat keterkaitan ekonomi Jepang dengan Amerika Serikat sangatlah besar. Berdasarkan urutan negara-negara pemasok utama ke Jepang, per Januari-Juni 2007, Amerika Serikat menduduki posisi kedua terbesar (11,91 persen) setelah Cina pada urutan teratas (20,78 persen). Selain itu, semakin meningkatnya harga minyak internasional juga menjadi tekanan besar bagi Jepang yang tidak memiliki sumber daya migas domestik untuk mencukupi kebutuhan aktivitas ekonominya, di mana hal ini tentu menjadi sangat tergantung pada pasokan negara-negara penghasil minyak dan gas.

Peluang bagi Indonesia
Untuk menghadapi berbagai tantangan ekonomi tersebut, Jepang terus berupaya memelihara hubungan ekonomi dengan negara-negara lainnya selain Amerika Serikat, salah satunya adalah Indonesia menjadi sangat penting, di mana sebagai negara ASEAN yang menjadi importir terbesar ke Jepang. Indonesia berdasarkan sudut pandang Jepang, merupakan negara yang secara geopolitik dan strategis penting dalam penyediaan energi dan bahan baku lainnya.

Perjanjian kemitraan ekonomi Indonesia dan Jepang (Economic Partnership Agreement) yang baru saja ditandatangani tahun 2007 lalu menandakan secercah peluang tersendiri bagi Indonesia dalam upaya meningkatkan investasi dan perdagangan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih baik. Program kemitraan ini diperkirakan dapat menciptakan peluang bisnis mencapai USD65 miliar pada tahun 2010. Selain itu, diharapkan akan memberikan dampak positif pada peningkatan industri manufaktur di Indonesia dengan proses teknologi, kualitas produksi, standar produksi, dan penyediaan informasi pasar yang lebih baik.

Hambatan Ekonomi di Indonesia
Namun, pada kondisi iklim investasi Indonesia sendiri masih menyisakan pekerjaan yang masih banyak seiring masih belum terciptanya perbaikan infrastruktur, masih terjadinya ketidakpastian regulasi, pasar tenaga kerja yang cenderung kaku, dan koordinasi antara pemerintah dan swasta yang belum optimal.

Dengan demikian, keuntungan dari upaya kemitraan yang dihembuskan Jepang ke Indonesia menjadi akan sangat bergantung pada sejauh mana minat pelaku usaha untuk memanfaatkan moment tersebut, dan juga seberapa besar upaya pembangunan kapasitas (capacity building) dalam pelaksanaan berbagai kebijakan ekonomi seefektif mungkin.

Pemerintah Indonesia harus pro aktif dan terus-menerus melakukan upaya memperbaiki kepercayaan bisnis (business confidence) investor terhadap Indonesia. Apabila pemerintah Indonesia masih terus berputar-putar pada hal yang kurang substansial, terutama menjelang Pemilu 2009, tentu saja akan banyak momentum positif yang menjadi terlupakan, yaitu dalam hal perbaikan iklim investasi dan upaya mendorong sektor riil. Apabila demikian, seperti yang dikemukan sebelumnya, perayaan hubungan bilateral Indonesia-Jepang ke-50 dan upaya kemitraan ekonomi yang coba dibangun akan menjadi hanya sebatas ritual perayaan dan perjanjian di atas kertas. Dengan ini, bisa jadi Indonesia semakin kehilangan arah akan kondisi dunia yang semakin datar (the world is flat).

No comments: